Marsha menaikkan alis, nampak penasaran. Mengapa Rey membawa-bawa nama ayahnya. "Kenapa sama papamu?" "Papa gue ngelakuin hal yang paling gue benci seumur hidup." Rey melirik binar gadis di sampingnya, kemudian menghela napas panjang. Marsha menghentikan langkah, merasa tak enak karena seperti memaksa untuk mengulik luka lama yang dipendam cowok itu sendirian. "Maaf, saya gak bermaksud bikin kamu gak nyaman. Kamu gak perlu menceritakannya." Marsha menepuk-nepuk puncak kepala Rey, layaknya seorang ibu kepada sang anak. Lagi pula, Marsha bukanlah siapa-siapanya yang berhak menuntut privasi Rey. Meski akhir-akhir ini dekat karena rekreasi, status mereka berdua hanya teman, itulah fakta yang sesungguhnya. Rey tersenyum tipis. Seperti biasa, Marsha selalu menampilkan sisi dewasa setiap m

