Ananda Rhea Prahadi "Ya udah. Aku beliin deh. Tapi beneran di makan ya. Jangan diliatin doank." Aku memutar pandangan yang jengah. Nggak janji bakal ku makan juga sih buburnya. Tapi kalau udah ada masa iya ku sia siain. Aku mengangguk dengan mantap. Dan ia bangkit dari duduknya. Dari dalam kamar aku bisa melihat dia tengah bercakap cakap dengan Ibu sebentar, kemudian pergi. Ibu membawakan segelas teh yang masih mengepulkan asap. Beliau meletakannya pada meja di samping tempat tidurku kemudian duduk sembari mengusap kepalaku dengan lembut. Nyaman banget, aku merasa seperti di bawa pada masa kecil dimana sering tertidur di pangkuannya atau di depan televisi, lalu setelah bangun mendadak sudah ada di kamar. "Adel udah berangkat Bu? Punya uang jajan nggak dia?" sejak aku mulai kerja, seba

