"Untuk sementara ini, Mbak memang menduga dia pelakunya. Sudah lama curiga, tapi belum ada bukti yang kuat." Aku berlari ke kamar dan mengambil buhul di laci. Kutunjukkan isinya ke Dion dan sontak naik pitam. Ya, siapa juga yang tak marah jika kekasihnya disakiti orang lain. Tangannya mengepal geram, wajahnya merah padam. Ia buru-buru beranjak pergi entah ke mana, tapi langsung kucegat. "Mau ke mana?" tanyaku penuh selidik. Ia menoleh, lalu mengembuskan napas kasar. "Mau kasih pelajaran ke bocah sialan itu, Mbak! Saya gak bisa diem aja dong," jawabnya terlihat menahan emosi. Aku mengelus bahunya perlahan agar ia tenang. "Jangan gegabah. Ingat, kita belum ada bukti yang kuat. Saya masih ngumpulin bukti supaya kita bisa ciduk Alvaro. Kamu yang sabar, berdoa aja yang terbaik," jela

