Rehan Aditya
Polusi udara di daerah Puncak sangat minim untuk saat ini. Tapi selang beberapa tahun lagi, pasti akan menyusul sesaknya Ibukota Jakarta, jika pembangunan Villa, dan pembantaian hutan liar tak dihentikan.
Karena ini hari Kamis, jalanan cukup, bahkan sangat lancar. Puncak adalah area rawan macet di hari hari wekkend seperti Sabtu dan Minggu. Rangkaian mobil yang terhenti dan tak bisa bergerak akan nampak meliuk bagai ular di sepanjang jalan.
Aku bisa merasakan Nanda, mengendus ngendus leherku dari belakang meski kepalaku tak bisa menoleh ke belakang. Astaga ada apa dengan nya? Aku kan geli, sedang membawa motor pula. Tapi jika ku protes, aku takut dia akan marah dan minta pulang. Padahal kami belum ada di setengah perjalanan pun. Apa badanku bau? Tapi aku kan sudah mandi.
Tangannya memelukku erat kala aku menambah kecepatan. Membuatku tersenyum sendiri, melihat untaian rambut panjangnya yang sebagian tak tertutup helm dan tertiup angin. Ini pertama kalinya si Acheng kembali merasakan hangatnya p****t perempuan setelah kurang lebih satu tahun ini ia bagai kekasih gelap.
Si Acheng ini nama kesayangan yang kuberikan pada jelmaan motor butut yang setia menemaniku sejak masuk kuliah.
Kembali ke Nanda, sejujurnya aku bahkan tidak pernah berbaik hati mempersilahkan karyawan wanita lain yang coba mendekat atau sekedar ikut nebeng pulang. Selalu ku buat alasan agar mereka tak jadi menaiki motorku, ya pengecualian untuk laki laki tentunya.
Entah kenapa rasanya kurang nyaman jika harus ada gosip miring, hanya karena aku mengantar seorang perempuan. Masalahnya, jangkauan Resto Pangestu Ibu ini cukup sempit. Baik laki laki maupun perempuan, akan secepat kilat menyerap berita dan menjadikannya bahan gosip. Mulut-mulut mereka sama saja lemesnya. Dan aku tidak ingin menjadi bagian dari bahan itu.
Tapi dengan Kanaya, semua terasa berbeda. Di hari pertama kami kenal dan saling bertegur sapa, malah aku yang berinisiatif mengajaknya pulang. Awalnya aku hanya kasian, mengingat dia anak perempuan, dan naik angkutan umum di jam-jam malam tampak agak berbahaya, meskipun aku tidak menaruh kasihan pada yang lain. Tapi anehnya aku tak tertarik memberi tumpangan pada yang lain. Hanya gadis aneh itu yang malah membuatku penasaran.
Setelah sekitar satu jam perjalanan, aku memarkirkan motor pada area wisata yang cukup terkenal di daerah Puncak. Bukit tempat kegiatan Paralayang atau dikenal dengan nama Gantole.
Rasa sejuk bahkan nyaris dingin menjalar ke seluruh tubuh saat kami berhasil mencapai bukit. Tidak ada jadwal penerbangan Paralayang hari ini, karena cuaca mendung, tapi kami masih tetap diijinkan naik ke puncak kalau hanya untuk duduk-duduk dan menikmati pemandangan indah dari atas sini.
"Nih diminum." Aku sempat membeli dua cangkir bandrek untuk menghangatkan tubuh. Ku sodorkan pada Nanda agar ia tak terus terusan menggosok-gosok tangannya untuk melawan rasa dingin.
Puncak hari ini berkabut. Tapi tidak terlalu tebal, jadi nggak menghalangi pandanganku untuk meneliti wajah polosnya yang tanpa make up tebal layaknya di tempat kerja. Hanya tercium aroma bedak bayi saat kami akan berangkat kesini. Ada beberapa titik jerawat di wajahnya yang bukannya membuat ilfil, justru membuat wajahnya manis.
"Basi banget ya, aku malah ngajak kamu kesini." Aku mencoba membuka obrolan, setelah beberapa saat kami hanya diam, melihat pemandangan. Kemarin aku tidak segugup ini. Kenapa aku jadi seperti Abg yang lagi Pdkt?
"Eh, nggak papa kok. Enak lagi disini, pemandangannya bagus. Pasti udah sering kesini ya. Sama pacar?" Ananda tersenyum, ada lesung pipit kecil di pipi kanannya yang baru terlihat jelas hari ini. Rasanya gemes banget! Pengen ku cium.
"Haha, kalau ku jawab iya gimana?" tawa garing yang kupaksakan. Pasti Nanda akan berpikir aku orang yang membosankan.
"Heeuuhh, berarti aku nggak special donk!" ujar Nanda dengan nada merendah yang terdengar manja. Sayang sekali yang dikatakannya tidak benar. Justru dalam kurun waktu yang belum genap 24jam ini, aku merasakan sesuatu yang akan membuatnya jadi special.
"Special kok Da, orang yang tiba tiba aja nawarin bahunya buat nyender itu special banget," ujarku. Dia terkekeh kecil lagi. Sepasang matanya berbinar saat ia mulai bercerita ini dan itu membalas penuturanku.
"Kamu pernah kesini?" tanyaku asal. Aku hampir kehabisan topik. Sulit sekali ya mencari bahan obrolan saat pertama kali kenal. Agak lama ia terdiam, dan seperti ragu- ragu meski akhirnya ia menjawab ...
"Pernah. Sama Allan," jawab Nanda sembari memutar mutar gelas bandreknya.
Raut wajahnya jadi berubah. Sorot matanya meredup, raut wajah yang tadinya bisa dikatakan ceria jadi berubah. Aku lupa akan sesuatu. Bukankah Ananda ini dekat dengan Allan selama ini? Apa ada sesuatu yang terjadi.
Anak anak bilang Nanda dan Allan mungkin putus. Tapi tunggu, apa gunanya aku jadi berfikir demikian? Saat sebelum aku mengantarnya pulang semalam, ia juga jelas jelas terlihat sedih dengan kepergian Allan. Aku semakin tertarik dengan hubungan macam apa yang mereka jalin.
"Kamu sama Allan udah putus?" tanyaku tanpa basa basi.
"Kita nggak ada hubungan," jawab Nanda. Terselip rasa enggan dan kecewa pada setiap kata yang diucapkannya. Sebenarnya kenapa?
"Semua orang tahu kalian pacaran."
"Tapi kita nggak pacaran," jawab Ananda jutek. Jutek yang melebihi juteknya sikapku.
"Masa nggak pacaran kaya gitu."
"Kami cuma deket Han, kami ini cuma teman." Nanda sepertinya mulai kesal. Tapi rasa ingin tahuku mendadak timbul, aku masih terus mengorek informasi yang bahkan akupun nggak tahu apa gunanya. Tapi mendengar ia berkata just friend, kenapa rasanya hatiku agak lega.
"Teman tapi mesra?" celetukku. Sontak saja aku merasakan cubitan kecil di ginjal yang membuatku meringis.
"Aahhh ampun Da ..." tangannya berhenti mencubit, lalu beralih melipatnya di depan d**a. Tatapannya agak ngeri, tapi malah terlihat sedap dan lucu. Dia berusaha terlihat galak, tapi sayangnya nggak bisa. Wajahnya terlalu polos untuk dibuat menakutkan.
"Kemaren- kemaren kamu jutek, kenapa sekarang jadi kepo?" ujarnya, dengan bibir cemberut. Sudah berapa kali aku tersenyum dibuatnya, karena hal hal receh. Ada apa sih denganku?
"Kamu tahu jawabannya kok Da," ujarku, sembari mengacak rambutnya. Dia menepis tanganku perlahan, sementara tanganku malah meraihnya, menggemgamnya erat, seraya berkata.
"Karena kamu Special, cuma kamu cewek aneh yang dengan polosnya, bisa minta orang asing buat nyender."
Aku dan Ananda terpaku, mungkin karena setelah itu, aku memfokuskan pandanganku padanya. Agak lama kami diam tanpa suara dengan tangan masih saling menyatu. Tatapannya yang sendu kini berpaling saat kulit kami merasakan tetes demi tetes gerimis yang datang tak di undang. Untaian tangan kami terlepas. Bergegas aku dan Kanaya berdiri, ku lepas jaket jeans biru yang ku kenakan dan dengan sengaja ku gunakan untuk menutupi kepalanya.
"Kenapa jaketnya di lepas, nanti kamu kehujanan!"
Di saat seperti ini malah protes. Tanpa persetujuan, aku buru-buru merangkulnya.
"Bawel, ayo jalan!" Aku tak lagi mendengar protesnya, karena tergesa-gesa menuruni anak tangga dan mencari tempat berteduh bersama wisatawan yang lain.