Part 1
Di suatu tempat tersembunyi, di antara deretan taksi dan sekelompok sopir yang tengah menunggu penumpang. Seorang lelaki berkali-kali mencoba menghubungi seseorang, namun gagal.
“Nomor yang anda tuju, sedang sibuk. Silakan menghubungi beberapa saat lagi.”
Suara lembut sang operator menambah kerutan di keningnya. Wajah yang semula tampan, berubah menjadi garang. Dia sedang dalam mode ingin membunuh!.
“Shiiiitt!”
Umpatnya, berkali-kali ketika seseorang menubruk tubuhnya. Lelaki itu terhuyung, hampir saja jatuh. Gawainya terlempar jauh. Hancur berkeping-keping.
Double s**t hari ini!
Seorang perempuan berlari begitu saja setelah membuat mood lelaki itu seribu kali berantakan.
“Woy, tunggu!”
Tanpa pikir panjang, lelaki itu segera mengejar wanita berambut pendek sebahu yang baru saja menabraknya.
Dalam hitungan ke sepuluh, langkahnya sudah mendahului gadis itu. Ia menarik tas ransel di punggung targetnya.
Sial, di luar dugaan gadis itu tiba-tiba memberi perlawanan. Gerakannya sangat terlatih. Membuat si lelaki nyaris jatuh terpelanting.
Sejurus kemudian, tangan lelaki itu sudah terpelintir ke belakang dan ditarik ke sebuah lorong sempit.
“Ssssttt... Diam! Jangan bersuara.” Satu tangan gadis itu membekap mulut korbannya.
Beberapa orang bertampang preman berlari sambil mencari-cari. Mereka kehilangan buruannya.
“Nama gue Luna. Sorry, gue nggak sengaja. Mereka ngejar-ngejar gue.” Luna menarik kembali tangannya yang tak bersambut.
“Oke...nggak masalah kalau elo nggak mau nyebutin nama lo. Setidaknya maafin gue karena udah bikin ponsel lo ancur.” Lanjutnya lagi.
“Maaf, lo bilang? Karena gue nggak butuh kata maaf lo, dengan cara apa lo mau bertanggung jawab?” Teriak lelaki itu mengintimidasi.
“Apapun”
“Great! Apa yang bisa dilakukan anak kecil macam elo?”
“Sebutkan tiga permintaan, aku akan mengabulkan!”
“Heh, anak TK yang kebanyakan nonton Aladdin! Kembaliin ponselgue.”
“Ponsello udah hancur. Nanti kalau gue punya duit, gue ganti.”
“Curut kecil! Gue butuh sekarang!”
“Eh, santai Man! Lo pikir gue badut sulap?”
“Rupa lo sama kayak badut sulap. Gue butuh hp gue sekarang juga.”
Luna menurunkan ranselnya, mengeluarkan sebuah benda berbentuk segiempat pipih. Dia mengulurkannya kepada lelaki bermulut pedas di sampingnya itu.
“Nih, pakai dulu ponsel gue.”
“Harusnya elo sekarang masih tiduran di rumah sambil ngempeng, bukan berkeliaran nyusahin orang!”
“Apa susahnya sih pakai ponselgue dulu! Emang aja lo sengaja bikin ribet.”
“Gara-gara elo, gue sekarang jadi gelandangan! Lo pikir di ponsello ada nomor yang gue butuhin?”
“Oke! Gue tahu.” Luna menarik tangan lelaki menyebalkan itu. Membawanya berlari ke tempat hp itu terjatuh.
Matanya berkeliling mencari benda yang sudah remuk itu. Gadis itu mengambil simcard di dalam serpihan ponsel.
Tangannya membersihkan debu yang menempel di benda itu. Benar-benar sudah tak berbentuk.
Ia mengganti simcard di ponsel miliknya dengan simcard kotor itu.
“Nih, bisa lo pakai. Dan ingat! Sewaktu bayi gue minum s**u ibu, jadi gue pinter. Nggak kayak elo yang bisanya cuma marah-marah nggak jelas!”
Lelaki itu mengambil ponselyang diulurkan Luna kepadanya. Mencari nomor tujuan yang dia maksud. Kemudian
menghubunginya kembali.
“Hallo, Tuan Keden! Ng... anu Tuan, tadi saya disuruh Tuan Besar mencari Tuan Keden ke kantor Pulisi.” Di seberang sana, suara seorang lelaki tergagap menyambutnya.
“Eh, kumis sapu ijuk! Lo pikir gue tahanan. Cepetan ke sini! Lima menit, gue potong gaji lo!” ancam Kaiden. Sopir berkumis tebal bak sapu ijuk itu tidak bisa menyebut nama Tuannya dengan benar.
“Li...lima menit, Tuan? Ng... Anu Tuan, sekarang Tuan Keden ada di mana?”
“Depan stasiun, Jono...!”
“Loh, saya sudah hampir tiga jam di depan stasiun tapi Tuan nggak ada. Malah adanya Neng Dyah.” Kaiden sudah sangat hafal dengan kelakuan Jono, dalam kesempitanpun lelaki itu selalu bisa menjadikannya kesempatan. Seperti kali ini, dia pasti menyempatkan diri menggoda Mbak-mbak penjual jamu yang lewat di hadapannya.
Kaiden menoleh kembali ke arah Luna. Wanita itu memasang wajah cemberut.
“Gue laper!” ucap Kaiden
“Makan lah!”
“Lo yang bayarin!”
“Dasar cowok nggak tahu malu!”
“Lo hancurin ponsel gue, kalau lo lupa.”
“Ck, ah! Ya udah ayok!” Luna menarik tangan Kaiden, mengajaknya masuk ke dalam warung bakso.
“Perut gue nggak biasa makan makanan murah.” Luna melotot. Ia menggeram, menahan emosi yang hampir meluap.
“Ini di kampung, wahai Tuan sombong! Nggak ada rumah makan mewah!”
Dengan langkah berat Kaiden mengikuti Luna. Mencari tempat duduk di posisi pojok, Luna sengaja menghindari tatapan pengunjung lain jika Kaiden membuat keributan.
Kuah bakso yang mengepul sangat pas dipadukan dengan kondisi saat ini. Hujan deras yang tiba-tiba mengguyur area stasiun Purwokerto.
Luna menuangkan beberapa sendok sambal dicampur saus berwarna merah membuat Kaiden bergidik ngeri.
“Jadi, perut elo isinya makanan sampah model begini?” Kaiden menyela.
Ingin rasanya Luna menuangkan sambal ke dalam kelopak mata lelaki itu.
“Makan, sebelum elo mati kelaparan!” Luna memberi penekanan pada ucapannya.
Kaiden membelah bulatan daging berpadu kuah panas, menyuapkan sedikit ke dalam mulutnya. Mengunyahnya perlahan. Cita rasa masakan warung sebenarnya tidak kalah dengan menu restoran bintang lima. Hanya saja ia terlampau gengsi. Mulutnya gegabah menghina strata sosial sebuah warung pinggir jalan. Diam-diam lelaki itu menikmati.
Luna pura-pura tidak tahu. Dia menunduk menikmati semangkok bakso hingga tandas. Berurusan dengan lelaki sombong membuat perutnya berteriak minta diisi. Terlalu banyak menguras energi.
Wanita itu diam-diam melirik Kaiden dan menahan tawa. Cukup tertawa di dalam hati saja. Lelaki sombong itu rupanya doyan juga makanan rakyat jelata.
Pertemuannya dengan lelaki menyebalkan itu setidaknya mampu mengalihkan pikirannya dari beban hidup yang menerpa bertubi-tubi, meski sejenak setidaknya memberi celah untuknya menghirup nafas kebebasan.
“Gue mau nambah!”
“Jangan! Nanti lo mati gentayangan gegara keracunan makanan kaum jelata. Perut lo nggak biasa makan makanan murahan.” Luna menjawab dengan sarkas.
“Gue belum kenyang!”
“Rakus!” Luna berjalan menghampiri pemilik kedai bakso, memesan satu porsi bakso kedua untuk Kaiden.
“Udah minta bayarin, nambah pula. Nggak tahu diri!”
“Oh jadi lo nggak ikhlas! Lo janji bakal membayar kesalahan lo, lupa?”
Teriakan Kaiden yang membahana sontak membuat tatapan mata seluruh pengunjung tertuju kepada mereka berdua.
Seketika Luna menunduk, menutupi wajahnya dari tatapan tidak menyenangkan. Ia menyeruput teh manis demi menyembunyikan rasa malu.
“Jangan teriak-teriak, bodoh!” “Diam, dan habiskan makanan lo!”
“Gue kekenyangan.” Bisik Kaiden di telinga Luna. Membuat wanita itu meremang.
Setengah mati Luna menyembunyikan debaran jantung akibat bisikan lelaki itu. Luna memperingati diri, lelaki itu sangat berbahaya. Tanpa sadar ia mengakui bahwa lelaki itu tampan, dan... kaya. Lelaki incaran kaum hawa.
“Lo tau, kenapa gue ajak lo makan bakso?”
Kaiden mengedik tak acuh. Semilir angin dingin menerpa tubuhnya yang dalam kondisi kekenyangan. Membelai wajah lelaki sombong, mengajaknya pergi ke alam mimpi.
“Ada sentimen pribadi jika mengenai bakso. Kemana pun gue pergi, pasti gue akan mencoba bakso buatan orang lain sebagai pembanding. Gue punya kedai bakso di Jakarta.”
Sungguh informasi yang tidak penting bagi Kaiden yang dilanda kantuk luar biasa dahsyat. Pria itu mengerjap berkali-kali, berusaha menjaga kesadarannya. Sementara langit menumpahkan hujan yang begitu deras seolah tak ingin berhenti.
“Na, lo mau dongengin gue?” ucap Kaiden dengan tak tahu malunya.
“Gue nggak mendongeng untuk bayi beruang! Jangan bikin malu, Kai! Tahu tempat sedikit!” Aluna mendongkol. Bayi sebesar beruang itu benar-benar tidak tahu malu.
“Gue harus pulang sekarang, Kai”
“Bayar dulu baru pergi.” Kaiden mengeluarkan sebuah kartu nama, memberikan kepada Luna. “Gue bawa hp lo.”
Luna masih terdiam mengamati kartu nama yang diberikan Kaiden.
“Suatu saat elo akan butuh gue.”
“Pede!”
Kaiden menatap punggung gadis bernama Luna, berlari menembus derasnya hujan.