Awal Kisah

1208 Kata
Allan Rahardian "Aku cape El. Kamu nggak bisa berubah. Kita putus!" Dengan lantang, terpaksa kuperjelas lagi, kalimat yang sejak tadi sudah berulang kali keluar dari mulutku. Tapi Elisa masih juga tak paham. Aku sudah terlalu kecewa saat ini. Dan berakhir, adalah satu satunya jalan keluar yang saat ini harus ku ambil. "Aku bisa jelasin kok Lan. Aku mohon jangan kaya gini!" Nada mengiba keluar dari permohona Elisa. Ia terus mengikutiku, sampai aku tiba di parkiran motor. "Allan ... Please, denger dulu." Aku menepis tangannya yang akan menahanku. Tanganku terangkat, bersamaan dengan jari jariku yang menunjuk pada beberapa titik merah di lehernya. "Ini, ini, ini dan ini. Bilang sama cowok barumu, lain kali bikinlah di tempat yang tersembunyi, atau minimal bisa di tutup baju. Malu-maluin." Segera ku gunakan helm melajukan motor meninggalkan tempat kos Elisa. Tak peduli dengan teriakannya yang lebih terdengar macam orang gila. Aku tetap melanjutkan perjalananku. Hari ini akan ku catat dalam sejarah hidup, sebagai hari paling buruk. Pelajaran yang bisa ku ambil, jangan pernah percaya pada kekasihmu, atau memberikan 100 persen cinta padanya. Atau kamu nggak akan siap dengan kenyataan saat ia mencoba menyakitimu. Aku sedang libur kerja hari ini. Dan Elisa tak tahu akan hal itu. Dengan niat baik, aku bermaksud memberi kejutaan. Biasanya aku memang akan memberi tahunya jika akan datang. Tapi entah kenapa, hari ini rasanya ingin sekali aku tiba tiba datang. Dan akhirnya, bukan hanya dia yang terkejut. Aku tak kalah kagetnya, menyaksikan pacarku tengah beradegan panas di dalam kamar yang selama ini menjadi saksi kemesraan kami. Sebagai seorang lelaki, pantang bagi kami untuk menangis. Tapi sebagai manusia yang punya hati, air mataku leleh juga walau hanya beberapa tetes. Aku bukan sok suci. Tapi prinsipku adalah hubungan intim sebelum menikah harus tetap ada batasannya. Aku nggak pernah berani melakukan hal di luar batas, meski naluri kelelakianku kian mengancam. Aku dengan senang hati menerima kekurangannya yang sudah pernah dijamah oleh lelaki. Aku menghargai kejujurannya dan menerima Elisa apa adanta. Bagiku, masa lalu biarlah masa lalu. Seburuk apapun itu, kita hanya tinggal berusaha agar masa depan itu lebih baik. Namun kebaikanku ternyata nggak cukup untuk menghilangkan rasa hausnya. Dia lebih suka lelaki b******k menjamah tubuhnya. Masalahnya adalah ini bukan yang pertama kali. Aku sudah beberapa kali memergokinya dengan pria lain. Tapi dengan alasan masih cinta, serta keyakinan pada adanya perubahan, maka kubiarkan kata "nggak papa," atau "dimaafin" berulang kali keluar dari mulutnya. Namun Semua itu, kini tak ada artinya lagi. Kesabaranku sudah habis. Aku seorang lelaki dan tak ingin diinjak injak. Aku memacu spedometer motorku dengan kecepatan tak biasa. Sialnya, meski aku sangat berusaha untuk menenangkan hatiku, semua hal ini tetap saja amat membekas. Ponsel di dalam saku celana jeans ku terus saja bergetar. Pasti Elisa sedang terus mencoba untuk menghubungiku. Aku terus saja berjalan berusaha untuk tidak perduli. Ingat Lan, dia itu Elisa. Awalnya dia memang gadis yang amat kamu cintai. Tapi sekarang sudah berbeda. Dia tidak akan bisa berubah. Begitu pula denganmu Lan, kamu tetap mencintainya. Aku menarik nafas kasar, sebelum akhirnya bergelut dengan batin untuk mengangkat telpon. Aku menepikan motor, lantas meraih ponsel yang membuat otak dan hatiku tak fokus sedari tadi. Aku berjanji pada hati, jika elisa yang menelpon, mungkin aku bisa memaafkannya sekali lagi, asal gadis itu mau berjanji untuk berubah dan tak akan mengulangi kesalahan yang sama. Namun harapanku kembali pupus, saat aku melihat ada 15 panggilan tak terjawab yang ternyata bukan dari Elisa. Nama Ananda memenuhi deretan log terakhir di ponsel ini. Aku nggak begitu ingat, Ananda ini siapa. Pikiranku sedang kacau dan aku tidak ingin orang lain menjadi pelampiasan kekesalanku sekarang. Tapi baru saja aku akan memasukan kembali ponsel itu ke saku celana, nomor yang ku beri nama Ananda ini kembali memanggil. Siapa sebenarnya orang ini? Apa ada hal yang begitu penting, sampai ia harus menelpon sebanyak ini. Lama lama aku jadi penasaran juga. "Hallo?" "Hallo, Kak Allan dimana?" "Dimana?" "Iya dimana? Aku udah di alun alun nih. Panas banget." "Loh memang ini siapa?" "Ya Ampun Kak Allan lupa? Ini Nanda, temennya Ferdy. Yang minggu lalu chat di f*******:. Kan kita udah janjian mau ketemu. Wah jahat banget, Kak Allan lupa ya. Aku udah kepasanasan." Ya Tuhan, bagaimana aku bisa melupakannya. Ananda ini kan temannya Ferdy. Aku benar-benar lupa. "Kamu disitu sama siapa?" "Tadi sama Ferdy, tapi dia juga ada perlu. Jadi aku ditinggal, kalau Kak Allan nggak jadi kesini, aku pulang aja deh." "Jangan-jangan. Kamu tunggu disitu ya! Aku jalan sekarang. Nggak nyampe sepuluh menit. Oke!" "Loh tapi ..." Aku tidak perduli, segera ku matikan panggilan yang sedang tersambung. Lalu kembali melajukan motorku, yang bahkan lebih cepat dari saat aku patah hati. Hari ini aku membuat janji temu dengan gadis bernama Ananda. Dia adalah kawan dari Ferdy alias sahabatku. Aku belum pernah bertemu dengan Ananda, kami hanya berkenalan melalui f*******: lalu saling bertukar nomor. Sebenarnya, aku berjanji pada Ananda untuk membantunya mendapat pekerjaan. Kalau bukan karena Ferdy yang menitipkannya padaku, sudah jelas aku tidak ingin membuang waktu untuk bertemu dengannya, apalagi dalam keadaan hati dan otak yang kacau. Tapi kasian juga, udah lama nunggu ditambah panas panasan. Hah ... jadi merasa bersalah nih. Sekitar 10 menit berlalu, aku sampai alun alun kota Cipanas. Motor ku parkir tak jauh dari jalan raya, agar aku bisa segera pulang setelah urusan kami selesai. Aku nggak berniat untuk berlama-lama ngobrol dengan si Nanda ini. Setelah melepas helm, aku mencari sosok wanita di bawah pohon beringin yang sedang berteduh. Tapi yang mana? Aku takut salah orang, karena kebanyakan foto di f*******: itu menipu kan. Mataku tertuju pada seorang gadis yang mengenakan Cardigan hitam dengan dalaman berwarna putih, entah itu tanktop atau kaos. Tapi wajahnya mencuri perhatianku. Ia menggemgam ponsel lalu mendekatkannya pada telinga. Tak lama kemudian ponselku berbunyi. Dan sudah bisa dipastikan. Dialah Ananda yang ku cari. Tanpa mengangkat telpon, aku berjalan mendekati gadis itu dan menghampirinya. Gadis itu mendongak, karena saat itu ia sedang duduk pada tembok yang mengelilingi pohon itu. Astaga, jantungku berdebar nggak karuan. Bukan karena jatuh cinta, tapi aku takut salah orang. "Kak Allan?" Alhamdulillah, ia menunjuk sambil menyebut namaku. Yang artinya, aku nggak salah orang. Seperti orang bodoh, dengan polosnya, aku juga menunjuk ke arahnya dan bertanya ... "Ananda?" Bukannya menjawab dia malah tersenyum. Tapi ya Allah, senyumnya manis banget. Udah kaya gulali yang di jual abang abang pasar malem. Ia menepuk nepuk tempat kosong di sampingnya dan memintaku untuk duduk, dan aku menurutinya begitu saja. Aroma parfum strawberry segar menyeruak melewati hidungku. Agaknya, parfum ini akan terngiang ngiang di otakku, karena enak banget. Sekarang aku harus bilang apa? Dan siapa yang akan bicara lebih dulu. Kenapa aku jadi seperti Abg labil yang pedekate lalu kehabisan kata-kata. "Nih, minum dulu. Kamu keringetan." Gadis itu menyodorkan sebotol air mineral dingin. Untunglah, gadis ini mengerti kegugupanku, setiap tegukannya terasa nikmat melewati kerongkongan. "Maaf ya, ganggu kesibukan kamu." "Aku yang harusnya minta maaf. Sorry banget, kamu jadi nunggu lama." "Nggak papa deh nunggu lama dikit. Yang penting dibantuin dapet kerjaan hi-hi-hi." Ah iya, hampir saja aku lupa. Maksud kami bertemu ini kan, untuk membahas soal pekerjaan kenapa aku malah mendadak lupa. Aku terlalu cepat mengambil kesimpulan sejak tadi. Mungkin niatku yang tadinya tak akan berlama lama ngobrol dengan Nanda malah akan berubah menjadi seharian. Karena sepertinya, gadis ini membuatku lupa dengan problem hari ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN