Partner Hati

1153 Kata
Allan Rahardian "Kayanya ada yang girang banget, sampe bengong gitu." Topan menyikut lenganku dengan senyum memuakkan yang lebih terlihat seperti ejekan. Pria ini memang tahu, bagaimana aku susah payah bicara dan memohon pada staf hrd agar menerima Ananda. Tapi memang, tak ada usaha yang sia sia di dunia ini. "Apaan sih gaje." "Gaje gaje tapi seneng kan. Siapa sih namanya, aku lupa. Hemmm, Nanda. Iya iya, Ananda ya. Bisa jadi target baru nih!" "Nih ..." aku mengacungkan jari tengah pada Topan, yang di balas cengiran mantap dari duda beranak dua itu. Memang udah gila tuh orang. Tapi aku harus mengakuinya dalam hati. Mendengar Nanda akan ada disini, hatiku memang amat girang. Setidaknya, dia pasti akan sangat berterima kasih padaku. Tepat di saat aku sedang memikirkannya, ponselku bergetar. Aku memang biasa tak membunyikan ponselku saat bekerja. Satu chat masuk dari Ananda. "Semangat kerjanya Kak Allan." Hanya satu kalimat simple sudah membuatku begitu hangat. Hati, ayolah! Jangan membuatku malu dengan gampang jatuh hati. *** Angin sepoi sepoi menerpa kulitku di sore yang cerah ini. Alun alun lumayan ramai di jam jam segini. Pukul setengah lima sore. Seperti dejavu, saat itu Nanda menungguku disini. Dibawah teriknya sinar matahari. Namun kali ini aku yang sedang menunggunya. Aku nggak punya rekomendasi tempat yang tepat untuk bertemu dengan wanita. Terlalu lama setia dengan Elisa, membuat ruang gerakku jadi sempit. Aku hampir tak pernah menghabiskan waktu dengan teman teman, hanya karena Elisa melarangnya. Dan sialnya, aku selalu menuruti apapun yang dia katakan. "Hukum karma berlaku banget ya. Dulu aku yang nungguin kamu disini. Sekarang kamu yang nungguin aku disini!" Nanda datang tiba tiba saja dan langsung mengoceh. Ia duduk di sampingku tanpa permisi. Aku nggak keberatan, cuma kok ada ya orang kaya Nanda, yang dateng tanpa basa basi, bikin kaget. "Seragammu bagus deh Kak. Aku sering sih, mimpi jadi chef. Bukan karena aku suka masak. Tapi, karena aku suka aja sama bajunya. Keren gitu." "Kamu mau pake? Ya udah aku buka nih!" "Eh, jangan jangan kamu udah gila apa. Disini banyak orang tahu." "Jadi kalau di tempat sepi, kamu mau liat aku buka baju" Nanda melotot ke arahku. Padahal aku cuma bercanda. Menggoda gadis ini makin lama jadi makin menyenangkan. Polos banget sih, ya mana mungkin aku mau tiba tiba buka baju di alun alun seramai ini. "Aku bercanda kali De, nggak usah takut gitu. Polos banget sih?" Pipinya yang agak chubby itu bersemu memerah. Gemas juga aku di buatnya. Aku hampir saja lupa tujuan awalku mengajaknya bertemu. Tapi bagaimana ya? Semakin cepat ku beritahu maka, semakin cepat kami akan berpisah bukan. Sementara aku, masih ingin berlama lama ngobrol dengannya. "Jadi, ngapain Kak Allan ngajak ketemu sore sore gini? Bukannya pulang. Kamu pasti capek Kak." "Ehm, aku sebenernya aku cuma lagi sumpek. Pengen makan yang pedes pedes gitu, tapi nggak ada temen. Kamu mau nememin aku?" "Makanan pedes tuh semacem apa ya?" Aku menggaruk kepala yang tak gatal. Masalahnya adalah aku nggak suka cabe atau makanan pedas. Aku salah bicara tapi tak mungkin kutarik kembali apa yang telah ku katakan. "Malah bengong. Kamu bingung ya kak. Ya udah, kita makan ayam geprek aja yuk. Kayanya enak tuh, pedes, atau kita makan baso cabe. Di deket sini ada kedai baso yang baru buka dan kayanya enak banget. Tapi kamu yang traktir ya hi-hi." Apapun, asal kamu seneng Nanda. Biarpun aku bakal sakit perut karena makan cabe, aku bakal tetep lakuin, asal kamu seneng. *** Nanda dan aku kini sedang duduk, menunggu pesanan datang. Aroma cabe disini begitu kental. Cukup lama, kami harus mengantri hanya untuk mendapat tempat duduk. Maklum, tempat ini baru buka, banyak promo sana sini. Suasananya juga lumayan nyaman, untuk sekelas gerai bakso pinggir jalan. Kalau Elisa, mana mau diajak ke tempat makan seperti ini. Ia adalah wanita yang pilih pilih tempat. Sebelum makan, Elisa pasti wajib mengambil foto tempat dan makanannya terlebih dahulu. Dan nggak akan selesai, sampai hasil fotonya sempurna. Dia amat sibuk dengan gadget, sampai kadang aku bepikir, benarkah kami pacaran. Sedang Nanda, beberapa kali kami keluar, dia hanya akan mengeluarkan ponsel jika benda itu berbunyi. Begitu pula aku. Aku pernah bertanya soal itu beberapa waktu yang lalu, dan jawabannya adalah ... "Kamu nggak maenin hp De? Cewek biasanya kalau lagi jalan kan mantengin hp terus. Biar nggak mati gaya katanya." "Kata siapa? Cowok juga kalau lagi jalan biasanya maenin hp mulu. Aku masih bisa maenin hp di rumah. Sayang aja, kalau moment yang harusnya bisa dihabisin di dunia nyata, malah terganggu sama gadget yang masih banyak waktu buat dimaenin. Cieee aku bijak nggak?" Kenapa Nanda beda banget sih sama Elisa. Padahal, dari segi umur Elisa harusnya lebih dewasa. Ahh iya, bagaimana kabarnya sekarang, apa dia masih bersama pria yang tempo hari ada di kamarnya itu? Atau dia sudah memiliki lelaki yang lebih baik dariku dalam segala hal. Kalau soal materi jelas aku akan kalah. Tapi kalau kesetian, boleh lah di adu. "Silahkan Mas!" Seorang pelayan mengantarkan 2 mangkok baso porsi jumbo pada kami. Mataku ingin melompat keluar, melihat kuah berisi cabe yang pasti akan membuat aku bolak balik ke kamar mandi. Berneda denganku, kedua pandangan Nanda justru nampak berbinar binar. Aku heran, kenapa sebagian besar cewek bisa tahan dengan makanan macam ini. Nanda sudah menghapiskan beberapa suap, sementara aku masih bertahan dengan rasa bingung. "De ... " panggil ku pada Nanda. Gadis itu menoleh dengan wajah penuh keringat dan bibir yang merah, dia pasti sudah kepanasan. "Heemm, kenapa masih bengong. Ayo makan kak, entar kalau udah dingin nggak enak." "Aku mau ngomong dulu sebelum kamu makin kepedesan." "Mau ngomong apa?" Nanda menatapku sementara tangannya tak melepaskan sendok dan memasukan butiran bola daging ke dalam mulutnya. "Lusa, kamu bisa mulai kerja." "Pffttt uhuk ... uhuk, minum minum," Nanda meraba meraba ke sekitarnya, lalu mengambil es jeruk milikku. Dan meneguknya secepat kilat. Apa kabar dariku begitu menggemparkan dunia sampai membuatnya kaget begitu. "Pelan-pelan aja makannya De." "Aku keselek bukan karna kecepetan makan Kak. Aku kaget sama omongan kamu. Beneran aku bisa kerja? Kamu nggak bohong." "Iya, bawel banget sih. Lusa, kamu bisa mulai kerja. Shift siang bareng sama aku." Nanda meletakan gelas jeruk yang sedari tadi di genggamnya, lalu tiba-tiba saja membaur dalam pelukanku. Aku agak kaget, dengan serangan dadakan ini. Tapi juga senang karena bisa membuatnya bahagia. "Makasih ya Kak. Makasiihh banget. Akhirnya, ijazah ku berguna juga." Manisnya, aku berniat untuk membalas pelukannya. Tanganku sudah bergerak untuk ikut melingkar di tubuhnya, tapi aku melupakan sesuatu, semua orang memperhatikan kami. "De ... De, lepas dulu." "Apa sih, aku kan lagi seneng Kak!" "Bukan itu, masalahnya kita jadi pusat perhatian nih." Nanda buru-buru melapaskan tautannya. Gadis nampak malu dan gugup. Aku ingin tertawa, susah payah aku menahan tawa. Sementara Nanda kembali menghadap pada mangkuk baksonya. Ia pasti sedang berusaha mengstabilkan rasa malunya. Matanya melirik ke arahku. Ia bicara dengan nada yang amat pelan. "Makasih ya Kak! Kita bakal jadi partner kerja nih." Ku balas kalimatnya dengan senyum. Dia salah, mungkin sebentar lagi, kita bukan hanya menjadi partner kerja, akan tetapi partner hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN