PENGAKUAN

1019 Kata
Hari ini masih tetap menjadi hari yang sangat memilukan bagi diriku, di satu sisi aku ingin memberikan kabar, tetapi di satu sisi lagi aku bahkan ingin menghindari semua ini. *** Rasanya sangat perih, saat ini wanita yang berada di sampingku duduk sembari memakan makanan yang telah kami pesan, dan yah aku bersama Zee wanita yang tidak tahu jelas aku, apakah dirinya mempunyai perasaan kepadaku atau hanya sebaliknya. Aku memutuskan untuk pergi secara diam-diam bersama wanita itu, dan tidak akan kubiarkan dia mati sendirian di tempat yang selalu pengap akan ibuku dan pekerjaan rumah yang selalu membosankan. Seandainya dia tamat kuliah, bahkan aku akan membawa di ke tempat aku pekerja, namun saat ini dia hanyalah mempunyai status sebagai babu di antara hubungan yang tidak jelas ini. Aku menghela napas panjangnya, sehingga membuat wanita yang tadi nya makan, kali ini terlihat sudah menatapku dengan tatapan heran, sembari ku putar kepalaku dan berkata,"apakah ada hal yang salah?" setelah mengatakan hal itu aku melihat pergerakan kepalanya yang mengeleng cepat, pertanda jawaban tidak. Aku bahkan tidak mengeluarkan ekspresi macam apa itu, tetapi sebaliknya aku kembali terdiam dalam di mensi yang telah ku ukir bersama dengan dirinya beberapa tahun lalu. "Aku ingin mengatakan sesuatu ataupun saran dari kamu," ucapku jelas menghentikan kunyahan dari mulutnya dan kembali menatapku dengan tatapan misterius, entah apa arti tatapan itu tapi yang pasti aku berusaha untuk tetap pada Tuan Miracle, yah itu adalah nama yang cocok dan sangat cocok sekali bagi diriku. Bola mata kami bertaut-tautan, yah bertaut-tautan, kalian tahu bagaimana rasanya jantungku berdebar kali ini, rasanya juga sangat perih kenapa aku menaruh hati pada di wanita, Arg. Aku menyesal telah mempunyai ketampanan dan juga hati ini. "Apakah ada hal yang penting, sehingga Tuan mengajak saya makan di restoran yang mewah bergaya barat ini?" ketika dia mengatakan hal itu, rasanya aku masih belum siap, bagaimana nanti reaksi yang dia keluarkan, apakah dia akan marah, akan mengumpat dan lain sebagainya. Pikiranku segera pergi ke segala arah, seperti akar pohon yang menjulang ke segala arah, merambat dan berhenti jika sudah tidak sanggup lagi. Arg... Pikiranku kembali tenang, aku tidak mau seperti akar pohon yang malang itu, aku membuat kiranya wajahku tampak lebih serius Ebih dari segalanya, dan kubuka mulutku, ini adalah saat yang paling pas," aku akan menikah, mungkin kamu akan bosan mendengarkannya, namun aku butuh jawaban dari padamu," dia malah tertawa jelas-jelas itu membuat diriku ambigu, apa maksud dari tawa yang sangat kecil dan juga arti sendok makan yang saat ini berada pada daerah mulutnya. Semua hal yang tadi kupikirkan kali ini telah sirna, seiring waktu berjalan, kembali kutanyakan lagi,"apakah kamu tidak merasa kehilangan?" tanyaku lagi dan melihat dia dengan tatapan yang sangat tajam,"bagaimana?" dia layaknya menahan suara tangis yang sangat membara. "Apakah kamu ingin menangis?" suasana yang mengelilingi kami berdua kali ini berbeda, kulihat dia telah menunduk, dan ternyata saat ini dia benar-benar menangis, aku tidak tahu berbuat apa lagi untuk dia, bahkan aku juga tidak menginginkan hal itu, segera ku mendekati tempat dia duduk dan berusaha untuk memeluk dirinya. "Zee, aku rasa pertemanan kita hanya berada di posisi ini dan berhenti di posisi ini," aku bersumpah tidak lagi menaruh hati pada wanita lain selain Vanessa, aku tidak ingin menyakiti hatinya, rasanya melihat dia menangis seperti ini sungguh sangat menyakitkan. "Apakah kamu percaya akan hal itu, aku berusaha untuk menyembunyikan air mata ini, tetapi naasnya dia berpihak pada dirimu," keluhnya sembari membalas pelukan yang tadi kuberikan kepada dirinya. Aku termenung untuk sebentar waktu, laku menjawab,"apakah kamu mempunyai perasaan kepada diriku?" aku berusaha dengan tenang mengenai hal itu, dan aku berusahalah untuk meyakinkan dirinya. Dia menggeleng kepala keras dan juga cepat, ini hal yang membuat aku bingung, aku bertanya sekali lagi kepada dirinya,"maksud kamu bagaimana, apakah kamu__" ucapku terpotong dan saat ini aku melihat wajahnya penuh dengan rasa cemas. "Aku hanya cemas, jika kamu kembali lagi menanamkan rasa dengan wanita lain dan kamu meninggalkannya, ini sungguh pedih sekali," ucapnya hatiku saat itu begitu tertampar, rasanya sungguh di tusuk oleh ribuan belati. Aku tidak bisa menyekat lehernya, aku juga tidak tahu harus berbuat apa, namun saat ini aku tetap memeluk dirinya dengan penuh perhatian dan kasih sayang, setelah ada rasanya lima belas menit kupeluk tubuhnya yang mungil, kamu berdua saling menatap satu sama lain. Beberapa jam saat itu, kali ini aku telah berada di depan wanita yang telah melahirkan diriku, yah dia adalah ibuku, apakah kalian tahu ini sudah dua kali dua puluh empat dan utusanku hanya selesai dengan Zee, untuk ibu dan Vanessa belum juga selesai, ahh... bisakah salah satu diantara kalian memberitahukan kepadaku apa yang seharusnya kulakukan? Benar saja, tatapan ibuku yang sangat sendu, membuat buku kuduk ku merinding, betapa rasa sari ibuku ingin mendapatkan seorang cucu sehingga dia rela tidak tidur, dan harus melihat diriku membawa wanita yang dia inginkan ke tempat ini. "Bagaimana perkembangan ini, ibu mempunyai waktu satu kali dua puluh empat jam lagi, untuk mendapatkan jawaban dari padamu, bukankah begitu?" ibuku benar-benar seriusan bahkan sekarang ini di depanku dan juga ayah yang duduk bersama ibuku menatapku dengan tatapan yang sangat sendu. "Aku hanya membutuhkan waktu seperti yang telah kujanjikan kepada ibu, dan setelah itu ibu akan mendengarkan langsung dari mulutku tanpa adanya sebuah pakasaan," mulutku sangat pedas waktu itu, aku akui aku telah keterlaluan kepada Ibuku. Kakiku mengarahkan langkahku untuk pergi ke kamar, dan sesampainya di dalam kamar tempat tidurku, aku segera merebahkan tubuh ini dan menarik napas panjang, seandainya aku adalah seorang lelaki yang perokok, aku akan merokok dan lebih tepatnya buang sial, ah.. ternyata itu salah aku adalah lelaki yang sangat anti dengan rokok, dan untuk menghirup udaranya saja membuat diriku hampir saja merasa punah. "Jadi, tidakkah kamu mencoba untuk membujuk dirinya," lagi-lagi ibuku dan ang, dan kudengarkan suara mereka entah dengan siapa dia berbicara, segera aku berdiri dan mematikan lampuku yang sedari tadi ternyata masih menyala. Setelah itu, kudengarkan suara ketukan pintu, aku jelas-jelas seolah tidak mendengarkan hal itu, ibarat kata aku tuli sebelum waktunya datang, aku benar-benar tidak tahu kenapa aku bisa seperti ini, bisa semeyedihkan sampai-sampai takut kepada dunia. "Aku akan memberikan kepada kalian jawaban untuk besok," gumamku dengan suara yang sangat kecil dan menatap pintu yang telah kugembok rapat-rapat itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN