Ananda Rhea Prahadi
Selesai makan sate sampe puas, aku dan Rehan bergegas pulang bahkan dengan keadaan perut yang belum sepenuhnya siap untuk berjalan. Kenapa? Ya karena disini sudah banyak orang yang ngantri untuk gantian tempat duduk. Dan ngobrol sambil dapet bisik bisik dari tetangga tuh nggak enak banget.
Jadi aku dan Rehan memutuskan untuk mencari tempat yang aman untuk ngobrol. Sebenernya aku nggak tahu, Rehan mau membawaku kemana. Aku hanya diam jadi penumpang yang baik di belakang.
"Rehan ..." teriakku dari belakang. Jenuh juga rasanya, hanya berdiam diri dan melihat kendaraan yang melewati kami. Lagipula Rehan sekarang aneh. Pertama kali dia mengantarku pulang, ia membawa motor bak pejuang kesiangan. Tapi kali ini, rasanya begitu lamban.
"Apa ..." teriaknya balik.
"Coba kasih tahu aku,"
"Kasih tahu apa?"
"Dari satu sampai sepuluh, kamu kasih aku nilai berapa."
"Satu ..."
Aku melongo donk, dia cuma bilang satu. Ini sebegitu jeleknya ya aku, atau gimana sih? sampe aku di kasih nilai cuma satu.
"Kok diem?" ia bertanya. Mungkin karena aku tak juga menanggapi jawabannya.
"Abisan kamu jahat. Masa aku cuma di kasih nilai satu."
"Ya soalnya kamu bukan milikku. Kalo ku kasih 10, mubazir. Keenakan orang lain."
What? Apa aku nggak salah dengar. Apa maksudnya. Kenapa jantungnya jadi deg degan nggak karuan gini. Sebenernya, jawaban dia nggak nyambung. Tapi satu kalimat saat "Kamu bukan milikku", itu terdengar ambigu. Apa sebenarnya Rehan mengharapkan aku jadi miliknya. Kenapa semua ini membuat kepalaku jadi pusing?
"Pegangan Da, aku mau ngebut."
Tanpa aba-aba bahkan belum sempat aku berpegangan, Rehan mempercepat laju motornya. Hampir saja aku akan jatuh. Padahal sebelumnya aku amat mengeluh, karena lajunya yang lamban. Atau jangan jangan dia grogi setelah mengatakan itu. Ini gila. Dia semakin nggak waras, atau justru aku yang makin tak waras karena terlalu banyak angan angan.
Aku nggak lagi bicara sampai Rehan membawaku ke sebuah bukit yang ternyata nggak kalah indah dari Puncak. Aku bahkan bisa melihat kerlap kerlip lampu rumah dan bangunan sejauh mata memandang karena hari mulai gelap. Kami nggak sendiri, ada beberapa orang di sisi lain.
"Bagus nggak tempatnya. Kali ini kamu pernah kesini nggak sama Allan?"
"Nggak semua tempat yang ku datangi harus selalu sama Allan."
"Jadi pernah kesini nggak?"
"Nggak pernah. Ini perdana loh, sama kamu."
Aku dan Rehan duduk di rerumputan pada samping motor. Meski mirip mirip Puncak, udara di sini nggak sedingin disana. Bedanya, nggak warung kopi yang bisa jadi tempat tongkrongan disini. Aku bisa melihat wajah Rehan dari jarak dekat. Sorot mata tajam yang biasa ia tunjukan hari ini redup.
Dengan melipat lutut, pandangannya lurus kedepan. Sementara aku lebih asik duduk selonjoran. Cukup lama kami hanya saling diam. Tak ada sepatah katapun yang keluar. Entah karena gugup, atau memang kami sama sama butuh ketenangan.
Malam kian gelap, cahaya remang remang dari lampu jalan, menjadi satu satunya sumber penerangan kami. Tarikan nafasnya berat. Hampir sama, seperti saat dia memelukku di pantry.
Semua terasa sunyi. Hanya ada suara jangkrik dan beberapa kendaraan yang lalu lalang. Kalau Rehan diem terus, mendingan aku pulang deh. Lama lama serem juga disini.
"Inget nggak, kapan kita pertama ketemu?"
Akhirnya, setelah sekian purnama ia bicara juga. Baik, mungkin aku berlebihan. Tapi sumpah lo. Nungguin dia ngomong itu, kaya kita kalau lagi naek angkot kosong. Suka di php'in antara mau buru-buru maju atau nggak.
"Inget kok, di kantin dapur dua kan?" jawabku dengan yakin. Tapi Rehan malah menggeleng.
"Bukan! Pertama kali, kita ketemu di pos security."
Rehan meraih tanganku, mengangkatnya ke atas, dan menunjukannya padaku.
"Jempol ini, kamu inget. Kita rebutan ngisi absen jempol."
Ah iya aku baru ingat. Pagi itu ada seorang pria yang absen berbarengan denganku, lalu sejak saat itu, akan selalu ada hal yang membuat kami bisa saling menyapa. Meski saling, artinya hanya aku yang menyapa. Kalau dia sih nggak perlu di tanya lagi. Cuek-cuek bebek.
"Ia melepaskan tanganku dan beralih menyentuh bibirku perlahan. Ini aneh, ada rasa sengatan listrik yang menjalar ke seluruh tubuh saat ia mengusapnya. Bukannya menolak atau menepis, aku justru membiarkan jemarinya terus berada disana.
"Bibir ini dengan polosnya minta aku buat nyender. Dengan sok tahunya dia bilang kalau wajahku ini penuh dengan kesedihan."
Lidahku kelu untuk ikut berucap, dalam cahaya yang nyaris padam Rehan hampir tak berkedip. Tubuhku tak bisa bergerak, karena hanyut dalam pandangannya. Apa yang ku lakukan, hatiku bergetar nggak karuan, bersamaan dengan detak jantung yang lebih cepat dari biasanya. Tangannya perlahan turun, dan berhenti di bahuku, mengusapnya perlahan.
Mengalirkan hawa panas di sekitar tubuhku yang di selimuti suhu dingin. Aku nggak bisa berkutik dari rasa nyaman ini. Pikiranku mulai buruk, tapi aku menginginkannya. Ehh tunggu pikiran buruk macam apa yang bisa ku pikirkan.
"Bahu ini minta aku untuk bersandar, tapi aku malah meminta lebih. Kamu kasih aku pelukan dan beberapa hari yang penuh keanehan. Tapi keanehan itu justru membuat aku suka. Kenapa kamu justru mendekat di saat semua orang menjauh Da?"
Rehan bertanya dalam suara yang lirih. Aku membalas tatapannya, meski aku tahu, bahwa aku tak sehebat itu. Haruskah ku jawab jujur. Tapi hari ini, moment ini, terasa begitu nyata. Apa salahnya jika aku jujur padanya.
"Karena mata kamu."
Rehan menurunkan tangannya dari bahuku. Aku ingin protes, tapi untuk apa?
"Mata? Mata ku?" ulangnya sekali lagi.
"Kamu punya sepasang mata coklat yang indah Han. Indah, tapi tajam. Misterius, entahlah aku juga nggak paham. Hanya saja, sejak saat itu. Saat aku bisa dengan leluasa liat mata itu. Aku jadi menginginkannya."
Tanganku tiba-tiba saja bergerak tanpa koordinasi dari otak. Benda itu menyentuh wajah Rehan perlahan, mengusap rahang tegangnya yang keras. Ini pertama kalinya aku begitu berani pada seorang lelaki. Yang bahkan belum genap satu bulan ku kenal.
Dia menyentuh tanganku yang berada di pipinya, matanya terpejam, seolah ingin meresapi tiap detik sentuhan kulit yang biasanya amat kubatasi.
"Tapi kamu nggak mengenalku Da, ada terlalu banyak masa lalu. Kamu benar Da, ada kesedihan di mata dan hatiku. Tapi hanya kamu yang menyadari itu. Well, lucu ya, kamu yang baru mengenalku, malah lebih tahu tentang aku, dibanding diriku sendiri."
Setiap kata yang terucap dari bibirnya, seolah ingin menyampaikan sesuatu. Akan tetapi ia menahannya. Rasanya aku ingin terus berada disisinya, menghapus lukanya, memberikan ruang untuk bersandar di hatiku. Apa yang ku lakukan. Pikiranku sudah terlalu jauh. Rehan membenarkan posisi duduk yang awalnya menyamping jadi berhadapan dengan ku. Kami berdua duduk bersila, saling menatap dalam kebisuan, sampai akhirnya ia menjatuhkan diri ke dalam pelukanku.
Ia memelukku erat, dan untuk sekali lagi, aku nggak merasa keberatan. Kali ini, aku justru reflek membalas pelukannya. Rasanya berbeda, jika dulu aku merasa degdegan nggak karuan. Kali ini, aku merasa nyaman dan malah enggan untuk melepasnya.