"Dasar bocah nakal! Kau harus dihukum!" hardik Ding-dong murka, kaki-kakinya yang membusuk mulai menendang-nendang sampai Marsha terhempas— kepala terbentur ujung lancip bebatuan yang keras. Marsha memegangi atas jemalanya yang berdenyut perih, mengeluarkan darah secara perlahan. Ukh, dirinya tak boleh langsung tumbang semudah ini, harus semangati berjuang sampai titik darah penghabisan demi melihat situasi kembali normal seperti sedia kala. Tangannya bertumpu ke tanah, guna menyangga bobot tubuh yang nyaris roboh karena sempat terpelanting di arena pertarungan yang sengit. Mau bagaimanapun, Marsha harus dapat menang meski akan terasa cukup sulit jika satu banding satu tanpa memakai kekuatan sihir seperti lawan yang ada di hadapannya, gadis itu hanya tetap manusia biasa yang tak memil

