"Mas," panggilku agak ragu. Matanya yang semula berkutat pada mesin input beralih dan menatap balik padaku. "Ya. Kenapa Da?" tanyanya balik. Suaranya lembut dan adem, meski ada sedikit nada keturunan orang Jawa yang nggak terlalu kental disana. Mungkin karena dia sudah lama merantau di tanah Sunda, jadi menghilangkan ciri khasnya sendiri. Bahkan kalau diperhatikan, wajah Mas Danang ini Nyunda banget. Orang kalau belum bicara langsung dengannya tak akan mengira bahwa dia ini perantau. "Mas Danang kenapa selingkuh sih?" Haisshh dengan polosnya aku menanyakan masalah orang dewasa. Tapi entah kenapa aku jadi kepo. Meski dia memang pernah mengutarakan soal kenyamanan, tapi ... ya kenapa harus dengan selingkuh. Kenapa harus dengan menyakiti salah satu pihak. Kenapa tidak dengan alternatif lai

