Part 4

1020 Kata
Aluna terbangun mendengar suara pintu dibuka. Gara mengelabuhi semua orang, pergi meninggalkan kamar pengantin kemudian pulang dengan mengendap-endap. Pria itu merebahkan tubuhnya di atas ranjang tanpa melepas pakaian. Gara datang dalam kondisi amburadul. Pakaian kusut, rambut acak-acakan dan aroma menusuk khas alkohol menguar. "Tidur lagi aja, Na masih gelap." "Kamu pulang juga, Ga?" "Berisik, aku mau tidur. Nanti kita kembali ke Jakarta. Kamu harus melihat rumah." "Rumah siapa?" "Rumah kita, Aluna... Kita harus menyimpan rapat rahasia ini, kan?" "Oh." Aluna membalik badan memunggungi suaminya. Menarik selimut hingga batas leher, tangannya memeluk guling. "Udah punya suami masih peluk guling sih, Na?" Gara menyibak selimut istrinya. Tergagap mendapati Aluna hanya mengenakan bra dan celana dalam minimalis dengan renda sebagai penghias. Persis seperti terakhir kali dirinya meninggalkan Aluna semalam. Buru-buru menutup kembali selimut itu sebelum tersedak air liur. Lelaki itu melakukan hal yang sama dengan istrinya. Membalik badan saling memunggungi. "Ngintip doang, Ga? Yakin cuma mau ngintip? Besok uang kamu sudah mulai aku kuras, lho!" "Bagus, sebagai istri seorang Gara Bimantara kamu tidak boleh biasa-biasa saja. Aku tidak mau di cap sebagai suami pelit." "Kalau nanti kamu ceraikan aku, carikan yang seperti kamu ya, Ga. Hahahaha... " Aluna terkekeh. Gara yang setengah mati menahan hasrat mendadak kehilangan kantuk. Berkali-kali membalik badan nyatanya bola mata tak juga terpejam. "Sini, aku peluk supaya kamu bisa tidur." tanpa aba-aba, Aluna memeluk tubuh Gara dari belakang. Kaki jenjangnya mengait tubuh besar suaminya. Tangan kanan Aluna membelai lembut d**a Gara. Lelaki itu menegang tatkala menyadari benda kenyal menghimpit punggungnya. "Malah nggak bisa tidur kalau begini, Na. Jangan memancing karena seorang Gara tidak akan berhenti jika sudah memulai." "Semalam tidur di mana?" "Jangan banyak tanya, Na!" "Oh, iya aku lupa. Sorry, Ga." "Berapa batasan uangmu boleh aku habiskan, Ga?" "Sudah aku bilang, terserah!" sahut Gara sedikit emosi. "Aku harus memastikan tidak terlantar seandainya kamu begitu aja ceraikan aku. Bisa aja, kan? Tiba-tiba perempuan kamu hamil?" Pernyataan Aluna membuat Gara terjaga. Pola pikir istrinya tidak bisa ditebak, dia harus waspada. "Na, udah ya aku mau tidur. Lebih baik kamu kemasi barang, sana!" ucap Gara lembut. Aluna berbahaya untuk kesehatan jantungnya. "Kamu nggak pakai parfum perempuan, kan Ga? Dan itu bukan bau parfumku. Jadi, aku harus tetap waspada. Katamu, kita nggak perlu menjadi waras di tengah kegilaan ini, kan Ga? Aku hanya memastikan kegilaanku berfaedah! Bye, Gara, selamat tidur suamiku yang royal!" Aluna melangkah meninggalkan suaminya yang setengah mati memejamkan mata. Wanita itu menuruti Gara, mengemas barang-barang. Merapikan koper Gara yang isinya jungkir balik. Benar kata Gara, mereka tidak bisa tinggal bersama Bagas maupun Brata. Bisa semakin gila nantinya. Ia menemukan selembar foto lawas yang terselip di tumpukan pakaian Gara. Foto yang menampilkan seorang wanita cantik yang masih mengenakan seragam SMA, tertawa lebar sembari memegang balon warna-warni. Dua orang laki-laki berpakaian sama, merangkul bahunya. Mereka tampak sangat bahagia. Wajah mereka penuh coretan warna-warni, juga seragam sekolah mereka. Aluna mengamati seorang laki-laki di dalam foto itu, Gara. Aluna mengamati sebentuk wajah lelaki di sebelah kiri perempuan itu. Dia seperti mengenali lelaki itu, tapi siapa?. Sejenak, Aluna penasaran. Namun, beberapa saat kemudian ia menepis semua itu. Tidak ada gunanya mengetahui rahasia Gara, toh pernikahan mereka hanya sandiwara. Mengelabuhi dua keluarga yang sama-sama gila harta. Selesai berkemas, Aluna membersihkan diri. Cuaca pagi di kampung halamannya sangat berbeda dengan Ibukota. Hawa dingin menyeruak. Ia ingin berlama-lama di kamar mandi, menikmati kesejukan air yang berasal dari pegunungan. Bagas sudah beberapa tahun belakangan memilih menetap di kampung halaman, setelah menyerahkan tampuk kepemimpinan kepada Bara, kakak lelaki Aluna satu-satunya. Aluna sudah terbiasa mencari uang sendiri. Dia tidak pernah mengandalkan Bagas meskipun ayahnya orang yang lebih dari cukup secara materi. Uang jatah bulanan yang diberikan Bagas sedikit demi sedikit ia kumpulkan. Bahkan sejak masih kuliah dia sudah memiliki gerai bakso, sederhana namun ramai pengunjung. Pundi-pundi Aluna semakin tebal. Sebenarnya ia berniat membuka gerai lain di banyak tempat. Jika memungkinkan dia ingin membuat gerainya menjadi sekelas restoran bintang lima. Tapi masih di angannya saja, belum terwujud. Aluna merenung sejenak. Ia akan menggunakan uang Gara demi mewujudkan impiannya. Dia harus mampu memanfaatkan keadaan sebaik mungkin. Jika kelak dia bercerai, dia harus menjadi janda kaya. Belum tentu, kan? Gara memberikan sejumlah harta ketika menceraikannya? Jika tidak, sial! Sudah menjadi janda, miskin pula. Selesai mandi, Aluna menatap Gara yang masih bergelung manja di balik selimut. Harus diakui, suaminya itu tidak jelek. Tampan malah. Tapi masih lebih tampan Kaiden, pria yang ia temui di stasiun kemarin. Ketika Bagas menelpon agar dirinya segera pulang. Pria angkuh yang lucu. Tanpa sadar Aluna terkikik geli mengingat tragedi pertemuannya dengan pria aneh itu. Sesaat jantungnya berdetak lebih kencang. Lelaki yg ada di dalam foto Gara, Kaiden! Aluna meninggalkan suaminya yang masih berkelana di alam mimpi. Menutup pintu perlahan agar tidak menimbulkan suara. Bergegas menuju dapur, menyiapkan sarapan untuk suami pura-puranya itu. Meskipun pura-pura harus tetap terlihat natural, kan? Keluarga Bimantara harus memberi penilaian baik untuk menantu barunya. "Ma, masak apa?" tanya Aluna sembari merangkul tubuh Irish. "Sudah jadi istri, bangun lebih pagi!" seru Irish. Dibanding Bara, Aluna justru pemalas. Memiliki kebiasaan bangun siang. Tak pelak membuat drama pagi, menggegerkan istana Bagaskara di setiap pagi. Irish, wanita cantik itu bisa menggemparkan dunia jika membangunkan putri pemalasnya itu. "Gara juga masih tidur, Ma. Malah tadi Una mau lanjut kelonan!" "Dulu aja kamu ribut nggak mau, sekarang nempel terus." "Ma, nanti siang Aluna berangkat ke Jakarta. Seorang istri harus mengikuti suami, kan Ma? Lagi pula Una sudah lama tidak ke gerai." "Nanti Mama bakar gerai kamu. Uang dari Papa kurang, Na?" "Tidak mama, tidak papa sama aja. Selalu meremehkan Una." "Memangnya kamu dapat apa dari gerai kumuh kamu itu?" "Jangan menghina, Ma. Itu jerih payah Una. Kalau Mama malu, lebih baik pura-pura tidak tahu." "Keras kepala." "Naik tangga juga satu-satu, kan Ma? Lagi pula tidak menyusahkan Mama juga, kan?" "Mama capek, Una. Kapan kamu dengar Mama?" "Una dengar, Ma. Justru karena Una dengar makanya Una ada di sini. Jadi istri Gara. Apa Una punya pilihan?" "Sudah, sana panggilkan suamimu. Bangunkan Bara juga. Kita sarapan." Meskipun sambil menahan kesal, Aluna tetap mematuhi Irish.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN