Ananda Rhea Prahadi Aroma parfum maskulin menyeruak di dalam hidungku. Aroma yang sama saat ia mengajakku jalan beberapa hari lalu. Kenapa dia harus sewangi ini sih? Padahal biasanya dia bau keringat dan Pantry. Tapi itu bukan satu-satunya hal yang penting saat ini. Kepalanya bersandar di bahu dengan tangan yang masih melingkar erat di pinggangku. Sementara tanganku, bertengger diantara lehernya. Aku tidak ingin ini berakhir. Karena ini terlalu nyaman untuk di akhiri. Tapi kami sedang berada di tempat yang bisa memicu pikiran negatif orang. Bagaimana jika ada yang memergoki kami dan berpikir kami sedang melakukan hal yang iya iya. Akan lebih fatal akibatnya. Dengan berat hati, aku melepaskan tautannya perlahan. Sepertinya dia juga enggan untuk menjauh. "Pulang yuk! Udah malem, lumayan

