Si Mata Coklat

1099 Kata
Ananda Rhea Prahadi Aku merebahkan tubuh di atas tempat tidur. Kamarku tidak seberapa luas, hanya ada kasur, lemari dan pakaian menggantung disana sini. Sambil menatap langit langit yang berwarna putih, ku tarik nafas panjang melalui hidung, lalu menghembuskannya perlahan melalui mulut. Seragam kerja yang bau kecut masih melekat di tubuh dan juga make up yang hampir luntur ini, masih menempel dengan manisnya di wajahku. Saat lelah, aku tak akan bisa menolak godaan tempat tidur Meski wajahku masih kotor. Aku akan menjatuhkan diri begitu saja diatasnya. Karena tempat tidur adalah satu satunya tempat paling nyaman untuk memikirkan segala sesuatu. Ini adalah kebiasaan yang buruk, jangan dicontoh! Mata memang terpejam, tapi kesadaranku masih terjaga. Sudah dua hari ini lagi- lagi aku dan Allan tak bertegur sapa. Dia tidak lagi menjemput atau mengantarku pulang. Dia tidak lagi membawakan makanan atau memasak untukku. Dia tidak lagi menunggu saat istirahat, atau sekedar mengajak makan siang bersama. Rasanya aneh, tak ada lagi Allan yang mengacak ngacak rambut atau sekedar melemparkan senyum manis. Ditambah lagi area kerjaku dengannya, yang hanya disekat tembok setinggi d**a. Membuatku mau tak mau masih harus saling melempar tatapan, meski ia lebih memilih untuk membuang muka. Semua hal yang sudah melekat dan menjadi kebiasaan ku sehari hari, akhirnya berubah. Semua terjadi karena hari itu, hari dimana Allan bertanya ... "Jadi pacarku mau nggak?" Bagi ku ini sesuatu yang amazing. Sesuatu yang nggak ku duga akhirnya terjadi. Hati dan logika yang nggak sinkron memaksa bibirku untuk berucap, "Maaf kak, aku nggak bisa. Lebih baik kita jadi teman." Dan hasilnya lihat sekarang. Berkali kali ia bertanya apa alasannya? Kenapa jadi begini? Dan bla bla bla. Tapi aku masih tetap meyakinkan Allan, juga meyakinkan diriku sendiri. Ini lebih baik dari apapun. Sejujurnya aku juga bingung. Bukankah awalnya aku yang berharap, aku yang semangat, aku yang selalu menggebu gebu. Ingin ada kejelasan diantara kami, ingin ada kemajuan dalam hubungan kami. Bahkan selalu bermimpi jika akhirnya aku menjadi kekasihnya. Tapi setelah dia mengatakannya, ini tidak semenarik yang ku bayangkan. Ya, di satu sisi ada rasa senang, tapi disisi lain semua terasa hambar. Ini tak membahagiakan seperti yang kubayangkan. Entah karena harapan yang terlalu tinggi, lalu membuat aku tak sanggup meraihnya. Atau terlalu lama aku berharap sampai akhirnya hatiku lelah dan lebih memilih jangan melanjutkan apa yang terjadi. Entahlah, tapi tiba tiba saja perasaan itu hilang. Aku tak lagi ingin status yang jelas, aku hanya ingin tetap menjadi Allan dan Kanaya yang biasanya. _____ Lagi lagi ini adalah hari yang super sibuk. Selain nasib sial bangun kesiangan dan menunggu angkutan umum yang tak kunjung datang, apa lagi yang bisa lebih buruk? Aku melirik sekilas ke arah dapur sebelum mulai menginput beberapa orderan yang sudah ada di depan mata. Dan akhirnya kutemukan sesuatu yang lebih buruk. Aku bisa melihat Allan sedang sibuk dengan apa yang dikerjakannya. Rasanya aneh, setelah beberapa hari ini nggak pernah bertegur sapa atau sekedar senyum dengan si keren itu. Ini nggak enak banget! Bahkan hampir semua orang sadar dengan sikap kami yang mulai berubah dan semakin menjauh. Aku dan Allan hanya bicara seperlunya, lalu dia hanya akan menjawab, ya dan nggak. Ngeselin nggak sih? Semua mengira aku dan Allan putus.Tanpa tahu kenyataan bahwa kami bahkan belum sempat memiliki status. Aku mulai merindukannya. Sekarang muncullah pertanyaan, kenapa aku menolaknya, jika masih tetap menginginkannya? Tapi aku nggak