Jadwal Off 1

1143 Kata
Ananda Rhea Prahadi Ini gila! Sepertinya otakku mulai tidak waras. Entah sudah berapa lama aku hanya beguling guling di ranjang. Yang jelas jam sudah hampir melewati tengah malam. Mataku ngantuk, dan ingin sekali terpejam. Tapi setiap aku menutup mata, bayangan si mata coklat itu hadir dan membuat mataku kembali terbuka. Sialan! Kenapa Rehan bisa segitunya, muncul dan berputar putar di otakku. Bayangan beberapa saat, ketika dia memboncengku tadi akhirnya membuat ku tersenyum sendiri. "Nanda pegang donk," kata Rehan, sewaktu ia mulai melajukan motor tadi. Aku tidak mengerti sewaktu dia berteriak meminta "pegang" Sempat ada pikiran kotor terlintas. Bayangkan! Dia tiba tiba saja bilang pegang tuh ke arah mana coba? "Eh, pegang?" "Maksudku, kamu pegang bajuku. Tapi kalau nggak keberatan peluk juga boleh. Aku mau ngebut, nggak enak ada di belakang truck." Aku terkekeh kecil. Saat itu di depan kami memang ada beberapa truck besar, yang asapnya membuat sesak nafas. Kenapa dia nggak bilang "pegangan", bukan cuma "pegang" Dan lagi, kok bisa bisanya dia bilang "Kalau nggak keberatan" setelah siangnya dia tiba tiba peluk aku gitu aja. Ia menurunkanku di depan gang. Aku mengucapkan terima kasih, lalu berbalik untuk segera berjalan. Aku nggak bisa berlama lama karena hari sudah malam. Biasanya ada warga yang sudah mulai ronda dan kami bisa ditegur karena berduaan di tempat sepi. Akan tetapi baru selangkah aku pergi dari motornya, ia meraih tanganku. "Nanda." Panggilannya lembut banget. Nggak tahu kenapa hatiku mendadak nyess. Aku berbalik dan adegan adegan dalam drama Korea romantis sempat terlintas di pikiranku, karena saat itu lagi lagi tatapannya mengalihkan duniaku. "Ya Han?" Aku menunggu dengan was was dan deg degan, namun kehaluanku mendadak buyar saat dia berkata. "Boleh aku minta helmnya dulu." Akkrrhhhh sial! Aku menutupi wajahku dengan bantal. Dan merasa benar benar malu. Aku bahkan lupa melepas helm, kemana akal sehatku saat itu? Untunglah besok adalah jadwal off. Setidaknya aku bisa menghindar dari pria itu selama satu hari, dan mengumpulkan sisa sisa keberanianku dulu, sebelum bertemu dengannya lagi. _____________ Today I don't feel like doing anything I just wanna lay in my bed Don't feel like picking up my phone So leave a message at the tone Cause today I swear I'm not doing anything (Jangan nyanyi) Lirik lagu lazy Song dari Bruno Mars, sepertinya sangat cocok untuk menggambarkan apa yang terjadi hari ini. Aku tidak ingin melakukan apapun, dan aku hanya ingin bermalas malasan di kasur, beberapa hari terakhir tamu di Restorant Pangestu Ibu membludak, membuat tubuhku pegal dan lelah, jadi hari ini aku nggak akan keluar kamar, apapun yang terjadi. Tidak ada yang bisa mengganggu jadwal off ku hari ini. "Nenk, Nenk bangun." Sayup-sayup suara Ibu memanggil dari luar kamar. "Hemm." Aku merubah posisi tidur dan menarik selimut, agar menutup seluruh tubuh. Sudah kutegaskan, ini adalah hari full istirahat, jadi aku nggak akan keluar kamar, sebelum aku puas tidur. "Nenk, ini udah jam 10. Libur kerja, bukan berarti libur bangun kan?" teriak ibu lagi. "Biarin Bu, Nenk masih ngantuk!" "Nenk, anak perawan nggak boleh bangun siang-siang, nanti rejekimu di patok orang!" "Patok ayam Bu, bukan orang." Benar-benar nih Ibu, nggak bisa lihat anaknya males malesan dikit. "Tapi di depan ada temen kerja kamu." Aku langsung mengeluarkan kepalaku dari balik selimut dan membuka mata. Bergegas aku membuka pintu dan terlihat Ibu sekarang sedang melipat kedua tangannya di d**a. "Siapa bu?" tanyaku penuh nada menyelidik. "Tadi ibu suruh bangun susah banget. Denger ada temen kerja langsung seger begitu. Jadi kamu lebih takut sama temen kamu daripada sama Ibu?" Aku nyengir pada ibu, yang sepertinya agak marah. "Hehehe, maaf bu." "Ya udah, sana temuin, kasian." Teman kerja? Tapi yang tahu rumahku hanya Allan. Apa akhirnya dia maafin aku dan akhirnya kita bisa kaya dulu lagi, nggak diem dieman lagi. Ya ampun aku nggak percaya, beberapa hari ini aku merasa benar benar kehilangan seseorang tapi akhirnya ... Ahhh aku sudah tak sabar untuk bertemu Allan. Aku segera bangun dan bergegas ke kamar mandi. Aku tidak ingin Allan menunggu lama, jadi aku hanya menggosok gigi dan mencuci muka ala kadarnya dan tanpa mengganti baju tidur pula. Jorok? Biarin lah. Cewek kalau udah cantik dari sananya, biar nggak mandi juga bakal tetep cantik. Di rumah hanya ada ibu. Adikku sedang sekolah dan Ayah juga sudah berangkat kerja. Buru buru aku keluar menuju teras lalu menyerukan namanya yang membuat ku bersemangat, akan tetapi ... "Kak Alll .... Tak kuteruskan nama yang kumaksud saat kudapati sosok pria yang kini tengah melihat lurus ke depan, duduk di kursi teras rumahku. Kurasa dia tidak mendengar saat aku hampir menyebut nama Kak Allan. "Rehan?" Aku membuyarkan lamunannya. Pria ini menoleh ke arahku lalu memperhatikanku dari ujung rambut hingga ujung kaki. Sepertinya dia heran, melihatku yang masih menggenakan piyama. "Kamu baru bangun? Atau aku yang datang kepagian?" ujar Rehan. Sialan, ini dia lagi nyindir bukan ya? Rehan tanpa seragam kerja rasanya aneh. Dia lebih keren dan santai. Padahal hanya menggenakan celana jeans hitam, kaos hitam, sepatu hitam, bak iblis kegelapan. Dia juga menggenakan anting kecil berwarna hitam di telinga kanannya. Akkhhh harus banget apa ya? Kalau ku bilang ganteng! "Masih niat bengong di situ?" tanya Rehan dengan nada heran. "Hah nggak kok. Cuma aneh aja, kamu kesini dan oiya, kamu off hari ini juga?" Mendadak gugup aku dibuatnya. "Iya, tadi aku sempet ke Resto dulu sih. Lupa kalau ternyata off." Dia berhenti sejenak lalu menarik nafas, dan kembali bicara. "Sebenernya, aku lewat operator dan nggak liat kamu disana. Jadi aku iseng liat jadwal kamu, dan akhirnya tahu kamu off." Aku mengangguk ngangguk tak fokus. Kalau aku tahu dia yang ada di teras, aku pasti bakalan mandi dulu rapih rapih dulu. Agak aneh sih. Tapi liat dia seganteng ini, aku jadi minder. "Kalau aku ngajak kamu jalan keberatan nggak? Aku udah ijin sama Ibumu tadi." "Ya boleh sih, tapi aku harus mandi dulu, ganti baju dan cewek kalau siap siap itu kan ribet ...." "Aku tunggu!" Rehan berseru, memotong rentetan kalimat yang masih banyak dalam pikiranku. Apakah ini akan jadi awal yang baik? ____________ Wangi parfum Rehan bersatu dengan angin, saat ia mulai melajukan motor. Dan baunya tuh enak banget. Tadi malem dia nggak kaya gini. Mungkin semalam efek parfumnya sudah hilang oleh keringat karena seharian kerja. Atau dia sengaja pake parfum ini karena mau ketemu aku? Ya ampun. Aku kok jadi senyum senyum sendiri. "Aku bukan ojeg Da, bisa kali pegangan dikit. Jangan duduk jauh jauh, kaya pacar yang lagi berantem." "Kamu ngarep banget ku peluk?" Ia melepas tangan kirinya dari stang motor lalu meraih tanganku yang ada di belakangnya. Menariknya kedepan, lalu memasukannya ke dalam saku jaket. "Kalau nggak mau pegang, masuk sini juga nggak papa." Aku mengulum senyum di belakang dan pipiku menghangat. Baru kemarin kami bicara dan hari ini, kami sudah seperti pasangan. Ahhh sudahlah, jangan berharap lebih. Di dunia ini satu satunya hal yang pasti adalah tidak ada yang pasti. Berharap itu nggak enak, aku pernah merasakannya. Dan aku nggak akan mengulanginya lagi. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN