Ini mungkin adalah waktu yang biasa-biasa saja menurut kalian, tetapi untuk Zee wanita malang itu, ini adalah angka keberuntungan. Kita lihat saja apa yang membuat Zee mengatakan bahwa pukul dan juga waktu seperti ini adalah angka keberuntungan.
Dia berjalan mengikuti arah mata angin, ingin rasanya berhenti namun kaki dan juga otaknya tidak berjalan secara beriringan, di satu sisi kakinya mengatakan untuk diam, dan otak nya memintanya untuk tetap berjalan.
Sekarang sudah pukul sebelas malam, dingin tidak lagi di rasakan oleh Zee, dia juga berjalan dan terus melewati jeruji besi yang terlihat hitam tanpa sekalipun ada penghambat.
Dia berjalan dan berjalan, sepertinya ini akan menjadi perjalanan dia yang panjang, yang dia lihat sekarang adalah kegelapan dan jangan lupa untuk suara dari arah yang berseberangan yang datang menganggu dirinya.
Zee tidak bisa melihat ke arah belakang, dia juga tidak bisa menoleh ke samping kiri dan kanan, nafasnya siapa gerangan yang menghantui dirinya, ini sungguh tidak adil.
Di luar sana wajah Zee tampak meronta-ronta membuat Maya dan beberapa pembantu lain merasakan khawatir yang sungguh luar biasa, pasalnya saat ini Zee telah mengeluarkan keringat yang sudah bercucuran, bahkan wajahnya dan bibir itu menandakan dia seperti orang mati saja.
"Zee, ayo bangun," mereka semua menggoyangkan bahu dari Zee dan mencoba untuk tetap menenangkan wanita yang hampir putus asa itu,"kenapa dengan kamu, Nak cepat bangun jangan buat ibumu ini merasa seperti orang yang tidak waras," pinta ibunya dan menangis tersedu-sedu seperti orang yang telah kehilangan.
Zee dia akan yang berbeda benar-benar merasakan ada seseorang yang memangil dirinya, namun kenapa dia belum bisa menoleh sedari dia berusaha untuk menggerakkan kepalanya tetapi tetap juga tidak bisa.
Zee mendapati jam yang sangat besar di tempat itu, rasanya dia bingung tempat ini terbagi menjadi dua, ada yang merah dan ada juga yang putih, kakinya tidak juga bisa membantunya memilih jalan yang tepat, maka dari itu, dia memutuskan untuk berada di tengah.
Ini bukan surga, dan juga bukan neraka, ini bukan segala yang ada pada labirin itu, Zee hanya di minta untuk mengikuti semua arus perjalanan itu.
Dia telah linglung seperempat jam lamanya, dan kini suara yang datang ke arahnya sungguh sangatlah membuatnya merinding, bila matanya seakan ingin keluar kakinya ingin melompat lebih jauh dari tempat ini, namun semuanya di kekang habis-habisan, dia bernapas saja untuk saat ini sudah sangat bersyukur.
"Apakah kamu mengetahui di mana kita?" tanyanya dengan kata kita,"yah, apakah saya sedang berada di dunia penghakiman?" dia hanya busa bertanya akan hal itu dan menatap ke arah depan,"tidak, kamu hanya ingin menentukan satu pilihan di jam 12 yang tepat, dan mungkin itu akan kamu kabulkan," ucapnya dengan kata kami lagi.
Zee benar-benar penasaran, saking penasarannya dia tertawa dan bisa menoleh ke samping kiri, dia tidak menyadari itu semua, yang ada dia melihat ke arah jam dia belas itu dengan cepat tanpa beban seperti waktu yang lalu.
"Pukul 12, apakah bisa merubah hidupku menjadi lebih baik dan dia Miracle dapat menjadi milikku?" sontak bibirnya benar-benar durhaka, dia tidak tahu entah ini permainan atau sebaliknya, namun yang pasti dia hanya asal-asalan mengatakan hal itu.
