Jadwal Off 2

1095 Kata
Rehan Aditya "Lah, Rehan. Kamu ngapain balik lagi?" Aku duduk di kursi bambu panjang, yang menempel pada dinding ketika Bang Ridan bertanya dengan mata dan tangan yang sibuk mengutak ngatik motor di hadapannya. Dia membuka bengkel kecil kecilan yang lumayan ramai di pinggir jalan dekat rumahnya. Kadang jika sedang off, aku sering membantunya, meski tak terlalu paham, tapi sekedar tambal tambal ban doank sih bisa. "Salah jadwal aku bang. Hari ini giliran off. Lupa!" jawabku santai. Dia hanya manggut manggut, menyeka keringat yang kini bercampur noda hitam dari oli di keningnya. Aku bersandar pada dinding, setelah melihat sekilas pada jam tangan. Masih pagi, sekitar pukul delapan. Apa lebih baik aku tidur lagi? "Jangan tidur. Masih pagi!" ujar Bang Ridan, tanpa melihat ke arahku. Lahhh, Bang Ridan seperti bisa membaca pikiranku. Tahu saja dia kalau aku sudah akan beranjak, menuju rumah, yang tak jauh dari bengkel. "Mau ngapain lagi bang, nggak ada kerjaan juga disini." "Kemana kek, maen kek. Kaya nggak punya temen aja kamu. Ajak cewek barangkali?" Dengan santai Bang Ridan berceloteh. Aku hanya menjawab sembari mendelik "Cewek mana sih bang lah?" "Cewek yang bikin kamu ngigo semalem. Nanda ... Nanda duuhh siapa sih?" Bugghhhh .... Kulempar saja Bang Ridan dengan botol air mineral bekas di sampingku, bukannya sadar dengan kesalahan, lemparan ku malah membuatnya terkekeh. Nanda atau Ananda tepatnya. Sebenarnya aku juga tidak tahu kapan dan kenapa aku bisa menyebut nama cewek itu semalam. Hanya Bang Ridan yang sempat membangunkanku, dan mengatakan aku mengigau, menyebut nama Ananda di sela sela rentetan teriakanku tentang Papa dan Mama. Sejak aku memutuskan untuk ikut Bang Ridan, aku memang kerap kali mengigau tentang Mama dan Papa. Tapi kali ini aneh juga, bisa bertambah nama Ananda disana. Nanda, cewek yang pertama kali ku lihat saat dia ada di pos security, cewek yang kulihat di kantin, dan cewek yang kulihat di operator. Dan terakhir kali, dia membuatku syok, karena dengan pertanyaannya saat di pantry. "Kamu lagi sedih ya?" tanyanya tanpa basa basi saat itu. Awalnya aku pikir mungkin dia cuma iseng. Tapi saat ku tanya maksudnya, dengan polosnya dia malah mejawab, "Ya gimana ya? Dari pertama ketemu, wajah kamu tu ya, kaya gimana gitu. Kaya orang yang nyimpen sesuatu. Kaya orang yang sedih, kaya ada banyak sesuatu di dalam diri kamu yang seharusnya keluar tapi malah kamu pendem." Orang ini aneh, bagaimana dia bisa tahu. Bukan sedih, saat ini pikiranku memang banyak yang terbagi. Tapi mana bisa mengambil kesimpulan hanya dari melihat wajah, memangnya dia paranormal? Lalu dengan bodohnya dia malah memintaku "Nihh nyender di bahuku. Nggak papa." Apa dia terlalu polos, minta orang asing untuk bersandar di bahunya. Dan saat ku tanya lagi, jawabannya cukup membuatku heran. "Jangan suka mendem sesuatu sendiri. Manusia itu makhluk sosial, mereka butuh manusia lainnya untuk saling melengkapi. Its oke, nggak perlu cerita apa masalahmu. Tapi bersandar di bahu seseorang bisa mengurangi beban, tanpa perlu menunjukan dimana letak kerapuhan." Dari mana pikiran polos itu datang. Sikapnya yang sok tahu ini, justru membuatku menghangat, aku nggak tahu ini perasaan apa. Tapi sejak saat kemarin, aku merasa akan ada sesuatu yang terjadi. You look like my next mistake. Karena tanpa sadar, tubuhku malah menariknya, dan membawanya dalam pelukanku. Aku terbilang orang yang tertutup di tempat kerja juga jarang bergaul dengan karyawan perempuan disana. Tapi Ananda, kenapa rasanya ada yang special. "Udah ngehayal nya? Sana berangkat. Jemput ceweknya." Ternyata setelah ku timpug, Bang Ridan masih memperhatikanku. Tapi benar juga! Tadi aku sempat, pergi ke area operator, aku juga tidak tahu kenapa. Mendadak saat pertama aku sampai di tempat kerja, orang yang pertama kali ingin kulihat malah dia. Tapi aku tak menemukannya. Aku enggan bertanya pada siapapun, aku takut ada sesuatu terjadi. Mengingat Nanda sempat dekat dengan Allan, lalu aku melihat jadwal kerja staff Operator dan Cheker yang menempel di dekat mesin input, dan mendapati nama Ananda Rhea Prahadi yang off. Pantas saja aku tak menemukannya. Tapi tunggu, jika dia Off, barangkali aku bisa mengajaknya keluar. Iya kan? Nggak salah kan? Aku tidak tahu dimana rumahnya, semalam aku hanya mengantarnya sampai di depan gang. Aku bahkan tak punya nomor ponselnya? Pada siapa aku harus bertanya. Ahh masa bodoh, malu bertanya sesat di jalan. Apa gunanya tetangga kalau nggak bisa dipake buat nanya. _____________ Setelah beberapa kali bertanya pada orang sekitar, aku tiba di rumah Nanda. Rumahnya tidak besar, tapi terlihat sejuk, ada banyak tanaman hias berwarna hijau yang membuat mata ini agak segar. Sempat ragu, apakah aku harus benar benar masuk kesana. Tapi ya sudah lah, sudah nanggung. Nggak lucu kalau aku harus balik setelah sampai di depan rumahnya. Aneh ya, padahal ini bukan pertama kalinya aku menjemput perempuan, tapi kenapa dengan Nanda rasanya gugup. Aku memberanikan diri mengetuk pintu lalu seorang wanita yang kuyakini Ibu dari gadis itu membuka pintu. Dia tersenyum sangat ramah dan kayanya memang baik banget. "Assalamualaikum bu." Tak lupa ku ucap salam, biar gugupku agak berkurang. "Waalaikumsalam. Ini siapa ya? Mau cari siapa?" Ini calon mantumu bu, kenapa nggak diajak masuk dulu. Hahhhh? Ya ampun aku mulai gila, bicara sendiri dalam hati. "Saya temen kerjanya Nan, ehm maksudnya Ananda. Anandanya ada bu? Sebenernya sih sekalian mau ngajak Ananda keluar. Kalau boleh bu?" Sumpah demi apapun, semua cewek yang pernah ku bawa nggak sekalipun aku bersedia untuk bertemu apalagi sampai minta ijin dulu buat ngajak keluar. Tapi sama Nanda? Lagi-lagi beda. "Wah, tanya Nenk nya dulu aja. Biar Ibu bangunin dulu. Dia itu kalau libur, jam segini belom bangun. Kamu duduk dulu ya." Hah? Belum bangun? Jadi dia itu tipe tipe pelor sepertiku juga nih. Aku mengangguk, lalu duduk di kursi teras rumahnya. Memainkan ponsel, menggeser geser beranda medsos sambil menunggunya. "Rehan?" Ku matikan ponsel, saat namaku disebut. Aku bangkit, dan memang mendapati Kanaya, yang masih menggenakan piyama, berwarna pink. Haduh imutnya. Aku bisa melihat rasa kaget di wajahnya. Mungkin dia pikir bukan aku yang mencarinya. "Kamu baru bangun? Atau aku yang dateng kepagian?" Bukannya menjawab dia malah bengong. "Masih niat bengong di situ?" "Hah nggak kok. Cuma aneh aja, kamu kesini dan oiya, kamu off hari ini juga." "Iya, tadi aku sempet ke restorant dulu sih. Lupa kalau ternyata off," Seruku. "Aku lewat Operator dan nggak liat kamu disana. Jadi aku iseng liat jadwal kamu, dan akhirnya tahu kamu off," tambahku lagi. Dia hanya mengangguk ngangguk tak jelas. Bukan jawaban yang ku inginkan. "Kalau aku ngajak kamu jalan keberatan nggak? Aku udah ijin sama mamah kamu tadi," ucapku dengan penuh percaya diri. Setelah menuturkan segala macam yang dibutuhkannya, ia kembali masuk. Dan aku kembali menunggu, karena you know lah. Saat wanita berkata tunggu sebentar, maka saat itu juga kau mungkin bisa pergi berkeliling dunia. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN