Aluna
Aku memandang hamparan rumput melalui jendela. Cermin besar di belakang tubuhku seakan mengejek. Mengatakan bahwa aku adalah wanita tercantik saat ini. Dengan balutan kebaya berwarna putih dan riasan hasil karya make up artis ternama mampu merubah bebek menjadi angsa.
Aku enggan menoleh kembali ke cermin b******k itu. Dia pasti akan menertawai kemalaganku. Terlahir sebagai seorang putri pengusaha kaya raya tidak membuatku sepenuhnya merasa senang. Jika boleh memilih, aku ingin hidup sederhana penuh kebahagiaan. Bukan kaya raya bergelimang harta namun penuh kepalsuan.
Sejak kecil hidupku sudah diatur, termasuk perihal perjodohan. Jadi, tidak perlu terkejut. Saat ini pasti akan datang.
"Na, ayo! Sudah akan dimulai." ucap Irish. Wanita yang melahirkanku kini membimbingku menuju sebuah meja. Beberapa pria duduk di sana. Bagas, Gara, seseorang yang kutebak penghulu, dan beberapa orang lain.
Gara telah selesai menjabat tangan Bagas, mengucap janji suci yang mengikatku sebagai istrinya. Gemuruh suara yang menyatakan syah, bergaung melalui pengeras suara.
Aku gagal memaknai perasaanku sendiri. Dengan mengumpulkan kekuatan, aku melangkahkan kaki menuju pelaminan di mana Aku dan Gara akan berdiri sebagai sepasang pengantin. Hatiku bergetar, statusku berubah dalam hitungan menit. Aku bukan lagi seorang gadis yang bebas, aku sudah terikat tali tak kasat mata bernama pernikahan.
Bersanding sebagai raja dan ratu sehari di tengah kemewahan pesta tak mampu memperbaiki suasana hatiku. Terlebih ketika Gara, suamiku membisikkan sesuatu di telingaku.
“Tersenyumlah, kita tidak harus menjadi waras di tengah kegilaan ini, kan?”
Seketika aku menarik kedua bibirku ke samping, membentuk lengkungan senyum yang manis. Gara benar, menjadi waras di tengah kegilaan hanya akan membuat kita menderita. Baiklah, aku ikuti saja alurnya.
Berdiri menyalami ribuan tamu, tersenyum paksa dan berbasa-basi membuatku semakin lelah.
***
Gara memasuki kamar dengan wajah muram. Laki-laki itu melewatiku tanpa mengucap sepatah katapun. Sosoknya menghilang ke dalam kamar mandi.
Hidupku bagaikan diombang ambing rollercoaster. Menikah dengan orang yang tidak kukenal sama sekali. Sama seperti kapas yang sedang aku putar-putar di wajahku. Membersihkan noda milik orang lain tanpa peduli nasib dirinya sendiri.
Gara keluar dari kamar mandi berbalut handuk yang hanya menutupi bagian pinggang. Membuat tubuh bagian atasnya terekspos sempurna. Aku yang melihatnya dari pantulan cermin seketika mengalihkan pandangan.
Tubuh yang sempurna, tinggi, atletis. Jangan lupakan bagian perut yang terukir sempurna bagaikan roti sobek. Hasil latihan di gym yang pasti rutin dia lakukan. Membuatku susah payah menelan ludah.
“Kalau pengin lihat, nggak perlu ngintip. Kita suami istri, kan?” Sedetik kemudian tawanya meledak.
Laki-laki itu dengan tidak tahu malu membuka belitan handuk itu begitu saja. Sejenak tubuhku menegang.
Gara merebahkan tubuhnya setelah memakai kaos yang dipadukan dengan boxer ternyaman untuk tidur.
Laki-laki itu ternyata cukup pengertian. Tanpa diminta dia sudah terlebih dulu membantuku yang kesulitan membuka gaun pengantin yang masih melekat di tubuhku.
“Kalau nggak bisa itu, minta tolong. Jangan jadi perempuan keras kepala.”
Satu hal yang baru saja aku ketahui dari sosok seorang Gara, lelaki angkuh bermulut pedas. Paket lengkap. Perlahan dia menurunkan risleting gaunku. Gesekan jari-jari tangannya di punggungku nyaris membuatku tak sadarkan diri. Bulu kudukku meremang. Tubuhku menegang, kaku.
“Santai, Aluna Wijaya. Ups, sorry! Aluna Bimantara... Tubuhmu tidak cukup membuat bagian lain dari tubuhku menegang. Jadi, buang jauh-jauh otak kotormu itu!”
“Oh, iya?”
Aluna membalik tubuhnya berhadapan dengan Gara, suaminya. Ia memelorotkan gaun pengantin itu hingga teronggok di lantai. Menyisakan bra dan celana dalam.
Gara kelimpungan. Namun, demi menutupi gengsinya yang setinggi langit, sekuat tenaga ia bersikap biasa. Hingga saat Aluna bertindak lebih, pertahanannya hampir saja jebol.
Jari lentik dengan kuku bercat merah itu membelai lembut bibir Gara, mengusapnya perlahan namun tegas. Gerakan Aluna sontak membangunkan bagian inti tubuh Gara. Dalam hati bersumpah serapah menyesali kesombongan yang nyaris tak mampu ia jaga.
Gara memejamkan mata menahan gelombang sensasi yang ditimbulkan jemari Aluna yang kini telah berpindah di cerukan lehernya. Perlahan merayap memasuki kaos yang dikenakan Gara. Jari-jari laknat itu menggerayangi d**a laki-laki itu. Bermain-main sejenak pada bulatan kecil di dadanya.
Languhan maskulin terlepas begitu saja dari bibir lelaki angkuh itu. Bukti kekalahan. Aluna tersenyum miring. Jiwanya semakin tertantang. Tangannya sudah menyelinap di balik boxer Gara. Meremasnya perlahan. Tangan kirinya melepas boxer itu hingga teronggok di kaki lelaki yang masih berdiri mematung. Matanya memejam menikmati sentuhan Aluna.
Aluna menurunkan kepala sejajar dengan inti tubuh Gara. Kakinya menekuk dalam posisi berjongkok. Mulutnya menghisap kuat inti tubuh suaminya. Tangan kanannya berpegang erat di sana. Mengelus sembari memaju mundurkan kepala.
Gara kehilangan kesadaran. Separuh jiwanya terbang bersama bayang-bayang Aluna yang merintih tertahan.
Gara meraih tubuh Aluna, membantingnya ke atas ranjang. Membuat jantung Aluna berdebar kencang. Sejenak ia menyesali perbuatannya terhadap Gara. Suami istri wajar, kan? Melakukan hal-hal seperti ini?.
Gara terus merayap di atas tubuh Aluna, laki-laki itu mengungkung tubuh gadis yang baru saja syah menjadi istrinya. Tangannya merayap membelai paha mulus Aluna. Bibirnya mengunci bibir Aluna. Gadis itu nyaris gila.
Gawai Gara di atas nakas bergetar. Memisahkan dua insan yang sedang dimabuk kepayang tersadar. Gara melepaskan diri dari Aluna. Meraih ponsel itu. Seketika wajahnya menegang.
"Kita tidak bisa melakukan ini, Na!"
"We O we... WOW! Ternyata asik juga jadi istri kamu, Ga! Aku nggak perlu susah-susah layanin kamu tapi aku bisa manfaatin uang kamu, kan Ga?"
"Terserah kamu! Berbuatlah sesukamu. Aku hanya meminta kamu jaga rahasia kita. Jangan sampai Papa tahu."
"Kamu punya pacar, Ga?"
Gara tak menjawab, lelaki itu masih memegang ponselnya. Mengetik sesuatu di sana.
"Oke, aku nggak akan mengganggu privasi kamu. Aku juga minta kamu jangan mencampuri urusanku." lanjut Aluna.
"Maafin aku, Na. Aku tahu ini akan berat buat kamu tapi..."
"Santai, Ga. Kita bisa saling memanfaatkan, kan? Papa baru akan memberikan bagianku setelah aku menikah dan berusia dua puluh lima tahun. Hal pertama kamu sudah menyelamatkan aku. Tinggal menunggu waktu yang tidak bisa kita atur. Sebentar lagi, Ga. Tidak sampai genap dua tahun kok. Setelah itu terserah kamu mau bagaimana."
"Sudah aku katakan, kan? Aku butuh kamu sampai aku syah menjadi pewaris tunggal Brata Bimantara, ingat?"
"Ya, aku ingat. Kita impas, jadi tidak perlu merasa bersalah, Ga. Kita tim yang kompak, ingat itu."
Seringai puas tergambar di wajah Gara.
"Gadis pintar! Itulah kenapa aku memutuskan menjadi suami kamu. Tidur yang nyenyak ya, Babe!"
"Jijik sih, Ga dengarnya."
Gara berganti pakaian, dia pergi meninggalkan Aluna seorang diri di kamar pengantin mereka.