"Baiklah, perlahan tapi oasti ingatlah apa yang kamu katakan saat ini akan menjadi kepunyaan kamu beberapa tahun lagi, tetapi ingat jalan yang kamu tempuh sungguh luar biasa, kamu akan di aniaya dan kamu juga akan di ambil keperawanannya," suara itu benar-benar membuat Zee gentar tetapi itu hanya untuk sebentar saja, Zee kembali tertawa lagi, dia hanya memikirkan suatu hal.
Zee memikirkan bagaimana bisa dia mendapatkan hati lelaki yang sudah ada pemiliknya, di tidak tahu bagaimana dan sampai kapan dia digeluti oleh perasaan cinta yang bodoh ini.
Selebihnya Zee hanya berjalan menuju barat, dia juga masih tidak sadarkan diri mengapa dengan dirinya yang kadang sadar dan sebentar lagi sudah hilang kesadaran.
Bola matanya terbuka dengan jelas, Zee menarik napas dalam dan membuangnya kakinya terasa keram dan juga tubuhnya seakan baru saja di lepaskan dari penghakiman,"ada apa, apakah dia sudah bangun?" Pertanyaan pertama yang di ucapkan oleh pembantu yang saat ini datang membawakan ramuan.
Dia tidak tahu lagi harus berbuat apa-apa saat mengetahui bahwa Zee kejang-kejang, dia tidak tahan untuk melihat wanita tua itu yang selalu menangis dan menangis, tepat pukul 12 lewat 4 saat ini dia terbangun, Zee tampak lebih segar, dia akhirnya bertanya kepada orang yang berada di sana.
"Untuk apa kalian berada di tempat ini? apakah kalian tidak tidur?"
"Apa?"
"Kenapa, ibu apakah ibu juga tidak tidur ini sudah larut malam?"
Bola mata dari Zee mengarah kepada mereka satu persatu, dan tentunya jangan lupa untuk jam yang serasa familiar bagi dirinya, dia menatap dan juga mencoba untuk melihat lebih tajam apa maksud dari jam yang dia lihat familiar itu.
Pagi telah datang dan semua bekerja dengan baik, ada beberapa orang yang sedang membersihkan rumah dan beberapa orang lagi yang memasak, mereka terlihat sangatlah lihat dan juga badan mereka yang rasanya sudah terbiasa bangun.
Kali ini, Miracle belum bangun badannya sudah sangat lelah, pasalnya semalam dia harus lembur mengerjakannya beberapa proyek yang akan di meetingkan untuk siang ini.
Dia menarik napas dan membuka selimut yang menutupi wajahnya, terlihat hidung yang mancung menjadikan dia terlihat tampan sekali.
"Apakah Vanessa sudah bangun?" tanya lelaki itu menatap ponselnya yang bertemakan Vanessa,"kenapa dia semakin hari semakin cantik saja, aku bahkan tidak bisa mengontrol diri," gumamnya dan menatap dengan tatapan sendu foto itu.
Dia berusaha bangkit dari tempat tidurnya, hanya melihat wajah dari Vanessa sungguh membuat dirinya ingin sekali memeluk wanita itu, merepotkan peraaaan orang lain saja, ini benar-benar membunuhnya.
Dia mandi, terlihat dari genangan air yang saat ini melintasi tubuhnya dengan handuk yang dia lapisi di bagian pinggangnya dan terlihat susunan tulang rusuk yang sangat terbentuk, dia hanya bisa menatap dengan tatapan kagum bentuk tubuhnya sendiri
Wanita yang saat ini sedang memakai liptint mencoba melihat foto dari Miracle yang membuatnya tidak tidak senyenyak malam kemarin, dia selaku kepikiran dengan wanita yang ada di dalam rumah itu.
Yah, wanita yang tidak lain adalah Zee, dia takut dari sorot mata itu mengatakan bahwa akan ada kata perselingkuhan di dalam hubungan yang berjalan lancar untuk saat ini.
Dia meletakkan kembali liptint itu dan mencoba untuk menenangkan pikiran dia tahu saat ini dia mencintai Miracle hingga dia tega untuk berpikiran negatif, dia juga tahu mencintai dalam hal ini sungguh sulit di dukung dari perekonomian dia, dan juga dari mana dia berasal.
Memang iya, dia berasal dari orang yang bukan sepenuhnya kaya, dia juga takut kalau nantinya dia menjadi korban dari pacarnya seperti beberapa tahun yang lalu.
Flashback off
Semua orang sudah berada di tempat itu, dengan hiasan yang tak kalah sempurna bagaikan pernak-pernik yang menggantung di segala ruang, wanita dengan jilbab putih serta semuanya yang serba putih telah menunggu kedatangan dari lelaki yang ingin menjadikannya istri dan ibu bagi anak-anak kelak.
Semua orang sudah datang, dengan make-up yang di atur dan juga pakaian yang sudah sangat pantas di kenakan, duduk pada deretan kursi yang telah disediakan.
Para brismaid yang ada di tempat itu dengan nuansa pakaian berwarna pink membuat mereka terlihat tidak sabaran lagi sewaktu melihat pengantin wanita telah keluar.
Namun, ada sedikit hal yang membuat dirinya khawatir yah, wanita yang saat ini menunjukkan wajah linglung, pasalnya dia tidak dapat menghubungi nomor lelaki yang akan menjadikannya istri, dia juga tidak melihat pertanda akan datang lelaki itu.
Ini sudah dua jam berlalu dan belum ada sama sekali batang hidung dari pasangannya, ini membuat beberapa tamu undangan pergi, ini juga membuatnya hampir habis kewarasan.
MC yang mengambil alih segera menenangkan situasi.
"Para hadirin yang berbahagia, kami mohon dengan segenap kepercayaan agar kita sama-sama menunggu kedatangan dari mempelai pria," dia menggunakan microphone saat mengatakan hal itu sehingga tampak lebih jelas sekali mereka dengar.
Ada beberapa orang yang sangat ribut, dia bahkan sudah memakan semu makanan yang tersedia di sana, tetapi dia tidak mau untuk diam,"apakah ini adalah acara untuk menunggu atau festival semacamnya?" tanyanya membuat terdiam MC lelaki itu dan menatap ke arah wanita yang tidak lain adalah Vanessa.
Vanessa menunduk pasalnya ini sudah pukul empat sore, sedari tadi pagi mereka telah mengenakan hena dan juga semacamnya namun dia malah menjadi seorang pengantin yang ditinggalkan.
Satu jam telah berlalu dengan sangat cepat, dia sudah putuskan untuk mengahakiri semua ini, dia juga sudah berdiri dan meminta microphone itu kepada lelaki yang tadinya berperan sebagai MC.
"Jangan, Nak untuk apa kamu meminta itu dia pasti akan datang, ibu sudah mengetahui sifat dia yang asli," ucap ibunya seperti nada yang membisikkan sesuatu kepada Vanessa.
"Apakah ibu yakin dengan apa yang ibu katakan sekarang ini?" air matanya hampir saja lolos keluar dan melunturkan make-up yang dia pakai.
"Ibu yakin," ucapnya dan Vanessa semakin yakin kalau dia lelaki yang telah menghancurkan hari bahagianya, tidak kan pernah datang lagi.
Zee melangkah lebih deona dengan tawa yang dia sengaja rancang demi kebaikan dia di depan semua orang.
"Maaf, saya baru menyampaikan semua ini, tetapi ada satu hal yang perlu kalian tahu, pernikahan ini di batalkan, lelaki nya memilih pergi dengan wanita lain, dan meninggalkan saya wanita yang tidak mempunyai apa-apa ini," semua orang menatap histeris Vanessa, ini sungguh miris dan teramat miris.
Ingin mengumpat tetapi semua orang tahu bahwa ada yang tidak beres dengan hal ini.