Namanya Rehan

1158 Kata
Ananda Rhea Prahadi Jadi aku memutuskan untuk menjadi Barista abal abal. Bukan Barista sesungguhnya, aku hanya membantu pria ini menuangkan beberapa minuman, dan menjajal sedikit kepiawaian dalam memberi garnish. By the way, aku sempat melihat tanda pengenal yang tergantung di dadanya. Rehan Aditya ...Rehan Aditya ... Rehan Aditya dan Rehan Aditya. Sekarang namanya terngiang ngiang di kepalaku. "Harusnya aku berlima, tapi salah satu dari kita off. Yang 2 ikut seminar pelatihan sama yang lain. Terus yang satu lagi, istirahat. Kayanya dia kecapean, karena dari pagi orderan banyak." Aku hanya kembali ber oh ria, mendengar penuturan Rehan yang bercerita tanpa perlu aku bertanya. Pesanan lesehan 4 yang menjadi tujuan ku kesini juga sudah di antar oleh Runner Drink. Aku juga sudah membantunya, menyelesaikan beberapa pesanan lain. Ku rasa membantu membuat minuman lebih mudah, daripada membantu Chef di dapur. "Kamu lagi sedih ya?" Bibirku bertanya begitu saja saat dia mulai kembali serius. Rehan berhenti melakukan aktifitasnya, tapi dia juga tak buru buru mejawab. Dari tadi ia hanya bicara sambil mengerjakan sesuatu. Namun sekarang, seperti ada dejavu ketika ia menatapku, tatapan tajam yang dalam. Aku pasti salah bicara, terlalu kepo atau sok ingin tahu. Tapi setiap melihat dia, aku memang selalu merasa ada sesuatu, dia seperti seseorang yang sedang memendam kesedihan. "Maksudnya?" Sambil mengangkat sebelah alis, ia balik bertanya. "Iya, kamu lagi sedih?" Meski gelisah, tapi kegelisahanku nggak bisa menghilangkan rasa ingin tahuku. Dia akhirnya mengambil posisi di hadapanku, melipat kedua tangannya di d**a. "Kenapa kamu nanya kaya gitu?" Jadi aku harus jawab apa. Alasanku kan nggak masuk akal? Masa aku bilang kalau sepasang matanya itu bisa menggambarkan bagaimana perasaannya. Padahal aku tidak pernah merasa seperti ini dengan tatapan orang lain. "Ya gimana ya? Dari pertama ketemu, wajah kamu tu ya, kaya gimana gitu. Kaya orang yang nyimpen sesuatu. Kaya orang yang sedih, kaya ada banyak sesuatu di dalam diri kamu yang seharusnya keluar tapi malah kamu pendem." Gila, aku sok tahu banget, frontal banget, udah kaya peramal atau kaya pembaca ekspresi aja! Sedangkan Rehan, aku tak tahu apa tanggapannya. Aku bingung, ekspresi apa yang sedang digambar pada wajahnya yang ganteng. Eh tunggu. Ganteng? "Heh, apa aku harus percaya sama omongan cewek yang baru ku kenal?" Dia tersenyum sinis antara mengejek, atau malah menyangkal bahwa yang ku katakan ini benar. Karena lagi lagi sorot matanya tak bisa menipu. Aku menepuk nepuk pundak ku sendiri. Memberikan isyarat supaya ia bersandar disini. "Nihh nyender di bahuku. Nggak papa." Lancar sekali bibirku dalam berucap, tanpa tahu malu. Gawat, kayanya aku udah gila! Aku melakukan sesuatu yang di luar dugaanku. Minta dia untuk nyender tuh sebenernya buat apa? Lihat kan? Sekarang Rehan mengangkat kedua alisnya, dia pasti heran dan mengira aku orang aneh. "Serius minta aku nyender?" Dia mengangkat tangannya, lalu menunjuk ke bahuku. "Disana? Di bahumu?" tambahnya lagi. Aku mengangguk kilat mengiyakan apa yang dikatakannya. Tamatlah sudah, tubuhku lebih berani dari pikiranku ternyata. "Jangan suka mendem sesuatu sendiri. Manusia itu makhluk sosial, mereka butuh manusia lainnya untuk saling melengkapi. Its oke, nggak perlu cerita apa masalahmu. Tapi bersandar di bahu seseorang bisa mengurangi beban, tanpa perlu menunjukan dimana letak kerapuhan." Good job Ananda, kamu akan membuat si mata coklat ini ilfil. "Kamu nggak takut aku salah paham?" Masih juga ngasih pertanyaan. Ada cewek cantik nyuruh nyender nih, masih nolak juga. Rehan normal nggak sih? "Salah paham apa? Emangnya kamu ada niat buat salah paham?" Sekarang giliranku yang bertanya, aku juga mau tahu apa jawabannya, namun di luar dugaan, dia malah menarik tubuhku. Dia benar benar meraih tubuhku, dan membawaku dalam pelukannya. Oh wow, ini surprise banget nggak sih? Aku nawarin buat nyender dia malah peluk peluk. Aku ingin sekali protes, tapi entah karena rasa terkejut atau rasa lain, aku jadi tak berbuat apa apa. Hanya diam, mematung, merasakan jantung dan aliran darahku, yang sepertinya berontak nggak karuan, bersamaan dengan hatiku yang juga ikut melompat lompat, memberikan respon atas tindakan yang dilakukan pria ini. Oke aku bukan nya nggak pernah pelukan, aku juga pernah punya pacar. Tapi rasa ini, perasaan ini, pokoknya ini aneh. "Kalau nyender di bahu kamu bisa ngurangin beban, gimana kalau ku peluk. Apa bebanku yang berkurang, bisa lebih banyak." Bisikannya terasa jelas masuk ke dalam telingaku, bersamaan dengan deru nafas hangat yang juga ikut mendampingi suaranya. Aku kehilangan kemampuan bicaraku, suaraku mendadak kelu. Perlahan Rehan melepaskan pelukannya, kami masih saling tatap, aku menyadari pipiku yang memanas dan bersemu merah, kesadaranku kembali mengingatkan kalau, ya ampun ini tempat kerja! Beruntunglah, Runner drink sedang mengantar minuman dan 3 lesehan di depan Pantry kosong. Atau kami akan terciduk sedang pelukan. "A... Aku, harus balik ke operator, Stella sendiri disana." Ini gila, aku merasa kikuk, aku bersiap untuk meninggalkan pantry, sebelum akhirnya ia memanggilku ku. "Nanda ... Kamu bener." "Hah?" "Bersandar di bahu seseorang bisa mengurangi beban. Makasih ya." Dia tersenyum amat tipis. Tapi demi apapun. Aku rasanya mau pingsan. Seseorang, tolong aku! _______ Waktu sudah menunjukan pukul sepuluh malam, Restorant baru saja tutup. Aku dan beberapa karyawan lain sedang mengantri untuk mengisi absen di pos security. Dan saat tiba giliranku, lagi lagi jempolku ini bertemu dengan jempol orang lain. Aku mendongak memastikan firasat, dan ternyata benar ini Rehan. "Kamu dulu," katanya, tanpa perlu berdebat aku mengisi absen lalu keluar. Pada saat yang sama mataku juga menatap sosok Allan yang menyalakan motor, tanpa menoleh kebelakang tanpa tahu bahwa aku melihatnya dia melesat bagai pembalap F1. Ahhh, ku pikir setelah beberapa hari semua akan baik baik saja. Tapi ternyata tidak. Allan masih membenciku, bagaimana ini. "Allan ninggalin kamu?" Aku tersentak kaget, saat suara yang tadi siang masuk ke telingaku mendadak terdengar kembali, apalagi saat aku menoleh dia sedang menunduk di dekat telingaku. Membuat wajah kami begitu dekat. Reflek aku memundurkan kepala, sebelum ada orang yang membuat spekulasi tak jelas tentang kami. "Nggak kok. Dia lagi ada urusan jadi buru buru," jawabku sekenanya. Ya Tuhan, siapa yang sedang ku bohongi? Dia bukan punya urusan, dia itu membenciku, dia benci aku. "Pulang naek apa?" Tanya Rehan lagi. "Naek angkot." "Udah malem, biar aku anter pulang." Manusia jutek ini mau nganterin aku pulang. Kenapa mendadak dia jadi baik. Memori mengingatkanku akan apa yang terjadi di Pantry tadi siang. Ya ampun, apa Rehan masih ingat? Aku harap dia melupakannya. Aku malu, benar benar merasa malu. "Nggak usah," jawabku, berusaha mengimbangi kejutekannya. "Rumah kita searah. Jadi aku tahu, angkot udah jarang banget lewat. Ayok!" Tanpa menunggu persetujuanku Rehan menarikku ke arah motornya, ia menyodorkanku sebuah helm. Aku celingukan mencari helm kedua, tapi hanya ada satu helm dan kenapa malah diberikannya padaku? Dia juga membuka jaket, lalu memberikannya juga padaku. Membuatku jadi bingung dan kikuk. "Kenapa bengong. Ayo pakek, atau mau aku pakein." "Kamu nggak pake helm? Terus jaketmu juga ...." "Aku cuma bawa satu helm, ya soalnya nggak tahu juga kan bakal nganterin kamu pulang. Pake aja helm sama jaketnya, Udah malem, nanti kamu kedinginan. Aku biasa begadang, jadi cuma angin segini doank mah bukan masalah. Yuk kita pulang." Boleh nggak aku pingsan lagi. Semua ini terlalu aneh, buat seseorang yang habis mematahkan hati sepertiku. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN