Hari Pertama Kerja

1064 Kata
Allan Rahardian "Aku di depan ya!" Satu chat singkat telah terkirim untuk memberi tahu pada Nanda bahwa aku sudah menunggunya. Ini hari pertama Nanda bekerja dan kebetulan berada dengan shift yang sama denganku. Masih pukul 10 menjelang siang dan absen berlaku paling lambat jam 11. Tak ada balasan dari gadis itu. Tapi dua ceklis biru menandakan pesanku telah dibacanya. Aku bersandar pada motor, menunggu tuan putri dari dalam gang. Beberapa warga yang lalu lalang, melihatku dengan seksama. Seperti aku ini seorang teroris, dan membuat risih. Mungkin mereka merasa heran, aku mengantarkan Nanda pulang beberapa kali dalam keadaan yang lumayan sepi, jadi hampir tak ada yang melihatku. Sedangkan hari ini, mungkin karena masih siang, masih banyak orang yang berkeliaran. Dari kejauhan aku menemukan sosoknya. Nanda tengah berjalan ke arahku. Langkahnya perlahan dan anggun karena menggunakan sepatu yang agak tinggi. Kemeja putih berlengan pendek, nampak serasi mencetak tubuhnya yang mungil berdampingan dengan rok hitam selutut. Rambutnya yang masih basah tergerai dengan indah. Ya Tuhan, kenapa Nanda jadi terlihat berbeda. Aku nggak begitu mengerti soal make up, tapi polesan tipis di wajahnya itu membuat gadis yang setiap bertemu denganku terlihat selengean, sekarang jadi ayu dan anggun. Untuk beberapa saat, aku merasa terkesima karena dia berbeda. Dia menghampiriku dengan senyum terkembang. Bibirnya yang kini berwarna pink tampak agak mengkilat. "Aduh ... aku deg degan banget nih Kak. Gimana donk ..." Aku Paham, Nanda pasti gelisah. Ini kan hari pertama dia kerja. "Nggak usah gugup. Tenang aja, kamu cantik kok!" "Hah?" "Kalau di liat dari sedotan, kayanya sih gitu, hhaadaaww, sakit sakit. Apaan sih De," Memang benar, orang yang bertubuh mungil, kalau mencubit itu mantap betul. Seperti Nanda yang mencubitku, rasanya beneran perih. "Biarin, suruh siapa rese." "Tapi ngangenin, iya iya aku tahu kok. Ayo naek. Nanti kita telat. Hari pertama kerja loh. Jangan malu maluin aku." "Siap bos." Nanda menggenakan helm yang memang sudah ku siapkan dari rumah. Helm itu biasanya di pakai Elisa. Tapi mulai hari ini, mungkin benda itu memiliki aroma baru. Aroma strawberry segar milik Ananda. Aku menyalakan motor dan menunggu beberapa saat, tapi gadis itu tak juga naik. Kuputar kunci motor untuk mematikannya kembali. "Kamu nunggu apa lagi sih De? Ayo naek!" "Aku bingung kak. Kemaren kemaren aku kan pake celana makanya nggak masalah naek motor ini. Tapi kalau sekarang kan ... " "Ya Allah, De. Jadi kamu nggak pake celana ?" "Ya pake lah dodol. Ngomongnya sembarangan banget. Maksudku bukan itu. Ini loh ... " Dia melihat ke arah rok hitamnya dengan wajah bingung. Bodohnya, aku lupa. Kemarin setiap kami bertemu, Nanda selalu mengenakan celana jeans panjang. Tapi sekarang, rok hitamnya pasti akan menyingkap dan memperlihatkan sepasang pahanya yang mulus. Mending kalau aku bisa lihat, masalahnya aku sebagai pengemudi nggak akan bisa menikmati itu. Justru pengendara lain yang akan leluasa melihat pemandangan langka itu. Mana bisa begitu? Tidak ada yang boleh melihat pahanya Nanda, kecuali aku. Eh tunggu, kenapa aku jadi kaya suami yang nggak rela istrinya diliat orang lain. Nanda kan hanya teman. Ya, untuk saat ini, mungkin memang hanya teman. "Aduh, iya. Aku nggak kepikiran De. Besok besok aku bawa motor yang matic aja." "Ya itu kan besok, tapi sekarang gimana donk?" Aku melepaskan jaket hitam yang kukenakan dan menyerahkannya pada Nanda, lalu kembali menyalakan motor. "Ayo naek, pake jaketnya buat nutupin paha kamu." Nanda mengangguk, lalu duduk ala ala emak yang habis belanja dari pasar. *** Selang setengah jam kami sampai di tempat tujuan. Mobil tamu sudah banyak yang terparkir. Nanda turun lebih dulu. Agaknya ia kesulitan melepas helm. Aku sengaja diam, menunggu dia minta tolong. Tapi rupanya dia bersikeras untuk melepasnya sendiri, dengan susah payah. "Udah belom? Lama banget buka helm doank," ujarku, dengan tangan terlipat di depan d**a. Dia hanya sedikit melirik dan kembali berusaha sekuat tenaga, menarik benda itu seperti ingin melepas kepala. Setelah agak lama bersikeras, Nanda menarik nafas lesu. Ia melihat ke arahku, dengan tatapan sinis. Sementara aku hanya pura pura melihat ke arah lain. Akhirnya gadis ini menyerah juga. "Kak ... " panggilannya kini berubah manja. Susah payah aku menahan tawa dan tak tergoda untuk melihat ke arahnya. Tapi ia kembali memanggil lagi dengan nada lebih manja. Dasar bocah. "Kak Allan ... " "Apa? Masih lama nggak. Aku mau absen nih," jawabku berusaha sok jutek. Tapi kayanya gagal. "Bantuin ... " matanya berkaca kaca, memohon. Sialnya, tatapan Nanda itu seperti racun. "Tadi katanya bisa sendiri." "Nggak bisa deh. Susah, lagian helm siapa sih nih. Kenceng amat?" "Yaiyalah itukan helm ... ah udahlah. Sini ku bukain." Tak ku tuntaskan kalimat yang seharusnya terselip nama Elisa di dalamnya. Aku jadi enggan menyebut namanya setelah kejadian beberapa hari yang lalu. "Cie cie, Allan ..." Nah, belum ada satu jam aku berada disini sudah terdengar nada sumbang dari karyawan lain. Aku memandang mata Nanda yang sepertinya mulai agak nggak nyaman. "Udah, jangan di dengerin. Aku absen dulu ya ke pos security, kamu laporan ke kantor admin dulu. Disana ya." "Kamu nggak mau nemenin aku Kak?" Tanganku reflek mengacak ngacak, rambutnya yang setengah kering karena tertiup angin motor. "Sendiri dulu ya. Nggak papa kok, orang disini pada baik. Lagian aku udah mau telat absen, gara gara nungguin kamu lepas helm." Bibirnya tertarik manyun. Aku hanya terkekeh kecil. Melihat ekspresi juteknya. Memang agak tak enak hati. Tapi dia ini mau kerja, bukan liburan. Jadi ya harus belajar untuk mandiri. *** Selesai absen aku bergegas pergi ke Dapur. Sebenarnya otakku tertuju pada Nanda yang belum menampakan batang hidungnya sampai saat ini. Pak Ridwan bilang, gadis itu akan di tempatkan di bagian Operator. Sedangkan area operator ada depan dapur. Apa yang sedang di lakukan anak itu sekarang. Harusnya tadi aku menemani Nanda dulu setelah absen. Tapi perasaanku sekarang lega, karena tak lama kemudian gadis itu datang bersama Pak Ridwan. Semua orang kini melihat ke arahnya dengan seksama. Sudah tidak aneh sih, namanya juga karyawan baru. Pasti jadi pusat perhatian. "Itu bukannya yang tadi dateng bareng Allan ya?" celetuk salah satu kawanku yang bernama Topan. Ohh, thanks Topan, semua orang di dapur kini melihat ke arahku. Nanda menyadari keberadaanku. Ia sempat melirik dan tersenyum. Pak Ridwan mungkin sedang menjelaskan apa pekerjaannya dan mengenalkan Nanda pada 2 operator lainnya yaitu Sella dan Dion. Setelah Pak Ridwan pergi, beberapa karyawan lain mendekat ke arahnya. Ya mungkin untuk saling berkenalan. Dari sini aku bisa melihat Nanda yang dalam sekejap sudah nampak akrab dengan mereka. Tapi hatiku jadi takut. Mayoritas penduduk Resto Pangestu Ibu adalah laki laki. Harusnya dia tidak seramah itu. Dia belum tahu kalau tempat ini adalah sarang buaya, kecuali aku tentunya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN