"Lukamu udah dikasih obat?" tanyaku. "Sudah, Mbak. Rutin, tapi malah tambah parah." Aku menghela napas panjang, lalu menyentuh nanah di tangannya itu. Memang sekilas mirip cacar, tapi ukurannya lebih besar. Di wajahnya saja sudah mulai timbul bintik merah. Bisa jadi wajahnya nanti kena juga. Aku berencana membeli minyak yang bisa membantu meredakan rasa panas itu. Namun, ketika dihubungi, penjual tersebut bilang minyaknya sudah habis. Akhirnya aku hanya membaluri tubuh Fany dengan minyak goreng dicampur potongan bawang. Kasihan, ia meringis menahan perih. Katanya seperti luka bakar. Ia tertidur setelah meminum obat demam karena sempat naik suhu tubuhnya. Setelah itu, aku menelepon Mas Arif untuk menjemput pulang karena Dion sedang berada di kampus. Di teras rumah, Mbak Nur tiba-ti

