HARI BARU

1522 Kata
Untuk mengawali saat ini, tentunya Vanessa sudah bangun, dia sudah sadar akan semua tipu daya pada masa lalunya, ingin mengatakan trauma? jelas-jelas dia sudah lama dan bahkan berlarut-larut untuk trauma. Dia hanya ingin membuka lembaran baru, ingin membuka setiap di mensi baru, dan mengukir masa yang akan datang bersama lelaki yang dia pilih. Firasat hatinya tidak pernah salah, bahkan dia juga tidak ingin mengecewakan Miracle, dia berjalan membuka engsel pintuu, hal yang terutama dan pertama dia lihat adalah pembantu yang ingin membangunkannya sudah berada di depan pintu kamarnya. "Hayo, apakah bibi ingin membangunkan ku?" tanyanya dengan bole mata yang dia sipitkan. "Iya, tumben nyonya sudah bangun sepagi ini dan juga sudah rapi, apakah ada gerangan yang akan datang menghampiri?" tanyanya karena sudah akrab dengan Vanessa. Vanessa tertawa kecil, sudut bibirnya terbentuk dengan sendirinya, melangkahkan kaki ke depan dan pergi meninggalkan bibi itu, sedangkan bibi itu mengikuti pergerakan dari Vanessa dari arah belakang, dengan wajah yang linglung melihat kenapa dengan Vanessa. "Nyonya? kenapa dengan anda, sepertinya ada hal yang lucu? tetapi menurut saya ini adalah hal yang biasa?" dia terlalu cemas untuk hal ini, sehingga wajahnya terlihat begitu gelisah. "Tidak apa-apa, saya hanya ingin tertawa di pagi hari ini, saya dengar__" ucapnya terpotong dengan langkah kaki yang berhenti juga,"ada pa Nyonya?" sambungnya dan menundukkan kepalanya,"kalau di pagi hari tersenyum bisa-bisa satu hari itu dia akan merasakan kesenangan yang di luar dugaan, apakah itu benar?" dia kembali lagi berjalan dan menatap ke depan dengan tatapan penuh harapan dari bibinya. Bibinya kembali lagi menertawakan Vanessa, sikapnya benar-benar membuat dirinya terlihat gemes dia menatap ke bawah, tangga dari kamar ke ruang tengah dan hendak berkata,"tidak, itu hanyalah sebuah dongeng apakah, Nyonya percaya pada sebuah dongeng?" tanyanya dan membuat langkah wanita itu terhenti. Di sisi lain, kali ini Zee memberikan makanan itu kepada Miracle, lagi-lagi dia harus menahan rasa sakit hati yang dalam untuk saat ini, bagaimana tidak sakit? di depan matanya sendiri dia mendengarkan dan melihat betapa keji perbuatan dari majikannya. "Lihatlah, apakah kamu tidak melihat pakaian yang rusak ini?" tanyanya di depan Miracle tetapi arah pembicaraan itu menuju kepada Zee. "Benar, dan sungguh Nyoya saya bahkan tidak melihat sama sekali gaun itu saya setrika, maaf Nyonya," dia berlutut dan ketika berlutut naasnya dia di gemparkan badannya oleh Mutiara. Bagai mendapatkan seribu kesalahan, dia tidak bisa lagi berbuat apa-apa, hanya meneteskan air mata itu, Miracle yang melihat itu tidak tahu apakah yang di katakan ibunya benar atau tidak, namun dia harus pergi melihat waktu akan selalu berjalan. "Baiklah ibu, kalian urus saja Zee aku akan pergi ke kantor," dia mencium kening dari ibunya, ayahnya yang melihat itu tidak tahan lagi, ingin membantu anak gadis yang malang itu, namun dia belum sanggup, buktinya sama sekali tidak ada yang mengarah kepada Zee. "Kalau begitu, saya pergi dulu istirahat, segera selesaikan ini semua, Sayang," ucap lelaki itu dan menunduk pergi tanpa sekalipun melihat wajah Zee. Zee merasa di hina, dia benci dengan situasi ini, dia benci kepada Miracle kenapa dirinya terlihat menyedihkan pada saat-saat seperti ini, tidak ada yang menolong dirinya, dan bahkan tidak ada yang membantu dirinya, sekarang kepalanya yang menunduk tadi sudah kembali dia tegarkan, dan air mata itu sudah berhenti seiring kepergian dari Miracle dan juga Alexander. "Apakah Nyonya benar-benar melakukan hal yang sangat kotor ini?" tanyanya dan menatap dengan tatapan bengis kepada Mutiara. Mutiara tidak tahu apa yang di maksud oleh wanita ini, apakah kesalahan yang dia perbuat di lihat oleh wanita ini? ada berbagai rahasia yang dia simpan, jangan sampai terbongkar, bisa-bisa hidupnya hancur babak belur. "Apakah yang kamu maksud, dasar pembantu yang tidak tahu malu," bibirnya terbuka dan badannya sudah goyah. "Saya bahkan melihat apa yang anda perbuat, dan sekarang?" dia tertawa dengan penuh kemenangan, drama yang mereka perankan saat ini, adalah drama yang sangat indah. "Jangan, kamu terlalu bodoh untuk semua ini," wajahnya sudah ketar-ketir. Zee ingat waktu saat itu, dia melintas ke arah kamar dari Miracle, tetapi ada pergerakan yang dia lihat cukup menganggu matanya, dia kembali mundur dari posisinya yang tadi sudah melangkah,"apakah itu?" "Wah, ini benar-benar jangan sampai dia menjebak aku," gumamnya dan segera mengambil potret yang cukup jelas dari arah kejauhan. Yah, sekarang ini dengan gunting yang berada di tangannya dan juga dengan pakaiannya sendiri yang bermerek mahal, dia gunting dan karena Zee adalah orang yang bertugas dalam satu Minggu ini untuk menyetrika pakaian. Dia terlihat bangga saat merobek semua bagian pakaian itu, Zee juga bukan pembantu yang bodoh dia mengambil salah satu video durasi pendek, dan menyimpannya, sebelum benar-benar pergi Zee menyeringai, dia bahkan tidak lagi terlihat sebagai pembantu yang menyedihkan. Ibaratnya dia hanyalah pembantu yang menyedihkan di luar, tetapi kalau kepada Mutiara, dia terlihat begitu dan sangat begitu menyeramkan, membuat Mutiara sendiri tidak sanggup untuk berkata-kata. Selebihnya mereka berdua saling tatap menatap, wajahnya yang penuh dengan dendam, dan juga kedua tangan yang sudah mengepal, Mutiara memutuskan pandangan itu, dan pergi begitu saja, dia malu untuk semua yang dia lihat dan perbuat ini. *** Seperti biasa, kini sepasang kekasih itu sedang berjalan bersama menuju kantin, mereka akan makan dan berbincang-bincang, setibanya di kantin mereka berdua memesan makanan. "Apakah tidak ada hal yang ingin kamu bicarakan?" tanya lelaki itu memegang tangan dari Vanessa. "Tidak ada, pikiranku sudah kosong ketika aku melihat wajahmu," ucapnya dengan nada yang sangat memuaskan hati Miracle. "Apakah wajahku terlihat sangat ganteng, sehingga kamu menginginkan wajahku?" tanyanya dan tersenyum. "Bukan wajahmu saja, tapi aku hanya memikirkan setiap saat semua bagian yang menyangkut pada hidupmu," otaknya sudah Travelling. Pagi ini telah kembali hadir di temani dengan perasaan yang ketar-ketir dan juga perasaan yang sudah di four aduk. Perasaan yang di campur aduk ini, berlaku kepada Vanessa pasalnya dia baru saja mendapatkan notifikasi dari Miracle seorang, yang mengajaknya untuk pergi jalan berduaan, ke taman? ke pantai? ke hotel ada tiga pilihan yang membuatnya tersenyum-senyum tidak menentu. "Bagaimana ini, aku sungguh tidak tahu ke mana aku harus menerima tawaran dari lelaki ini, di satu sisi aku ingin ke hotel dan di satu sisi lagi aku ingin merasakan udara di sore hari ketika berada di pantai," dia hanya pusing memikirkan hal itu. "Apakah aku lebih baik pergi ke taman saja? banyak orang cantik di sana yang sedang kencan juga, tetapi kalau nanti orang banyak, keromantisan kami tidak akan dapat," dia lebih mengerikan dari pada orang yang akan merasakan malam madu. "Dia selalu saja membuat jantung dariku seketika berdebat, membuatku tidak tahu lagi apa yang harus di lakukan," ucapnya sembari duduk kembali di atas ranjang itu dan menatap ke arah ponsel, tepatnya notifikasi yang dia dapatkan dari Miracle. Sedangkan Miracle di sisi lain hanya menatap dan menunggu kepastian dari Vanessa, mereka akan ke mana? di tambah ini adalah hari Sabtu, sudah baik kalau mereka menginap, tidak apa-apa bukan? kalau mereka menginap toh, juga nantinya sudah bisa mengkondisikan semua sesuatu yang mungkin terjadi. Pikirannya juga bimbang, kenapa satu hari yang laku, setelah kejadian itu dia tidak lagi melihat Zee? hatinya benar-benar tidak bisa lagi dia kontrol, dua wanita yang telah merenggut pikirannya dan juga kesadarannya. "Benar-benar saja, mereka membuatku ambigu, aku harus pergi dari zona nyaman ini," gumamnya dan berdiri segera pergi meninggalkan tempat tidurnya. Pakaiannya sudah sangat rapi, dia bersiap-siap akan pergi ke kantor, namun sebelum itu dia melihat ada pembantu baru, atau lama, tetapi dia tidak pernah melihat wajah ini, apakah ada hal yang terjadi? "Apakah anda adalah pembantu yang baru?" tanyanya dan duduk di kursi yang telah di sediakan oleh pembantu itu. Dengan kepala yang dia tundukkan, berarti jawabannya adalah iya, namun kenapa dia masuk belum dia beritahukan kejelasan kepada Miracle. "Apakah di rumah ini membutuhkan karyawan baru?" Miracle bertanya kepada pembantu yang sudah dekat dengan dirinya. "Apakah Tuan, keberatan jika saya merekrut anggota baru, soalnya salah satu karyawan di rumah ini memutuskan berhenti bekerja," jantungnya takut kalau nanti apa yang dia lakukan adalah hal yang salah. Tadinya saat dia ingin meminum air putih itu, sekarang dia hentikan, pasalnya siapa yang mengundurkan diri, jangan sampai Zee mengundurkan diri, tidak mungkin Zee tidak pamit kepada dirinya kalau dia mengundurkan diri. Dia kembali lagi melamun, dengan satu tangan terangkat ke atas, dia benar-benar tidak bisa habis pikir kalau memang benar Zee memutuskan untuk tidak lagi bekerja di tempatnya. "Tuan, apakah ada hal yang salah?" tanyanya dengan mencari celah wajah Miracle. Miracle tersadar dia kembali meletakkan gelas itu, dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa Miracle memakan sayuran itu dan meminta beberapa pembantu untuk pergi, biarkan saja hanya dirinya di tempat ini. "Kalian saya rasa, sudah boleh pergi," perintahnya dan melihat mereka satu persatu. Sedangkan wanita dengan make-up yang sudah dia taburkan di pipi mulusnya, kali ini cukup elegan tertawa, dia merasakan sudah menang karena semua hal yang terjadi ini, dia juga merasa sudah keluar dari maut yang dia terencana. "Kenapa senyummu terlihat begitu indah?" tanyanya dan tersenyum membuat Mutiara ikut tersenyum. Di depan cermin yang tak kalah luas itu, dengan dimensi yang diukur dan di ukir dengan baik, membuat beberapa orang yang ingin bercermin di tempat itu, sangatlah indah. "Kenapa dengan kamu?" sekali lagi mereka berdua, melemparkan pertanyaan. Sama-sama tertawa, yah itu adalah hal yang mereka rasakan dengan isi pikiran yang sudah berbeda satu sama lain. Tiba-tiba ada yang mengetok pintu dari kamat mereka, dan menggangu tawa yang tadi sangatlah indah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN