“Bagaimana, Pak Bagas? Apa Nak Aluna setuju?” tanya seorang lelaki berambut putih, bernama Brata Bimantara. Ayah Gara Bimantara, lelaki yang hendak dijodohkan dengan Aluna.
Aluna diam seribu bahasa, bukan berarti menyetujui. Hanya saja suaraku memang tidak dibutuhkan. Pertanyaan itu tidak membutuhkan jawaban dari pemeran utama.
Bagaskara Wijaya, ayah Aluna adalah orang yang segala perintahnya merupakan aturan di rumah ini. Tak ada satupun yang berani melawan. Berseberangan dengannya, sama artinya kehilangan hak waris.
“Anak gadis memang begitu, Pak Brata. Suka malu-malu. Diam berarti setuju. Lagi pula gadis mana yang mampu menolak pesona Nak Gara? Sudah tampan, sukses di usia muda.”
Jawaban Bagas membuat seisi rumah tertawa bahagia. Diantara tawa itu, hati Aluna pedih. Rasanya berdarah-darah. Aluna tidak bisa membayangkan menikah dengan seorang lelaki dingin dan angkuh, juga b******k.
Perjodohan yang diatur Bagas dengan Brata bukan dalam rangka mencari kebahagiaan untuk anak-anak mereka. Melainkan ajang pamer kekuasaan.
Pernikahan yang akan menyedot perhatian seantero negeri. Simbol bersatunya dua perusahaan yang memiliki nama besar.
“Gara, calon istrimu sangat cantik, kamu pasti senang.” Brata menggoda anaknya yang sama seperti Aluna, terdiam laksana patung.
“Tentu saja, kami akan menjadi pasangan paling fenomenal sepanjang sejarah.” Rupanya Gara mulai memainkan peran mengikuti sandiwara yang dibuat para orang tua.
Derai tawa penuh kepalsuan semakin membuat muak.
Gara menarik tangan Aluna keluar rumah. Membuka pintu mobil dan menyuruh Aluna masuk.
“Mau kemana?”
“Pacaran sama calon istri, apa lagi?” Gara tersenyum miring. Ada nada nyinyir di sana.
“Mereka masih berkumpul, Ga. Pasti banyak hal yang dibicarakan.” kata Aluna.
“Buat apa? Memangnya suara kita dibutuhkan?”
“Ya nggak sih.” Aluna penasaran apa yang akan dilakukan Gara selanjutnya. Aluna
rasa diapun sama dengannya, terpaksa menjalani perjodohan ini.
“Kenapa kamu terima perjodohan ini, Na?”
“Karena apapun yang dikatakan oleh seorang Bagaskara Wijaya adalah suatu kewajiban yang pantang dibantah. Dan lagi, aku tidak rugi dapat suami kaya.”
Alis Gara bertaut bersamaan dengan kerutan di keningnya.
“Meskipun tanpa cinta?”
“Love-s**t! Cinta macam apa yang kita harapkan? Bahkan cinta tidak membuatmu kenyang, kan Ga? Terus, kenapa kamu tidak menolak perjodohan ini, Ga?”
“Perjodohan ini merupakan persyaratan aku untuk mendapatkan warisan.”
“Serakah juga calon suamiku ini, oke, artinya kita berdua mempunyai visi dan misi yang kurang lebih sama.”
“Kamu punya pacar, Una?”
Pertanyaan Gara yang dijawab dengan gelengan kepala Aluna membuat lelaki itu menarik sudut bibirnya, membentuk lengkungan indah yang memunculkan cekungan di sebelah pipinya. Satu kata untuk pria disamping Aluna, tampan.
“Kita menikah satu tahun, cukup satu tahun sampai aku dinobatkan sebagai pimpinan perusahaan Bimantara. Lalu kita bercerai, aku berikan kompensasi setengah dari hartaku.” Gara yang nampak serius berubah kesal ketika dibalas tawa mencemooh dari bibir Aluna.
“Aku butuh suami yang bisa menjamin kehidupan seumur hidupku.”
Gara melirik, manik matanya menyapu keseluruhan penampilan Aluna dari ujung rambut hingga ujung kaki.
“Jika itu yang kamu inginkan, maka aku juga harus memastikan bahwa tubuhmu cukup mampu membangkitkan libidoku. Aku suka wanita sexy yang mendesah merdu di bawahku. Kamu bisa?”
“Aku tahu, kamu nggak butuh istri untuk mengurus cucian atau membersihkan rumahmu kan, Ga? Selama isi dompetmu masih tebal, aku akan sukarela membiarkanmu memanfaatkan tubuhku.”
“Oke, fix! Kamu harus jadi istriku!”
Tiba-tiba Gara menarik kepala Aluna, mendaratkan bibirnya di bibir milik Aluna. Gadis itu menegang sesaat kemudian membuka mulut mengikuti irama permainan yang disuguhkan Gara. Laki-laki itu menyesapnya perlahan, memberikan sensasi tak terkira. Mendapat sambutan dari Aluna, ciuman Gara berubah panas. Sesapan berganti belitan, lidahnya mencari lidah Aluna membelitnya sesaat karena Aluna mendorong dadanya.
Irish, mama Aluna entah sejak kapan meneliti mobil yang masih terparkir itu melalui kaca setengah buram. Aluna terlambat menyadari, sekarang ia menjadi salah tingkah. Bagaikan maling ayam yang tertangkap basah. Padahal Gara yang mencuri ciuman darinya.
"Mama, Ga!" pekik Aluna. Gara menoleh mengikuti arah pandang Aluna. Lelaki itu bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Membuka kaca di sampingnya, perlahan.
"Kalian ngapain di sini? Masuk, gih!" usir Irish.
Gara tersenyum manis, "Pacaran sama calon istri, boleh kan, Tan?" lelaki itu mengerling. Wajah Irish bersemu merah, mengingat masa mudanya dulu.
"Aduh, jadi Mama mengganggu nih, ya? Ya sudah Mama masuk dulu, kalian silakan lanjutkan. Biar lebih akrab."
"Harus akrab, kan Ma?" Gara mengikuti Irish menyebut wanita itu Mama.
"Kalian menggemaskan sekali. Tidak salah Papa menjodohkan kalian. Ternyata kalian sangat cocok. Ya sudah, Mama tinggal dulu." Irish pergi meninggalkan dua insan yang sedang dimabuk asmara. Sejauh yang dia lihat, pasangan muda itu menerima perjodohan ini dengan baik. Setidaknya, hal itu sangat melegakan hatinya. Anak gadisnya tidak merasa terbebani dengan pernikahannya.
"Mau lanjut, Na?" tanya Gara, membuat Aluna gelagapan.
"Hah, apa? Ng..." Aluna tak mampu menjawab. Bibirnya kelu, hatinya tak menentu. Gadis itu menjadi salah tingkah menyembunyikan semburat merah di wajahnya.
Gara yang memperhatikan tingkah Aluna, terkikik geli. Di matanya, tingkah calon istrinya itu sangat menggemaskan. Pandangan Gara terhenti di dua teratas kancing blouse Aluna yang terbuka sedikit. Menyuguhkan pemandangan yang menantang, membuat laki-laki itu ingin menjelajah lebih dalam.
"Na, jalan yuk!" ajak Gara. Tanpa menunggu persetujuan, lelaki itu menjalankan mobil keluar dari pelataran rumah Bagas.
"Mau kemana kita?"
"Bukit blueberry! Kencan lah namanya juga pacaran. Kamu mau kemana?"
"Terserah kamu."
"Bener, nih? Terserah aku? Kalau aku maunya ke hotel, kamu mau?"
"Coba aja!" Aluna menjawab sambil mendelik.
"Siap, Nona manis! Kita harus test drive dulu, kan Na? Aku nggak mau punya istri mengecewakan."
"Atau jangan-jangan malah kamu yang nggak sesuai ekspektasi aku!"
"Itu dia, kenapa kita harus mencobanya. Orang jual kue juga kasih tester, kan?"
"Aku lapar, Ga? Pacar yang baik, nggak membiarkan pacarnya kelaparan, kan?"
"Oke, kita makan. Aku juga nggak suka berhubungan dengan wanita lemas tak bertenaga. Kamu harus makan banyak untuk menyambut aku, Na!" jawab Gara sambil terkekeh.
"Di rumah kamu banyak sekali makanan, tapi kamu malah kelaparan. Aneh!" lanjut Gara.
"Lebih asik makan berdua kamu, kan Ga? Lagi pula aku juga harus memastikan seberapa royal calon suamiku ini."
"Kamu mau apa sih, Na? Uangku banyak. Kamu tinggal bilang aja."
"Sombong sekali ya, Anda! Tapi aku suka kok, tenang aja. Aku udah siap menghabiskan uang kamu dengan baik. Rasanya akan mengenaskan jika kamu capek-capek cari uang banyak tapi pada akhirnya nggak ada yang habisin?"
Gara terkekeh, calon istrinya memang unik.