Ananda Rhea Prahadi Dengan langkah tegap aku keluar dari gudang, dengan dagu yang terangkat, tatapan yang tajam, tanpa senyum dan berjalan dengan angkuh. Padahal setelah aku berhasil sampai di Area Operator rasanya seperti ... "Aarrkkhhh ... " Aku berteriak kecil sembari melompat lompat tak jelas. Jika saja aku tidak ingat sedang bekerja, aku ingin sekali membanting semua barang dan berteriak sekeras kerasnya. Jantungku masih berdetak lebih kecang, bahkan lebih kencang dari saat pertama kali aku jatuh cinta. Aku meraba kedua pipiku yang memanas dan pastinya semakin memerah. Bisa-bisanya aku bertindak begitu agresif pada seseorang yang telah mematahkan hatiku. Dan yang lebih parahnya lagi aku malah menikmatinya. Aku pasti sudah stress dan kehabisan akal. Aku tak menyangka akan ada pria

