PERNYATAAN

1015 Kata
Ini lebih mudah di hadapi lebih dari pada menghadapi kedua pembantu yang mengejek dia secara tiba-tiba. Dia berjalan dan mendapati bahwa di depannya kali ini sudah ada wajah Miracle yang sangat keras pandangannya dan juga dadanya yang terkena bentrokan pada kepala Zee. "Aduh, kenapa ini masih pagi-pagi udah mau ngajak ribut," desisnya dengan suara yang sepertinya mengajak ribut juga, dia tidak terima. Dia melihat ke depan dengan tangan yang memegang keningnya tatapan itu setibanya berubah menjadi sedikit sendu dia kembali menetralkan pandangan itu dan bersikap dengan ramah kepada Miracle. Miracle bertanya,"ada apa kenapa kamu terlihat lebih kacau pagi ini, bukankah kamu bertemu dengan pacarmu tadi malam?" "Agg, dia benar," Zee membuka suaranya dengan tangan kirinya menunjuk ke arah Miracle. Miracle menatap ke samping dia membuang pandangan itu dan menatap intens sekali lagi wajah Zee, dia kesal pasalnya mengapa harus lelaki tengkik itu yang berada pada sisi Zee, sebenarnya dia ingin memarahi wanita itu berdekatan dengan lelaki yang namanya Reyhan, namun apa boleh buat dia bukan siapa-siapa lagi, tentunya dia harus kembali pada masa di mana dia belum sama sekali meletakkan perasaan itu kepada Zee. "Apakah anda cemburu? suka-suka saya dekat dan jauh dari mana saja, apakah saya pernah melanggar anda untuk dekat dengan Nyonya Vanessa?" dia melingkari tubuh Miracle yang sudah terdiam membeku itu. Setidaknya mereka kompak bukan seperti kucing dan juga binatang lainnya, yang selalu beradu ketika berjumpa sama halnya kepada Wanita yang berada di depannya, sebenarnya dia tidak tahu apa yang terjadi dalam hatinya di satu sisi dia tidak ingin ikut campur akan hubungan Zee dan juga Reyhan, namun di satu sisi lagi dia tidak rela ketika melihat kedua manusia itu bersama-sama terus. "Adakah hal yang membuat kamu begitu percaya, kalau aku cemburu melihat kalian berdua?" tanyanya dengan wajah yang dia buat sedikit tertawa. Ingin tertawa namun rasanya dia tidak tahan, nantinya akan terjadi perpecahan kalau seperti ini rasanya pasalnya dia bahkan tidak yakin akan apa yang dikatakan oleh Miracle tadi, tiba-tiba tangannya menyentuh pundak dari Miracle, membuat lelaki itu sedikit tersadar dan bisa kembali merasakan betapa nyamannya tangan ini. "Kenapa? tidak apa kalau Tuan tidak mau mengaku di d pan saya, namun dari tatapan itu hendaklah Tuan setia kepada satu wanita di bumi ini, sebab setiap wanita tidak mau di duakan," dia tersenyum dan pergi begitu saja. Miracle hanya berpikir untuk memaknai apa makna dari perkataan wanita itu, dia menoleh ke belakang dan menatap bahwa pundak dari wanita itu setiap detik akan semakin jauh dari pandangan matanya. "Bukankah semua lelaki itu ada buaya? mereka tidak akan puas sebelum melakukan apa yang mereka suka," Miracle mengeluarkan smirk khasnya. Di sisi lain kali ini Reyhan terlihat tertawa tepatnya di atas ranjang, pasalnya dia sama sekali tidak mau terlihat lemah di hadapan ibunya, dia sedikit menutup senyum ketika melihat engsel pintunya bergerak. "Ada apa ibu?" dia bangun dari tidurnya,"ada apa? tidak biasanya kamu menyambut ibumu ini?" ejek ibunya dengan nada yang sedikit curiga,"tidak apa-apa ibu, apakah salah jika bersikap baik macam itu?" dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali, dan menatap kembali ke arah ponsel yang berada di tangannya. "Wah, apakah ada gerangan yang membuat sikap anak saya seperti ini?" dia duduk di tepi ranjang dari Reyhan,"ohw, tidak ini semua murni dari hatiku," ucapnya dan kembali merebahkan tubuhnya pada paha wanita yang sudah berumur itu. "Kenapa kamu bersikap manja tiba-tiba?" tanya ibunya ragu untuk yang keberapa kalinya dalam hitungan detik ini. "Tidak apa, hanya saja kenapa ibu datang di tengah malam ini?" tanyanya dan kembali menatap bola mata ibunya yang terlihat lemah. "Ibu hanya rindu saja kepada kamu, Nak sepertinya ibu akan pergi jauh sehingga melihat kamu saja ibu sangat ingin sekali," ucap ibunya dan memeluk Miracle yang tengah berada di atas pahanya sendiri. "Dugaan aku benar, ibu selalu mengatakan hal yang konyol seperti ini aku tidak mau jauh dari ibu, apakah ibu tahu itu." "Ibu tidak mau seperti ini, hanya saja ibu hanya memberikan kepada kamu sedikit kehangatan sebelum ibu pergi." "Hilangkan semua persepsi ibu akan semua hal yang konyol ini." Bola mata mereka kembali menatap satu sama lain, dan tentunya saat ini Reyhan tidak suka kalau sampai ada bahasa yang seperti itu, dia tahu mentalnya sudah terbentuk sekuat ini, tolong jangan ada yang menambah beban semacam ini, dia bahkan tidak akan sanggup lagi untuk menatap dunia. Dia menangis dan melihat ibunya ternyata sudah menarik napas pelan-pelan dan membelakangi tubuhnya dia rasa semua ini adalah salah satu hal yang nyata, dia harus memberikan kenyataan yang pahit agar anaknya nanti tidak merasa terpukul saat dirinya pergi secara tiba-tiba dan tanpa meminta izin. Kakinya melangkah keluar dia bahkan tidak sanggup lagi untuk keluar dari di mensi ini dia tidak ingin gagal menjadi seorang ibu, namun semua cobaan ini datang seiring waktu juga berlalu. "Aku rasa semua ini adalah kebohongan ibu bukan?" tanyanya dengan nada yang tertawa sedikit dia paksakan. "Kamu harus tidur, jangan sampai tidak menjaga kesehatan dan secepatnya cari pengganti ibu sebagai satu wanita yang bisa menenangkan emosi kamu, Nak," pesan ibunya kembali mematikan sambungan itu dan pergi berlaku dari pintu kamar Reyhan. Balkon, adalah salah satu te.pat yang paling berharga bagi lelaki itu ketika dia merasakan bahwa dirinya sedang berada di alam yang berbeda, dia berteriak dengan sekencangnya tanpa melihat siapa yang berada di bawah, bahkan dia sama sekali tidak peduli untuk semua itu, dia yakin bahwa semua ini adalah cobaan yang terlalu keterlaluan dia benci untuk scene Tuhan yang seperti ini. "Kenapa?" "Kenapa harus aku, bukan wanita bukan lelaki lain?" Suara dan juga tangis air mata beriringan datang, dan menjadi sepasang hal yang paling sial untuk dirinya yang sudah lemah tidak berdaya. "Untuk apa, untuk semua yang aku miliki." "Harta? Percintaan? Kesuksesan? aku bahkan sama sekali tidak membutuhkan itu, aku benci dengan semua hak kotor itu, kenapa harus ibu aku yah Tuhan, aku bahkan tidak merasakan keadilan dari Tuhan," dia meronta-ronta dengan jiwanya yang sudah lemah dan kekuatan hati yang tidak bisa lagi dia coba tenang. "Untuk semua ini kamu harus tetap sabar," muncul suara dari belakang tubuh Reyhan. Reyhan menatap ke depan selebihnya dia tidak tahu apakah dia mengalami sedikit perubahan dalam otaknya namun dia ingin memastikan saja, matanya menoleh. Dan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN