Untuk kalian ini adalah hal yang ingin sekali kerap kalian inginkan untuk terjadi, namun tidak untuk seorang yang hatinya sedang senang, kesenangan itu rasanya tidak mampu disingkirkan kalau belum ada satu titik pun kesedihan yang terpatri dalam hidupnya.
Masih di depan cermin itu, kedua manusia yang sudah lama menjadi sepasang suami istri mereka tertawa dengan deretan gigi putih, kedua tangan yang saling melingkar pada leher dan juga pipi yang berdekatan.
Terdengar beberapa candaan sampai kalimat yang sangat sulit untuk di asumsikan.
"Apakan karena dia sudah pergi kamu merasakan senang?"
"Apakah ada hal yang mendorongmu, agar saya bertanya seperti itu?"
Mereka berdua melihat ke depan, dan tentunya tatapan mata yang sendu dengan otak yang licik, sudah berada pada kepala Mutiaranya.
"Ayolah, apakah karena dia sudah pergi kamu merasakan tenang?" seketika suasana berubah menjadi sangat aktif.
Mutiara berdiri, mengapa menjadi dia yang di marahi oleh Alexander, apakah dia mempunyai kesalahan jika tertawa seperti ini?
"Yah, apakah kamu bodoh? apakah saya tidak boleh lagi tertawa? Ini adalah mulut saya kenapa kamu yang melarang saya tertawa?" dia menjengkelkan membuat Alexander seketika tidak di hormati lagi menjadi seorang Suami.
Alexander mengeram kuat, dia melepaskan ikat pinggangnya dan melemparkannya ke arah ranjang itu, otomatis karena ini adalah hal yang pertama Mutiara rasakan selama Miracle besar, dia gugup tidak tahu lagi apakah hal yang harus dia lakukan.
Air mata itu menetes seiring dengan suara usai tangisnya yang sudah dia tahan dengan bantuan kedua bibir yang dia tutup dengan tangannya,"ampun," Alexander rasa meminta maaf saat emosi sudah meledak rasanya sungguh mustahil untuk memaafkannya.
Alexander benar frustasi, dia tidak menginginkan hal yang lalu terjadi lagi, dia tidak ingin ada sesuatu yang membuat keluarga mereka retak, tadinya dia hanya bersikap untuk menjadi seorang pendengar yang baik, namun ketika dia ingin menjadi pendengar yang baik, dia malah dianggap seperti sampah yang akan di olah dan di daur ulang lagi.
Alexander mengepal tangannya dia menatap ke depan, dan pandangannya lurus menatap wanita yang telah dia buat menangis, dia melepaskan ikat pinggang itu, perubahan dalam dirinya jelas membuat ketar-ketir Mutiara.
"Maaf, saya tidak bisa mengontrol sikap saya tadi," seolah mereka menjadi dua manusia yang tidak saling kenal, penggunaan bahasa yang sangat mencolok dan juga asumsi akan Alexander yang belum dapat di terima oleh Mutiara.
Mereka berdua kali ini saling memeluk satu sama lain, tidak! lebih tepatnya Mutiara masih enggan untuk membalas pelukan itu, dia masih menangis mengigit bibir bawahnya dan kembali menangis, mungkin hanya itu hal yang akan dia lakukan sebelum benar-benar dapat menerima asumsi yang diberikan oleh lelaki itu.
"Apakah ada yang sakit?" satu pertanyaan lagi membuat langkah kaki dari wanita yang berada di depan pintu terhenti.
Wanita itu tertawa kecil, dia pasti tahu bahwa ini adalah hari kemenangan yang dia nantikan, pasalnya ini sudah menjadi hukum bagi seorang pendosa, dia akan menerima setiap hal yang keji dia lakukan, semua akan berbanding terbalik dari apa yang dia harapkan.
Dengan nampan yang berada di atas kedua telapak tangannya, tadinya dia hanya ingin membuat sensasi di antara dirinya dan juga wanita pembohong itu, namun naasnya dia yang malah mendengarkan sensai.
Di tengah banyaknya rahasia, ternyata Mutiara memiliki satu rahasia yang paling besar memiliki rahasia yang tidak boleh di ketahui eh orang lain, kalau sempat ada orang lain yang mengetahuinya bisa-bisa dia tidak lagi memiliki kekayaan yang seperti ini dia bisa bangkrut dan tidak memiliki rambut sekalipun yang bisa dia jual.
Supaya bisa hidup tenag, Mutiara melakukan semua hal yang menurutnya menarik, bahkan kalau itu sekalipun menyakiti dirinya sendiri yang penting kegirangannya bisa tersampaikan dengan baik.
Di sisi lain kali ini sosok yang tidak sabar untuk menunggu kedatangan dari Miracle telah menginjak kaki di depan kaki lima rumahnya dengan lapisan keramik dan juga beberapa hiasan yang memperindah suasana pandangan sorot mata.
Dia masih kepikiran dengan lelaki yang tadi kata pembantunya satang mencari dirinya, dia tidak tahu apakah itu adalah hal yang penting namun dia hanya penasaran saja.
Tampaknya dia bergumam dan mengucapkan hal yang tidak masuk akal, dia berjalan mondar-mandir bak setrikaan yang sudah sangat panas, dan sesekali melihat ke arah gerbang utama.
"Apakah ada lelaki yang menguntit aku karena kecantikan yang aku miliki?"
"Ini sangat menyebalkan, aku sama sekali tidak mau bertemu dengan lelaki itu, tapi?" bibirnya berhenti seiring ada hal yang membuat dia berdiri di depan ini sekarang.
"Tapi, aku penasaran siapa dan bagaimana bentuk wajah lelaki yang datang ke rumah ini," kali ini dia berjalan ke arah barat dan seketika berhenti lagi langkah kakinya.
Dia sangatlah bodoh, dia tidak memikirkan CCTV yang ada di dalam rumahnya, kali ini kakinya berhenti hanya karena ada suara mobil yang membunyikan klaksonnya, dia terkejut dan merubah ekspresi wajahnya jangan sampai nanti ada yang mengetahui kecurigaan yang telah dia sembunyikan.
Satpam segera berlari membukakan pintu gerbang utama, dengan hormat yang dia berikan kepada lelaki yang tidak lain adalah Miracle itu, dia hanya memberikan sebuah senyuman tipis saja, bahkan kala tipisnya tidak mampu di lihat oleh satpam yang masih melakukan penghormatan itu.
"Memang orang kaya selaku saja begini, tidak mau menghormati kami para kaum kerja yang sangat miskin," keluh lelaki itu setelah dia lihat mobil Miracle sudah sampai di depan rumah besar nan megah itu.
Satpam itu pergi meninggalkan keramaian di tengah keheningan, dia pergi ke post dan tidur menutup mata.
Sesampainya untuk Vanessa saat ini, dia benar hatinya sangatlah girang, saking girangnya dia tidak tahu harus melakukan apa terlebih dahulu, barang-barangnya sudah dia susun dan hanya mengangkat ke dalam mobil, namun kenapa kakinya rasanya tidak bisa dia ajak untuk kompromi.
"Apa?" tanya Miracle dan memeluk wanita itu dengan lembut.
"Dia terasa terbang, ini yang di namakan cinta."
Cinta, semua orang memang membutuhkan cinta terutama untuk kalangan muda yang masih belum memikirkan sedikit hal apapun itu mengenai cinta, yang terpenting cinta itu berjalan sesuai naluri dan juga memberikan kehangatan serta menemani di dalam sepinya hati.
"Apakah kamu sudah bersiap-siap? ayolah kenapa kamu selalu saja diam seperti patung ketika saya memeluk mu?" tanyanya tanpa sadar membuat hati Vanessa sedikit tergores sakit.
Mereka masih diam, dan tidak bisa berkata apa-apa, hanya menatap mata satu sama lain mungkin ini adalah cara yang terbaik untuk menyampaikan apa yang di rasakan satu sama lain.