Tawa Kecil Pendamai Hati.

1393 Kata
Ananda Rhea Prahadi Hujan deras mengguyur kota kecil yang menjadi tetangga dari kota hujan. Makin tebal saja kabut yang menyelimuti Puncak. Aku dan Rehan berada di depan sebuah warung yang tertutup. Berteduh sama seperti beberapa pasangan yang lain. Pasangan? Iya kami terlihat seperti pasangan bukan? Sudah hampir satu jam hujan belum menampakan tanda tanda untuk reda, dan sejak itu pula tangannya tak berniat untuk terlepas dari tanganku. Sesekali dia menggosoknya, lalu meniupkan hawa panas dari mulut yang sebenarnya hampir nggak ngaruh dengan suhu di sekitar kami. Pria ini sepertinya amat antusias untuk menghangatkanku. Rambutnya mengkilat basah karena air hujan. Kasihan, tadi dia malah menutupi kepalaku dengan jaketnya dan memaksaku berlari. "Masih dingin?" tanya Rehan sambil menatapku. Tatapannya teduh banget. Dia malah nanya keadaanku, padahal aku bisa melihat bibirnya, yang bergetar menggigil. Puncak dengan suhu normal saja sudah sejuk, apalagi di tambah hujan, makin seperti Kutub saja agaknya. "Nggak kok. Ada di sekitar kamu, bikin suhu di sekitarku menghangat." Aku tersenyum. Entah perasaanku saja, atau memang kedua pipinya agak bersemu. Wajahnya berpaling, dengan tangan yang masih menggenggamku. Padahal sebelumnya ia hampir saja membuatku kikuk, saat ia mengatakan aku special. Alasan klasik, sama seperti yang pernah disebutkan Allan. Allan ya? Beberapa minggu yang lalu, untuk pertama kalinya Allan membawaku kesini. Saat itu hubungan kami masih sangat baik tapi juga tak terlalu dekat. Dengan tetes hujan yang juga hampir sama. Karena 3 bulan terakhir sebelum Tahun Baru memang Sudah biasa menjadi Bulan dengan titik tangisan langit tertinggi. Bedanya saat itu aku merasa bahagia. Secara cowok yang ku taksir membawaku ke tempat indah seperti ini. Tapi sekarang semua berbeda. Sepertinya tak akan ada lagi Ananda dan Allan. Hanya ada Ananda dan kenangan. Atau hanya Ananda dan Rehan. Hujan perlahan mulai berhenti. Meski matahari belum menampakan batang sinarnya. Rehan menuntunku menuju parkiran motor. Dengan tangan yang masih tertaut, kami membayar karcis parkir. Aku memeluk tubuh Rehan yang basah dan terbalut kaos hitam tipis. Rasanya sangat dingin meski sudah ku gunakan jaketnya. Dia seperti menyadari perasaanku tangan kirinya terlepas dari stang dan mengusap tanganku yang melingkar di perutnya. Tak ada obrolan yang terjadi, tapi jantungku terasa berdegup lebih cepat dari biasanya. Rasa yang bahkan nggak kurasakan saat bersama Allan. Apa sih bedanya? Mereka sama-sama pria dan kami sama-sama berteman kan. Tak lama kemudian Rehan, membawaku masuk ke dalam gang. Kami berhenti di sebuah rumah bertingkat dengan cat berwarna hijau, mungil tapi terlihat nyaman. Aku turun lalu di susul Rehan yang tiba tiba saja membantuku membuka helm. "Maaf ya, ini rumah ku. Aku ganti baju dulu nggak papa kan? Dingin banget rasanya. Abis ini ku antar kamu pulang," ujarnya. Lagi lagi tanpa menunggu persetujuanku, ia sudah menyeret tanganku. Membawaku masuk. "Kamu tunggu sini ya. Aku buatin minum dulu," Ia menghilang di balik pintu dapur. Rumahnya kecil tapi rapi. Aku tak melihat ada foto masa kecil atau seseorang yang bisa menjadi kandidat orang tua Rehan. Hanya ada foto foto Rehan dan sepasang suami istri juga anak kecil yang sepertinya kakaknya. Suasananya sunyu, macam nggak ada kehidupan. Dimana orang orang? "Nih diminum." Rehan kembali dengan secangkir gelas besar berisi teh manis yang masih mengepul. Haduh bisa kembung perutku, dari tadi di ajak jalan, bukannya di kasih makan malah di kasih minum terus. Tapi mana berani aku protes. Malu juga, kalau tiba tiba aku minta makan di rumah orang. "Kamu laper ya Da, Maaf ya! Aku ngajak anak orang bukannya ku kasih makan, malah ku kasih minum terus." Dia tertawa kecil, sedang aku melongo, beringsut antara malu dan kenyataan kalau memang aku lapar. "Ya udah, aku ganti baju dulu ya. Abis ini aku masakin sesuatu buat kamu!" "Masak apa sih, paling juga masak aer!" ujarku dengan mata mendelik. "Nah tuh tahu. Biar sekalian kembung dah tu perut hahaha." Untuk pertama kalinya Rehan yang jutek ini tertawa lepas di hadapanku. Menampakan deretan gigi putih, yang membuat hatiku menjadi nyes. Jauh berbeda dengan pandangan matanya kemarin. Sorot mata gelap yang memancarkan kesedihan. Sesuatu yang membuatnya memelukku dengan tiba tiba saat di Pantry. Untuk sesaat aku merasa ingin sekali, menjaga tawa itu agar tak memudar. Ingin mengunci tawa hangat itu, dan hanya untukku. *** Rintik hujan di luar jendela masih deras, aku sedikit mengintip dari balik jendela dan mendapati tetesannya yang memenuhi kaca. "Nanda," panggil Rehan, ia kembali dengan sepotong kaos kedodoran di tangannya, setelah beberapa saat meninggalkanku di ruang tamu. "Kemejamu basah Da, ganti dulu di sana ya. Itu kamarku." Tangannya menunjuk pada sebuah pintu, bertempelkan gambar tengkorak hitam. Cocok memang, dengan perangainya yang jutek, meski kejutekan itu mendadak hilang hari ini. Kenapa tiba tiba saja aku jadi ngeri ya melihatnya? "Kenapa malah bengong. Sana masuk, nggak ada siapa siapa kok," jawabnya dengan enteng. Rehan tidak sadar bahwa masalah ku saat ini adalah justru karena tak ada siapa- siapa, lain arti jika penghuni lain ada disini. "Ahh, iya aku lupa lagi ngajak bocah." "Ih aku bukan bocah!" gerutuku. "Ya terus apa? Kamu sampe sebegitu takutnya buat ganti baju. Kalau kamu takut, kunci aja pintunya dari dalem. Ya sebenernya aku bukan orang yang terlalu ribet buat bahas privasi, norma atau ...." "Oke oke, aku ganti baju!" Aku mengalah, karena sepertinya Rehan akan memulai acara pidato. Daripada mati bosan karena membahas hal yang nggak menarik lebih baik aku diam. "Great!" tangannya terulur mengacak rambutku. Ada apa sih dengan kaum pria, kenapa mereka seneng banget ngacak ngacak rambut. "Aku di dapur ya, nanti selesai ganti baju susul kesana!" "Emang masakan apa yang mau kamu bikin buat orang yang katanya special" Aku mendelik, memajukan bibir antara meremehkan dan bertanya-tanya. "Loh bukannya tadi minta di masakin aer," jawab Rehan enteng dengan ekspresi yang dibuat buat bodoh. Gemas sekali aku dibuatnya. "Rehaaannnn!" "Becanda Da, Ya Allah. Aku mana bisa masak. Tapi karena kamu special, ku buatin yang paling simple. Nasi goreng aja ya?" Entah ini hanya perasaanku, atau memang Rehan seperti orang yang habis mendapat kecelakaan. Apa kepalanya terbentur sesuatu? Sejak bertemu dengannya hari ini, aku seperti melihat sosok lain. Rehan yang jutek dan tak banyak bicara, mendadak bawel dan terus saja menggodaku. Bukan menggoda dalam arti dewasa. Maksudku dia terus membuat plesetan, berusaha membuatku tertawa, berusaha mencairkan suasana meski terdengar amat garing. Aku masuk perlahan lahan ke dalam kamarnya. Dan diluar dugaan, kupikir aku akan menemukan kamar berantakan layaknya kamar teman-teman yang pernah ku kunjungi. Kabar buruknya, rupanya aku kalah saing. Dominasi warna abu abu dan putih terlihat macho di mataku. Semua barang tertata rapi, ah tidak, maksudku tertata sangat rapi. Nyaris tak ada debu. Sangat berbanding terbalik dengan gudang tempat baju bertumpuk, yang ku sebut kamar. Ada beberapa foto dan jas almamater kampus yang dulu sempat menjadi incaran ku. Tapi sayangnya kendala biaya adalah alasan klasik untuk orang-orang dari kalangan menengah ke bawah sepertiku. Cukup sudah mataku travelling di kamarnya. Aku segera mengganti atasan kemeja biru dengan kaos oblong yang ternyata memang benar benar kedodoran di tubuhku. Harumnya parfum Rehan kini menempel dan mengelilingiku. Menggantikan setiap oksigen yang kuhirup. Enak banget ! Aku keluar dari kamarnya, terdengar suara minyak khas bumbu tumis, seperti hujan deras yang baru saja muncul. Wanginya menyeruak, membuat perut kian bertabuh. Entah karena efek lapar atau memang dia jago masak. Yang jelas tak lama kemudian, dua piring nasi goreng hangat, lengkap dengan toping sosis dan kerupuk sangat siap untuk lepas landas menuju perut. "Berdoa dulu kali," ujar Rehan saat aku hampir memasukan sendok ke dalam mulut. "Iya iya!" Kuletakan sendok dan berdoa, memohon pada yang Kuasa agar makanan ini seenak penampilannya. Dengan senang hati ku raih sendok lalu bersiap memasukkannya ke dalam mulut. "Bentar Da!" pinta Rehan lagi. "Kampret, apalagi sih Han?" Ini si Rehan niat nggak sih ngasih makan. "Nggak kamu foto dulu? Cewek biasanya kan kalau mau makan di foto dulu?" "Kelamaan!" Tanpa basa basi lagi ku lahap Nasi goreng buatan orang setengah tidak waras ini. Dia sudah membuat ku gila. Aku sudah kelaparan dan dia masih sempat mengajakku duel. "Pelan pelan donk, nggak ada yang bakal ngabisin juga." Beda dengannya yang nampak kalem dan malu-malu. Aku memasukan sendok demi sendok dengan penuh sukacita bahagia, bahkan hampir tanpa jeda. Selain karena sifatku yang tidak ingin berpura pura manis di depan orang, nasi goreng buatan Rehan memang enak banget. Sempat aku berfikir apa jiwaku dan Rehan tertukar? Kok aku yang berjenis kelamin perempuan ini bisa dengan pedenya bertemu orang lain saat belum mandi. Membiarkan kamar berantakan, dan tak bisa memasak meski bekerja di rumah makan. Hidup memang tak seadil itu ternyata
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN