PERIHAL PASAR

2011 Kata
Aku memang tidak boleh dan tidak bisa lepas landas, ketika mencurahkan apa yang ada di dalam pikiranku kepada seseorang yang Kusuka, namun bibirku sama sekali tidak bisa di ajak kompromi. *** Tak...tak...tak... Bunyi detak jantung, membuat wanita yang sedang tertidur pulas di atas ranjang itu, terpaksa harus membuka mata, dia bahkan merasa baru saja tidur, namun mengapa pagi sudah datang lagi. "Arg," dia bergumam sembari bangkit, dengan matanya yang sepenuhnya masih tertutup,"apakah ini sudah pagi," dia kembali berdiri,"oh tidak, ini sudah pukul enam, aku belum memasak," segera dia bangkit dan melihat bahwa wajahnya sudah sedikit cerah, sewaktu mengetahui bahwa sekarang sudah pukul enam. Dia berlari kecil, mencoba untuk merilekskan pandangan dan juga otot tubuh yang sempat mati, bahkan dia mencoba untuk tetap saja untuk tenang. "Apakah kamu baru saja bangun?" suara itu datang dari belakangnya dan mengagetkan dirinya saja,"Arg, Tuan?" dia mengerutu dengan suaranya yang kecil sangat,"apakah kamu baru sadar bahwa saya sekarang ini sedang bersama anda?" dia berkata, siapa lagi kalau bukan Miracle. Dia mendekat, karena melihat pergerakan dari tangan Tuannya,"maafkan saya tuan, saya hanya ketiduran semalam," dia menunduk kepalanya, sebagai pertanda meminta maaf,"maaf?" dia membuka mulut,"kenapa kamu meminta maaf, jalankan apa yang bisa kamu jalankan, dan lakukan apa yang menurut kamu itu adalah benar," mulutnya berbicara, wajahnya kembali dingin, tidak lagi seperti dahulu. Tatapan mata mereka kembali bertemu, hanya tatapan mata, tidak lebih dan tidak kurang, pikiran mereka saling bentrokan, tidak ada yang bisa menggangu pandangan itu. Akhirnya karena deheman dari ibu Zee, tatapan ity segera sirna, Miracle segera meninggalkan mereka berdua, sedangkan untuk wanita yang sudah diam seribu bahasa itu, hanya bisa menunduk kepala. "Apakah kalian mempunyai hubungan yang sangat spesial?" wanita dengan uban yang sudah menjalari semua kepalanya kembali bertanya,"tidak," dia menggelengkan kepala cepat,"tetapi kenapa kalian berdua terlihat sangat akrab?" tanyanya sekali lagi. Dia menghembuskan napas gusar,"ibu, aku ingin bertanya," tiba-tiba suara dari Zee membuat jantung ibunya hampir copot,"apakah itu?" dia mulai melirik ke arah putrinya,"apakah jika sosok laki-laki dan perempuan jika mereka sama-sama dekat, artinya memiliki suatu cinta?" pertanyaan konyol membuat ibunya hampir tidak tahan lagi menahan tawanya. Dia memegangi perutnya, melihat wajah dari putrinya,"yah, apakah kamu bodoh, teori siapa yang mengatakan hal itu?" dia mulai meredakan suara tawanya,"arrg, kenapa ibu selalu menertawakan aku?" Zee selalu saja kesal, kalau bertanya kepada ibunya akan hal seperti itu. Zee kembali lagi mencoba bertanya kepada ibunya dengan pertanyaan yang menurutnya sangat jelas,"aku pernah mendengarkan dari orang lain, bahwa tidak mungkin untuk satu pria dan satu wanita yang berteman tetapi tidak memilikinya rasa, antara si wanita atau bahkan pria," dia memperjelas,"yah, kalau ini ibu baru mengerti, Nak," dia mendengus nafas karena saat ini pertanyaan dari putrinya sudah jelas sekali. Mata mereka saling menatap satu sama lain, dan benar saja ibunya membuat puas sekaligus takut perasaan dari Zee,"iya, ini juga pernah mengalami hal itu, rasanya sangat pahit, kamu tidak boleh membuat pertemanan yang konyol seperti itu, ibu bahkan sangat takut kalau keyakinan dan juga pikiran ibu selama ini adalah benar," wajah ibunya melesu, kembali mengingat apa yang terjadi beberapa tahun silam. Wajah Zee terdiam, juga dia tidak tahu apa maksud dari perkataan ibunya, dan juga tentunya, dia ingin memperjelas semua ini,"apakah ibu mencintai anak majikan, ini sendiri?" matanya mulai menyeringai, dan kedua alisnya saling bertautan-tautan tak mengerti. "Yah, ibu tidak menyangka nasibnya akan lebih tragis lagi, sewaktu kedua kakek dan juga nenekmu tidak merestui," dia menjamah kedua tangan dari Zee, serta mengangkat ke atas,"ibu mempunyai suatu permintaan kepadamu," dia menatap wajah putrinya dengan lesu dan penuh pengharapan. Zee bingung apakah ini akan berhubungan dengan cintanya atau tidak, tetapi yang pasti, Zee hanya bisa menunduk kepala meneguk savilanya, dan mencoba untuk menghentikan pikiran aneh yang sudah menyeruputi semua semangatnya pagi ini. "Ini hanya menginginkan satu hal," dia berhenti berucap," apakah itu ibu, saya pasti mengabulkan," dia memberanikan diri berkata seperti itu, karena memang persepsi yang dia gunakan hanyalah dengan tujuan untuk membahagiakan ibunya,"ibu mau, kalau kamu mengambil pasangan, jangan pernah orang terdekat dalam hidupmu, jangan sampai tuan Miracle, dia mustahil untuk bisa kamu dekap,"dan yah, benar saja hingga saat ini kakinya tidak berhenti bergetar, bulu kuduknya merangkak naik, dia tertawa kecil, melepaskan genggaman tangan itu. "Apakah ini egois, atau tidak percaya kepada saya?" dia mengangkat kedua tangannya ke atas pinggang, masih tetap tertawa, wajahnya juga sedikit merasa sesak,"tidak__"ibunya hampir mencoba kembali mengambil sekali lagi genganman tangan dari putrinya. "Lantas, kenapa ibu mengatakan hal itu, apakah aku terlihat bodoh sehingga tidak bisa memilih apa yang terbaik dalam hidupku?" nada suaranya sudah mulai meninggi bahkan dia mendekat ke arah ibunya,"sepertinya kamu belum mengerti betapa menderitanya kita nanti, kalau sewaktu pria itu akan menjadi calon suamimu," ibunya kembali menatap ke arah Zee, dan membalikkan wajahnya setelah mengatakan hal itu,"tidak mungkin Bu, aku juga tidak mau menaruh perasaan kepada dia,"dia memang masih bingung dengan perasaanku sekarang, namun dia juga tidak bisa mengatakan bahwa dia tidak mencintai tuan Miracle,"lantas kenapa kamu sangat marah, ibu hanya memberikan hal yang perlu ibu berikan,"ibunya kembali membawa Zee dalam dekapan. Mereka berdua terlihat seperti anak gadis yang sedang berantam, namun kali ini berbeda Zee sungguh tidak mampu melihat nantinya tangis ibunya akan memecahkan keheningan pada hatinya,"maafkan, Zee ibu," dia menarik napas dalam,"tidak, ibu yang salah," dia mencoba untuk mengatakan bahwa dirinya yang salah,"tidak, hanya saja aku terlalu emosian untuk hal yang seperti ini, ibu," dia kembali mengalami beberapa permasalahan dalam hatinya sendiri,"Kita akan kuat, seiring waktu dan juga beberapa peristiwa yang kita lewati, kita akan hidup besar, karena memang kita di tujukan untuk bangkit," mulut mereka berdua kembali lagi terbuka, dengan senyum tipis, pipi merah, sepertinya ini adalah awal yang baik." *** Suasana di kantor masih ramai, seperti biasa ini adalah jam makam, jam istirahat, yah meskipun hanya memakan waktu satu jam, tetapi yang pasti ini adalah surga bagi mereka yang sangat malas serta lelah untuk bekerja,"yah, ini adalah waktu yang tepat untuk rasa kantuk yang kini sudah menguasai semua mimpiku," ucap satu karyawan sembari menatap ke samping dan ke kiri. "Anda masih ingin bekerja di sini?" tiba-tiba suara dari sampingnya membuat beberapa anggota karyawan lama, hanya bisa menatap ke depan dengan tidak percaya, bahwa saat ini orang yang berada di sampingnya adalah Tuan Miracle. "Yah, anda masih beruntung dapat bekerja di perusahaan yang ternama ini," naasnya sekarang tatapan matanya seketika telah berubah lemas,"saya tidak bermaksud sepeti itu," mulutnya hanya bisa meraba-raba apa yang sebenarnya membuat dia tidak bisa betah bekerja di tempat ini, padahal tempat ini sangatlah bagus, dan juga akreditasi yang sangat menjanjikan. Beberapa pandangan karyawan kembali menunduk saat sekarang ini Miracle tengah melihat mereka semua, semuanya bahkan terlihat lebih lugu dari seorang yang tidak tahu sopan santun,"apakah saya boleh bertanya satu hal?" dia berbicara kepada orang yang berada di seberang sana,"syukurlah,"ucap mereka karena saat ini Tuan Miracle telah mendapatkan call dari seorang wanita,"apakah saya salah?" dari seberang sana, dia sepertinya sangat menyukai pria yang bernama Miracle itu. "Kamu sangat posesif,"dia tertawa seiring memasuki mobilnya, tawa itua salah tawa yang sangat menjanjikan,"apakah kamu sekarang sedang tertawa," nada suaranya saat itu juga tampaknya ingin melukai hati Miracle,"sepertinya ucapan kamu tidak memiliki pengaruh apapun kepada saya," dengan tegas saat itu Miracle kembali membalas perkataan dari wanita itu. Di sisi lain, tidak seperti biasanya, keringat tengah bercucuran, seiring dengan derasnya suara dari air itu, siapa lagi kalau Zee, dia adalah orang yang sangat suka untuk berbelanja, tidak tahu juga dia masih lelah, cucian yang sangat banyak, dan untuk menyetrika setiap hari itu adalah pekerjaan yang sewajarnya, bukan berlebihan. "Apakah kamu tidak akan makan dahulu, Nak?" Ibu Zee membuyarkan lamunan putrinya sendiri,"arrg, lagi-lagi harus ibu, kenapa selalu ibu," dia mencoba untuk menenangkan diri dari hal yang baru saja di lakukan oleh ibunya kepada dirinya. "Tidak, ini hanya mengingatkan kamu saja untuk makan,"mulutnya sedikit terbuka, dan jelas membuat ekspresi wajah Zee sedikit termanggut-manggut. "Tidak," Di sisi lain kini terlihat bahwa sekarang Miracle tengah mengobrol dengan orang yabg masih berada di seberang sana,"bukankah kamu yang menginginkan perpisahan, tetapi mengapa kamu selalu menghubungi saya?" dengusan napas menjadi pertanda, bahwa saat itu Miracle tidak habis pikir dengan wanita yang sempat dekat dengan dirinya,"aku sudah beberapa kali mengatakan kepadamu, aku memohon maaf untuk semua hal yang telah aku perbuat, aku mohon," dari suaranya dia terlihat sangatlah menyesal,"berikan aku waktu untuk dapat membalikkan semuanya seperti semula," Miracle akhirnya membuat tegang perasaan dari wanita itu,"apakah butuh waktu untuk menghaluskan rasamu terhadap rasaku?" dia benar-benar menarik kedua gorden yang berada di depannya dengan tatapan mata yang tajam, ibaratnya sedang membunuh. "Apakah kamu juga tidak memiliki waktu saat berselingkuh di belakangnya aku," duar, ini memang sudah waktunya habis bagi wanita yang pernah melecehkan Miracle di belakangnya. Apa yang kurang bagi Miracle,"uang?" Miracle menggelengkan kepala, sembari tertawa dalam hati,"ketampanan?" dia mulai emosi,"sepertinya kamu telah salah paham, mari kita perjelas semua ini, ini adalah hal yang sangat penting," air matanya benar-benar sudah turun membasahi pipi merah itu,"apakah kamu masih bertanya, aku memaafkan kamu membutuhkan waktu?" sekarang Miracle sudah benar-benar emosi."aku mohon," wanita itu kembali termanggut,dia menatap ke arah ponsel dengan nama panggilan uang masih terbilang romantis,"satang," terukir dengan sangat jelas. Sambungan ponsel itu segera mati, dan yah itu adalah sambungan yang tidak pernah di terima oleh Miracle, dia benci saat berada di posisi itu, dia juga sangat bodoh, kalau sempat terjatuh dalam lubang yang sama, oleh wanita yang sama. Dia mengetuk kepalanya ke arah setir itu, dan melihat ke depan, dengan tatapan kosong,"aku harus keluar dari zona ini," dia mulai bertekad, tangannya di kepal dengan erat,"ini muda, aku pasti bisa, lihatlah semua tentang diriku, ketampanan, kekayaan, siapa saja wanita yang melihatku pasti sangat mencintaiku bukan?" dia mulai bisa meredakan emosi yang telah merenggut kesadarannya sedari tadi. Suasana angin masih sangat bau, sepertinya ini akan menjadi tempat bagi wanita yang sudah mengikat rambut tinggi, dia menarik kedua baju lengannya,"benarkah aku akan berjuang untuk semua ini," dia menghembuskan napas, dan menarik kedua senyumnya,"geser,geser, air panas," dia berada di pasar, pantasan kata geser dan panas saat ini menjadi kata favorit bagi dirinya,"apakah kamu tidak lelah mengatakan hal itu?" mulut ibu-ibu terbuka, dia melihat bagaimana aktifnya wajah dari seorang wanita yang berada di sampingnya,"apakah saya masih terlihat seperti wanita yang mudah lelah?" dia senang sekali mengucapkan hal itu,"sepertinya kamu perlu untuk melihat bagaimana remaja lain menghabiskan waktunya, bukan sepeti anda, yang dengan bau badan menyeruak, dan di usia seperti ini, anda harus melewati gerombolan ibu dan pedagang lainnya,"sepertinya itu menjadi hinaan bagi remaja yang sangatlah baik. "Saya pergi," Zee hanya mengabaikan pertanyaan dari ibu-ibu yang sok tahu itu, dengan wajahnya yang selalu ceria, sudah biasa menerima semua percakapan itu, dia hanya bisa mendengarkan dari kuping kanan dan melewatkannya melalui kuping kiri. Semua sayur-sayuran terlihat sangat segar dan alami, ini yang di sukai oleh Zee ketika dia di minta untuk belanja, karena selain di pasar, memang ada juga Alfamart dan Indomaret, tetapi di tempat itu terlalu mahal, tidak mungkin belanja yang dia dapatkan banyak. "Trimakasih," dia mengucapkan sepatah kata itu, dan duduk,"hmmm," dia berdehem sendiri, saat melihat ke arah samping, depan dan juga posisi depannya sendiri,"apakah ada yang salah," dia hanya bisa bergumam dalam hati membuang pandangan ke bawah dan menarik kedua lesung pipinya. Mobil berjalan, perlahan mulai meninggalkan hiruk pikuk yang ada pada pasar sendiri, semua bau yang tidak enak, mulai menjauh, Zee menyukai hal itu, dia senang kalau bertemu dengan keramaian itu. Sesampainya di rumah, bel berbunyi, ini Zee segera berlari, mengingat bahwa putrinya pasti sudah lelah sekali,"dia pasti sudah capek, aku harus segera membantu dirinya," dengan langkah yang cepat, ia meninggalkan setrikaannya,"apakah ibu tidak di rumah?" pertanyaan itu datang seiring dia menunggu di depan pagar jeruji yang tinggi membentang luas. Matanya mengucap syukur,"trimakasih, ibu kenapa sangat la datang?" dia mengerutu senang,"masuklah," ibunya membuka jeruji pintu mempersilahkan dia masuk dengan senang hati. "Huff," napas mereka berdua saling menatap satu sama lain."kamu harus istirahat ini akan membuat tubuh kamu kembali vit lagi," mereka berdua kembali lagi tersenyum." sedangkan di dalam benar-benar kedua orang tua Miracle tidak seperti biasanya untuk bekerja, mereka terlihat santai saja, untungnya Zee tidak membuka mulutnya sembarang, sehingga dia merasa bersyukur. "Apakah Tuan dan Nyonya perlu saya bikin air hangat atau semacamnya?" pertanyaan konyol apa yang telah membuat hati Zee bertanya hal itu. "Apakah kamu tidak capek, istirahat saja dahulu," ibu Miracle memang tukang pengertian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN