Allan Rahardian
"Ini berkas berkas yang kamu butuhin. Cv, lamaran kerja, skck, riwayat hidup, foto, udah lengkap. Yang nggak ada cuma riwayat kematian. Soalnya aku masih berharap punya umur panjang."
Nanda menyerahkan map coklat berisi data dirinya. Aku bermaksud untuk membuka benda itu, tapi dia malah menahan tanganku lebih dulu.
"Jangan!" cegahnya.
Pandanganku beralih pada Nanda yang nampak panik. Aku mengurungkan niatku semula. Meski dia tidak sadar, aku bisa saja membuka benda ini di rumah.
"Emang kenapa?" tanyaku pura pura heran.
"Malu lah, ada pas foto sama ktp ku. Fotonya jelek banget. Berlaku seumur hidup pula. Pengen banget ku ganti. Tapi nggak bisa." Bibirnya mencebik kesal, sementara aku terkekeh kecil mendengarnya. Padahal menurutku dia nggak jelek. Tapi nggak cantik juga, hanya imut dan manis. Ada sesuatu pada wajahnya yang membuatku ingin terus memandang.
Mengertikan? Beberapa orang terlahir dengan wajah yang good looking, tapi tak sedap di pandang. Dan beberapa lainnya, terlahir biasa biasa saja, tapi amat menarik perhatian. Bagaimanapun juga, ini adalah fakta. Secara garis besar, meski kita membantah, tetap saja yang namanya fisik itu amat berpengaruh pada kehidupan.
"Eh ada tukang eskrim. Kamu mau nggak? Ku traktir deh, tunggu bentar ya."
"Loh, De ... De?"
Aku berusaha mencegahnya, tapi sepertinya dia tidak ingin mengindahkan panggilanku. Gadis itu, ikut mengantri bersama beberapa anak kecil. Rasanya agak aneh. Ini pertama kalinya ada cewek yang mau repot repot mentraktirku, meski hanya sebatas eskrim. Bukan karena aku orang kaya, tapi bagiku dibayarin cewek itu adalah pantangan.
Apalagi Elisa, dia tidak akan mungkin mau mengeluarkan sepeserpun uang untukku. Apalagi untuk eskrim, takut gendut katanya. Elisa adalah pacar pertamaku, juga cinta pertamaku. Empat tahun kami menjalin hubungan, dan aku sangat bodoh karena begitu percaya pada parasnya yang cantik.
"Heh ... malah bengong! Nih, kamu mau yang mana? Karena aku nggak tau kamu suka apa, jadi aku beli 2. Ini coklat dan ini strawberry. Ayo pilih!"
Tanpa sadar bayangan Elisa hadir. Aku sampai tidak tahu saat Nanda kembali dari mengantri eskrim. Ahh, sudah berapa lama aku tidak pernah makan ini. Elisa tidak suka tempat terbuka seperti ini. Kami biasa menghabiskan waktu di kamar kosnya, atau paling tidak pergi ke cafe.
Berada di bawah pohon rindang, makan eskrim dengan Nanda. Kami jadi terlihat seperti orang yang sedang pacaran. Aku memakan setiap gigitan dengan hati hati, sementara gadis di sampingku malah melahap benda beku itu seperti orang kesurupan. Bukannya ilfil, aku justru respek, karena dia tidak berpura pura sok anggun di depanku. Lelehan benda itu kini belepotan di sekitar bibirnya. Terlihat manis, dan menggoda untuk kugigit.
"Enak banget makan es nya. Nggak takut gendut?"
"Aku lebih takut nggak bisa makan enak daripada gendut," ujar Nanda. Dia kembali menikmati setiap lelehan eskrim itu seperti anak kecil. Lama lama greget juga aku di buatnya. Tanganku terangkat, dan reflek membersihkan sisa sisa coklat di sekitar bibirnya.
Gadis itu terdiam sejenak, begitu pula denganku. Untuk beberapa saat, aku benar-benar lupa kalau aku sedang patah hati.
"Ehmm ... tanganmu jadi kotor kak."
Nanda merogoh sesuatu dari dalam tasnya. Ia mengambil tisue dan malah membersihkan tanganku yang kotor karena coklat tadi. Ya Tuhan, apa begini cara sebuah takdir untuk mengobati hatiku yang sakit. Disaat aku kehilangan cinta yang ku jaga, gadis ini tiba-tiba saja muncul dan memberi kehangatan yang nggak ku dapat dari Elisa.
Sejauh ini, Nanda memang orang yang menyenangkan. Selama aku berbalas pesan dengannya, ia selalu bisa mengimbangi apa yang ku bahas. Bahkan kami pernah bertukar suara alias telpon beberapa kali dan dia selalu bisa membuatku nyaman. Hanya saja, aku tak menyadari kalau saat bertemu langsung dengannya malah lebih mengasyikan.
Apakah ini cara takdir membalas pengorbananku untuk Elisa yang sia sia. Ia gantikan wanita munafik itu dengan sosok Nanda. Tapi ini terlalu cepat, aku pasti sudah tidak waras.
"Kak, hp-mu bunyi tuh."
Nanda membuyarkan lamunanku, bersamaan dengan dering ponsel dari saku celana, yang getarannya tak sampai ke hati. Aku meraihnya, dan menemukan nama My Love Elisa pada layar pertama. Jadi bagaimana sekarang, haruskah aku mengangkat telpon darinya sekarang?
"Kok malah didiemin. Angkat donk?"
Bukannya mengangkat telpon, aku justru sengaja mematikan ponsel. Awalnya, aku sangat berharap ada kabar dari Elisa. Tapi lambat laun setelah otakku mulai bisa berpikir normal, rasanya amat bodoh jika aku masih mengharapkannya. Biarlah, jika memang ia jodoh dan juga benar mencintaiku, ia pasti tahu kemana harus mencari.
"Nggak penting. Udah mau sore. Aku anterin pulang ya?"
Nanda mengangguk begitu saja. Kami berjalan beriringan menuju motor yang ku parkir di pinggir jalan tadi. Untunglah tidak ada petugas keamanan, yang tiba tiba mengangkut paksa motorku karena kelamaan parkir di tempat yang bukan seharusnya. Tapi sekarang aku yakin, jika suatu saat aku dan Nanda bertemu lagi, aku harus mematuhi peraturan dengan benar. Karena 1 jam bersama Nanda, ternyata hanya terasa seperti satu menit kami membunuh waktu.
***
"Allan, tolong gorengin Gurame Sedang 2 ya!"
"Lan, stok saos asem manis dah abis nih."
"Allan, siapin bahan ayam mentega 3 porsi ya!"
Allan ... Allan ... Allan ... Allan
Mendadak namaku begitu viral hari ini. Perkerjaanku sebagai asisten dapur membuatku harus siap untuk membantu semua kebutuhan chef. Apalagi di jam makan siang dan malam. Dapur akan penuh dengan asap masakan, diiringi alunan musik dari wajan dan suara pisau.
"Semangat Lan, akhir bulan nih!"
Pak Hadi menepuk bahuku seraya memberi semangat. Sebentar lagi akhir bulan, yang artinya sebentar lagi juga kami gajihan. Biasanya aku, akan menyisihkan gajihku untuk Elisa. Aku selalu merasa harus berbaik hati karena ku pikir kami akan langgeng hingga jenjang pernikahan. Tapi siapa sangka, hubungan kami justru tenggelam di tengah jalan. Aku bahkan belum berani menghapus foto, atau sisa sisa chat dan log panggilan elisa di ponselku. Rasanya terlalu berharga untuk kulupakan. Andai saja, dia mau mengalah. Atau setidaknya membuang sedikit saja rasa egoisnya, aku masih memiliki harapan untuk kami bisa bersama lagi.
"Sibuk Lan?" Pak Ridwan datang menghampiriku. Beliau adalah Manager di Resto Pangestu Ibu. Perawakan yang gendut, kepala yang botak, sering memberi perintah sembarangan. Tapi dia adalah orang yang royal. Hampir setiap hari tangannya tak kosong saat datang.
"Nggak Pak, biasa lagi bantu bantu." Aku meletakan pisau yang sejak tadi kugunakan untuk merajang sayuran, lalu mengalihkan perhatianku padanya.
"Ada apa ya Pak?"
"Kasih tahu temenmu itu ya. Lusa dia bisa mulai kerja."
"Maksud Bapak, temen yang tempo hari wawancara itu. Dia diterima Pak?"
"Iya. Tolong kamu kasih tahu dia ya. Kerja yang bener."
"Iya iya baik Pak. Terima kasih ya Pak."
Mendengar Ananda di terima bekerja disini, rasanya membuat hatiku ikut bahagia juga. Nggak sia sia aku merekomendasikannya pada staf Hrd. Dia pasti akan sangat senang, karena dalam waktu singkat lamarannya sudah di terima. Sekarang bagaimana caranya aku memberitahu pada Nanda.
Hari ini aku pulang sore. Harusnya dia nggak keberatan kalau ku ajak jalan kan? Ahh, mengapa aku jadi panik dan malah terharu seperti ini. Itu artinya, setiap hari aku akan bertemu dengan Nanda. Nanda yang membuat hidupku sedikit lebih berwarna dari biasanya.