ingin membohongi diriku sendiri apalagi dia. Rasa suka juga sayangku mungkin akan lebih baik jika tidak berkembang. "Nanda, tadi tamu lesehan 4 nanyain minumannya yang belom sampe. Kamu tolong ke Pantry ya. Ini biar aku yang kerjain." Sella datang dan malah mengganggu lamunanku. "Kenapa nggak kamu aja yang kesana? Aku lagi sibuk," jawabku dengan malas. "Maksud kamu sibuk ngelamun, sambil ngeliatin sialan?" Aku melotot mendengar penuturan sialan dari Stella. Harusnya di pisah, bukan sialan, tapi Si Allan. "Idiihh serem langsung dipelototin. Hahaha, Maksudku baik Da, dari pada kamu disini nggak fokus karena orang itu, mendingan ke Pantry. Biar otakmu lurus lagi gitu. Ngerti maksudku kan?" Stella ini sahabat yang pengertian. Hanya dia yang tahu sepak terjangku selama disini. Dan dia pasti tahu persis jika aku ini perlu ada ruang untuk sendiri. Ruang dimana aku nggak harus tergoda buat lirik lirik Allan. Jadi setelah menganggukan kepala, aku menyerahkan pekerjaan dan bergegas menuju Pantry. Pantry adalah sebutan kami untuk dapur yang khusus membuat makanan ringan dan minuman. Aku lupa kapan terakhir kali kesana, mungkin karena terlalu lama diam di area operator. Tak jauh berbeda dari area Operator. Pantry adalah ruangan dengan jendela besar tanpa kaca, lebih tepatnya hanya terhalang dengan sekat setinggi d**a seperti di dapur 1. Hanya saja sekat ini langsung mengarah ke beberapa tempat lesehan. Aku melangkah begitu saja memasuki Pantry, melewati pintu dan mencium aroma manis dari keju dan coklat. Tak jauh dari hadapanku, ada seorang pria yang agaknya sedang sibuk. Ia membelakangiku, tapi juga menarik perhatian. Dia pasti salah satu Barista yang bertugas di divisi ini. Ada rasa tak asing, saat melihat postur tubuh dan seragam yang ia gunakan. Beberapa detik setelah diperhatikan, aku menyadari sesuatu. Damn! Aku bisa mengenalinya, meski hanya dengan melihat punggung. Itu benar! Ya, itu si pemilik mata coklat. Pemilik sepasang mata yang pernah membuat ku hilang fokus. Pemilik sorot mata gelap yang seperti menyimpan sesuatu. Dia satu satunya karyawan, yang bahkan aku tidak tahu namanya. Menyadari ada seseorang yang masuk, ia menoleh ke belakang lalu pandangan kami akhirnya bertemu. Aku mematung tanpa berkedip saat mata coklat itu menatap ku lagi, mengintimidasi dan membuatku kaku. Ini akunya yang lagi bego atau gimana ya? Berdiri dan membalas tatapannya itu buat apa sih? Akal sehatku sepertinya mulai menghilang perlahan. Setelah berhasil membuatku tidak berkedip, pria itu dengan santainya kembali berbalik, dan fokus pada mejanya lagi. Apa apaan dia? Apa dia tidak pernah belajar adab jika ada tamu yang datang ke rumah. Baiklah, tentu saja ini bukan rumah dan aku bukan tamu. Sebelum kebodohan ku makin parah, dan terkena semprotan Manager karena pesanan tidak juga keluar, akhirnya ku hampiri pria itu dan berdiri disebelahnya. Bertanya seramah mungkin, berharap semoga dia nggak jutek kaya waktu di kantin Dapur 2. Tapi baru saja aku akan membuka mulut, dia sudah bicara lebih dulu. "Sebelum mulai nanya, bantu aku nuangin jus dan kopi itu bisa kan? Aku agak keteteran nih," serunya tanpa menoleh. Dia mungkin tahu maksudku, dia juga pasti tahu aku akan bertanya, tapi dia memang perlu bantuan sepertinya. Aku melihat ke sekeliling, dan tidak ada orang lain, dia hanya sendiri. Kemana yang lain? Harusnya ada lima orang barista di Divisi ini. "Heh, malah bengong lagi!" Pria itu menyenggol bahuku dan membuatku agak terhenyak. Benar, dia sendiri. Baiklah, kalau begitu, aku rubah profesi sebentar, dari operator menjadi Barista abal abal. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN