Ananda Rhea Prahadi Kami melangkah bergandengan menuju gang depan rumahku. Meski sudah berias secantik ini, masih saja ada satu perbedaan kentara yang nggak bisa ku ubah. Kenapa ya Allan dan Rehan itu harus punya tinggi badan yang kaya tiang listrik begini. Jadi saat kami berjajar, aku merasa seperti jari telunjuk dan kelilingking sedang berdiri berdampingan. Saat sampai di depan, aku celingukan mencari kemana motor yang biasa dia gunakan. Tapi kok nggak ada ya? Apa dia tahu kalau aku udah susah payah menata rambut jadi nggak ingin merusaknya dengan menggunakan helm. "Kamu kesini naek angkot tadi?" "Ehm ... nggak kok." "Terus naek apa? Motormu kok nggak ada?" Rehan menarik tanganku, sementara sebelah tangannya yang lain, memberi isyarat pada kendaraan yang lewat untuk kami menyebrang

