BAB : 39

1129 Kata
Saat menunggu Reza membeli makanan, Zila duduk di kursi yang ada di samping tempat tidur Kinara. Baru juga beberapa menit, tiba-tiba ponselnya berdering. Buru-buru ia beranjak dari posisi duduknya, menuju meja yang adan di dekat sofa. Karena di sanalah benda pipih itu ia letakkan. Dahinya berkerut, saat melihat nama yang tertera. “Loh, Tante Tiara,” gumamnya saat mendapati mamanya Kinara lah yang meneleponnya. Berjalan keluar dari ruangan itu, perlahan kembali menutup pintu agar tak menimbulkan suara bising. Kemudian berjalan dan duduk di kursi yang berada tak jauh dari sana. Dan lagi, ada dua orang anak buah Darrel yang berjaga di depan pintu. “Hallo, Tante.” “Zila, kamu di mana?” “A-aku di rumah sakit, Tante.” “Tante udah bilang, kan, kabari Tante tentang kondisi Nara.” “Kinara udah melewati masa kritisnya, Tante. Tadi iya, kondisinya sempat mengkhawatirkan.” “Lalu?” ‘Dokter juga bilang kalau ...” “Kamu bisa keluar sekarang?” “Maksudnya, Tan?” “Om sama Tante ada di dekat parkiran rumah sakit. Tante mau bicara sama kamu.” “Tapi ...” “Nggak pake lama, ya. Kami tunggu.” Belum juga Zila mengeluarkan kata penolakan, tapi Tiara dengan seenaknya memutus percakapan begitu saja. Dengan langkah berat dan sedikit was-was, ia mengikuti perkataan Tiara. Sebelumnya, tentu saja ia memberikan pesan pada dua orang penjaga yang ada di depan pintu, untuk tak pergi kemana-mana. Alamat kepalanya bisa dipenggal oleh Darrel, jika terjadi sesuatu pada Kinara. Berjalan tergesa-gesa menuju posisi yang sudah dikatakan oleh Tiara. Entah apa yang akan dibicarakan wanita paruh baya itu padanya. Hanya saja, ia sedikit takut jika bertemu dengan orang tua dari sahabatnya itu. Bukan hanya sekarang, tapi dari dulu juga begitu. Karena mereka tipe yang memberikan banyak larangan pada Nara, termasuk pertemanan sekalipun. Apalagi sekarang, tentu saja mereka makin mengerikan. Dari kejauhan tampak Tiara duduk di sebuah kursi yang adi taman rumah sakit. tak sendiri, ada Marion juga. “Tante.” Belum bicara, tapi pandangan Tiara dan Marion yang terarah padanya saja seolah sudah memperkirakan seperti apa sikap mereka. “Zila, Tante sudah bilang, kan, tadi sore. Kalau ada kabar tentang Nara, kirim info ke kami. Tapi apa? Bahkan kamu nggak memberikan kabar apa-apa.” “Maaf, Tante. Aku lupa.” “Lupa, atau justru mendapat larangan dari Darrel?” tanya Marion menebak. “Aku beneran lupa, Om. Itu karena saking khawatirnya dengan keadaan Kinara, sampai-sampai aku lupa memberikan kabar pada Om dan Tante.” “Jadi, sekarang?” “Kondisi Kinara sudah membaik. Lebih tepatnya, dia sudah melewati masa kritis. Ya, meskipun sampai saat ini belum sadar, tapi itu sudah lumayan daripada sebelumnya.” ‘Dan?” “Kata dokter, ada kemungkinan di saat tersadar nanti, dia akan mengalami sebuah perasaan takut atau ... depressi,” ungkap Zila dengan kalimat akhir yang sedikit ia pelankan. Sumpah, ya. Setakut ini ia berhadapan dengan orang tua Nara. Apalagi setelah kejadian yang menimpa sobatnya itu. “Apa?!” “I-iya, Tante. Dokter sudah memeriksa kondisi Nara. Dia seolah memendam banyak masalah, hingga perasaan itu hanya terpendam di pikirannya. Efeknya, justru menyerang otaknya sendiri.” Tiara menatap Zila dengan tatapan dingin. “Kamu sedang berpikir kalau Om dan Tante yang jadi penyebab dia mengalami hal itu, Zila?” Raut wajah Zila sudah terlihat tak baik-baik saja. “Bu-bukan, Tante. Semua itu bukan aku yang menjelaskan, tapi justru aku menerima semua itu dari penjelasan dokter.” “Jangan bilang kalau kamu memberikan keterangan palsu pada dokter tentang perlakuan kami pada Nara?” tanya Marion menebak. “Enggak, Om. Enggak sama sekali.” “Zila! Kamu dan Kinara itu udah temenan dari kecil. Bahkan kami nggak mempermasalahkan itu.” “Tante, jangan lupa kalau Tante dan Om nggak pernah biarin Nara bebas main sama aku ataupun Faye. Temenan, sahabatan, bahkan itu cuman bisa terjadi saat di sekolah dan sekarang di kampus. Selain itu, mana ada lagi. Om sama Tante terlalu mengekang dia untuk melakukan sesuatu.” Tiara tersenyum sinis, mendengar penjelasan Zila. “Nah, terbukti, kan. Terbukti kalau memang kamu yang spill sikap kami pada dokter. Itu artinya kamu berusaha menjauhkan anak dengan orang tuanya, Zila!” “Aku nggak pernah lakuin itu.” “Jangan-jangan kamu juga sudah memberikan info buruk tentang kami pada Darrel, ya?” “Apalagi itu. Aku bahkan belum pernah ketemu Darrel sebelumnya. Baru juga tadi,” bantah Zila. “Udah deh, Om sama Tante jangan membuat namaku ikutan jadi buruk dalam masalah ini. Aku nggak tahu apa-apa. Kinara adalah sahabatku, meskipun aku kesal sekalipun sama Om dan tante, tetap saja aku hormat. Anggap saja hanya sekadar rasa hormat pada orang yang jauh lebih tua.” “Anak ini benar-benar membawa pengaruh buruk pada Kinara!” Dengan emosi, Tiara malah dengan sengaja mendorong Zila hingga gadis itu jatuh ke jalanan. “Tante kok jahat banget, sih! Pantas saja dokter mengatakan hal itu, karena buktinya dia memang tersiksa selama ini!” Nyebelin, ya. Berasa mau ia tampar saja. Sayangnya ia masih sadar diri, siapa Tiara. Yakali mau menampar balik orang yang justru lebih tua darinya. Zila kembali berdiri, berhadapan dengan Tiara. Telapak tangannya saja terasa perih karena goresan bebatuan. “Asal Tante tahu, ya ... Kinara itu dilindungi oleh Darrel. Jadi, udah deh ... jangan berniat membuat dia tertekan lagi. “Siapa Darrel yang bisa mengambil alih begitu saja.” Zila tersenyum sinis menanggapi perkataan Marion. “Siapa Darrel? Ayolah, Om ... bahkan Om sendiri mengakui kalau Darrel itu layaknya sebuah pohon uang yang seolah tak akan pernah punah. Jadi sekarang, tiba-tiba pendapat itu berbeda?” “Ternyata Nara menceritakan semuanya sama kamu?!” “Tentu saja. Kami kan memang teman baik.” Ia memang agak ngeri berhadapan dengan sepasang suami istri ini, hanya saja mereka seolah makin leluasa bertindak jika dirinya diam. Melawan dan terus membantah adalah jalan terbaik untuk membuat mereka ciut. Tiara yang kesal, hendak kembali melakukan tindak kekerasan pada Zila. Hanya saja tak terjadi karena Zila keburu menghindar dan kabur melarikan diri. Hanya bisa mengeram kesal, saat tak bisa melampiaskan rasanya itu. ‘Lihat, kan, apa yang kita rencanakan semuanya sia-sia!” ‘Bukan salahku. Kamu terlalu cepat mengambil tindakan. Harusnya perlahan tapi pasti. Ini malah membuat dan menciptakan masalah, sebelum mendapatkan hasil. Sekarang apalagi? Posisi kita sebagai orang tua, seolah sudah tak berlaku lagi. bahkan Darrel membawa kita ke ranah hukum pun, bisa dijamin akan membawa kita ke dalam jeruji besi.” “Jangan menakutiku!” “Bukan Menakuti, tapi memang itulah yang sepertinya akan kita hadapi. Tahu Darrel, kan. Bukan hanya lewat materi, bahkan kekuasaan yang dia miliki bisa membuat seseorang yang kuat sekalipun, bisa ciut.” Marion berlalu dari hadapan istrinya dan masuk mobil. Kesal, emosi ... semua bercampur aduk. Bisa-bisanya semua pengorbanan yang dilakukan, malah tak dapat apa-apa. Justru malah sebaliknya. Posisi keduanya malah seolah jadi penjahat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN