11. Hanzel Berbeda

3316 Kata
Hanzel Halo, ini aku. Kamu kerja hari ini? Kalia membaca pesan Line yang masuk dari Hanzel, seperti rencana Chiara tadi malam bahwa hari ini mereka tidak akan pergi ke kantor. Balum tahu akan melakukan apa saja, yang pasti mereka harus menikmati hari libur dadakan ini. Halo, Aku gak ke kantor hari ini Jawab Kalia, dia masih bergelung di atas kasur, setelah sholat subuh tadi pagi, dia kembali tidur. Begitupun dengan Chiara. Hanzel kenapa? kurang sehat? Gapapa kok. Jelas Kalia tidak mungkin membicarakan alasan liburnya hari ini kepada Hanzel, mereka belum se akrab itu. Hanzel Kamu tinggal di Jakarta? Iya, aku kos di Jakarta. Balas Kalia Hanzel Wah, berarti kapan-kapan kita bisa ketemu ya, aku juga lagi pulang ke Jakarta Kalia mengerutkan keningnya, ketemu? Kalia tidak yakin dengan itu. iya, kapan-kapan. Jawab Kalia se sopan mungkin. Ingin nya sih Kalia langsung menolak. Hanzel Iya, jadi aku kuliah di Jogja, sekarang lagi pulang Karena Kalia bingung dan malas juga untuk berpikir balasan, Kalia akhirnya memilih untuk hanya membaca pesan dari Hanzel dan melanjutkan tidurnya saja bergabung dengan Chiara. *** "Chi, hari ini kita mau kemana?" Tanya Kalia, keduanya baru saja selesai brunch dengan masih menggunakan piyama. "gak tahu, lo ada rencana atau pengen kemana gitu?" tanya Chiara balik Kalia diam, nampak berpikir lalu menggeleng "gak ada, pengen nyantai di kosan aja" Jawabnya "sama, udah kita nyantai aja di kosan, pesen ini dan itu. Lazy time" Kalia mengangguk setuju "lo ada film baru gak?" "ada, tenang aja. Stok film gue banyak. Ntar kita nonton pake proyektor" Jawab Chiara Kalia mengacungkan jempolnya, mereka memang memiliki proyektor portable untuk di kamar, sengaja mereka beli agar lebih puas jika menonton bersama "mantap" Line Hanzel Assalamualaikum Secara spontan sudut bibir Kalia tertarik membuat sebuah senyuman, meskipun baru beberapa kali Kalia chat dengan Hanzel, Kalia merasa bahwa laki-laki itu sungguh sangat sopan. Atau mungkin hanya awal saja? Kalia harus tetap hati-hati. Waalaikumsalam. Jawab Kalia "siapa Kal?" tanya Chiara yang kepo "ini, si Hanzel yang kemarin gue ceritain, yang minta nomor telpon" "oh, chat apa?" "salam doang" Hanzel Sudah sarapan? Aku mau pergi anter abi dulu pengajian ya Kalia membulatkan matanya saat membaca pesan dari Hanzel. Cukup terkejut. Kalia bahkan merasa belum sedekat itu dengan Hanzel, tapi laki-laki itu malah bersikap kalau mereka seolah-olah sudah bukan orang asing lagi. "Chi, liat deh" Kalia menunjukan chat dari Hanzel "wow, gilsss. Beda banget sama si Bagas bresengsek!" Heboh Chiara Kalia mengerutkan keningnya "maksud lo?" "lo gak ngerasa sesuatu?" "cuma ngerasa kalau si Hanzel ini ramah sih, beda aja" "nah itu, keliatan banget deh beda nya sama si Bagas b******k" Kalia langsung tersenyum, dia mengerti "iya Chi, kalau dulu gue selalu tanya Bagas di mana dan mau kemana yang berakhir dia jawab, Gue bukan koran yang harus kasih lo kabar, Hanzel beda, tanpa ditanya dia kasih kabar duluan sama gue. Rasanya aneh, tapi jujur gue suka. Receh banget sih gue" Chiara terbahak "nah kan. harapan gue adalah, ini laki-laki emang beda dan gak kaya yang sebelumnya. Semoga tetap sopan dan emang gak punya niat buruk sama lo" Kalia mengangguk "iya Chi, semoga aja si Hanzel ini orang baik, setidaknya bisa menjadi teman atau tempat sharing. Gak kaya yang sebelumnya" "betul Kal" "bentar, gue bales dulu chat dia" ucap Kalia "silahkan, inget ya, bales yang ramah!" "siap Chi" Aku sudah makan. Iya, silahkan. Ketik Kalia sebagai jawaban. *** Dua bulan kemudian Dua bulan berlalu, rutinitas Kalia masih tetap sama, tidak ada yang berubah. Kalia masih bertengkar dengan sang nenek saat ikut kumpul keluarga bulan lalu. Pekerjaan yang terus berjalan dan Adam yang masih tetap se enaknya dia. Chiara yang juga masih menjomblo. Intinya semuanya tetap berputar di tempatnya. Kecuali satu, hubungan Kalia dengan Hanzel yang semakin dekat. Dua minggu setelah chating dengan Hanzel, Kalia memutuskan untuk menghapus aplikasi kencan itu, selain tidak pernah dia pakai lagi, Kalia juga memang merasa cukup Hanzel saja. Tidak ingin bertambah lagi, maklum saja, Kalia kan memang bukat tipe fucek girl yang harus dekat atau bahkan memiliki laki-laki lebih dari satu. Itu benar-benar bukan gayanya. Semakin Kalia sering chating dengan Hanzel, semakin Kalia merasa lain dan berbeda , jujur saja, hatinya sedikit menghangat. Bahkan secara otomatis Kalia selalu membandingkan apa yang Hanzel lakukan dengan apa yang dulu Bagas lakukan, benar-benar berbeda dan Kalia suka. Hanzel Aku nyampe jakarta nanti malam, besok kita ketemu ya, bisa? Kalia membulatkan matanya saat membaca chat dari Hanzel, Laki-laki itu memang kembali ke Jogja untuk mengurus kuliahnya akhir bulan lalu, dan besok dia mengajak Kalia bertemu? Kalia belum siap. Meskipun lewat chat keduanya memang bisa dikatan cukup akrab. Aku kayanya gak bisa deh besok, Ada liputan. Dusta Kalia, sejujurnya besok dia tidak ada liputan, entah kenapa rasanya memang belum siap untuk bertemu Hanzel. Hanzel Aku jemput ke tempat liputan kamu, gimana? gak bisa, setelah liputan aku harus ke kantor, masih harus lembur. Mungkin ini yang disebut sekali berbohong akan ada kebohongan lain. Hanzel gapapa, kalau gitu aku jemput pas kamu pulang kantor. Lagi, mata Kalia membulat, Hanzel menjemputnya ke kantor benar-benar hal yang tidak boleh di lakukan. Bahaya! Menunda membalas pesan Hanzel, Kalia memilih untuk keluar ruangan dan mengunjungi Chiara, dia harus konsultasi terlebih dahulu pada sahabatnya itu. *** "apaan Kal?" tanya Chiara langsung saat keluar dari ruangannya Kalia menampilkan senyum lebarnya "gapapa, iseng aja mau gangguin lo" Chiara berdecak, menatap sinis pada Kalia "banyak banget kerjaan lo sampe mau gangguin gue" kesalnya Kalia tertawa tanpa suara, bagaimanapun, dia masih sadar kalau dirinya berada di depan ruangan Chiara. Ruangan yang di huni bersama mba popmih yang terkenal galak. Sadis! "sinis banget sih bu, gue mau nanya nih Chi" Chiara memutar bola matanya "tanya apaan? kapan gajian?" "bukan, bukan tentang kerjaan" "terus?" Kalia mengedarkan pandangannya keseluruh arah, memastikan hanya ada diirinya dengan Chiara "Hanzel ngajak gue ketemuan besok" "APA? SERIUSAN LO?!" Kalia langsung membekap mulut Chiara yang berteriak. "jangan teriak Chi!" desis Kalia Chiara yang mulutnya masih di bekap lalu mengangguk. "sumpah dia ngajak ketemu?" Tanya Chiara lagi setelah mulutnya terbebas dari tangan Kalia "iya, besok. Tapi gue tolak terus" "lah, kenapa?" "takut gue Chi" "takut di apa-apain?" Kalia mengangguk "meskipun dua bulan ini gue gak menemukan hal yang aneh dari chating nya, tapi buat ketemu langsung tuh kaya takut sama gugup aja gitu" jelas Kalia Chiara menghela nafas "gini deh, kalau lo gak mau ketemu dia, mending stop buat chating sama dia. Gak ada gunanya juga Kal, masa selamanya lo mau chating terus, buang-buang waktu, mending cari jodoh" "tapi gue takut Chi, gimana kalau dia apa-apain gue?" "gini, masa lo sama dia hubungannya mau gini aja, setidaknya lo ketemu dulu deh sama dia satu kali. urusan takut, lo bisa tentuin tempatnya di yang ramai, kaya mall gitu, nah kalau ramai gitu kan kemungkinan dia jahatin lo akan lebih kecil" Kalia mengangguk, mengerti dengan saran Chiara. "bener juga sih" "nah emang, kan gue bilang, kapan gue pernah salah?" sombong Chiara Kalia berdecak "sombong lo" Ucap nya lalu pergi meninggalkan Chiara begitu saja "heh! mau kemana lo? dasar gak sopan! " geram Chiara yang di tinggalkan begitu saja. gak usah jemput, ketemu di mall Fx bisa? Jawab Kalia Betul apa yang di katakan Chiara, setidaknya Kalia harus bertemu Hanzel, selama dua bulan ini Kalia tidak risih dan cukup nyaman dengan laki-laki itu, tidak ada kata-kata aneh yang dia lontarkan, Kalia benar-benar dibuat nyaman. Hanzel Bisa, jam berapa? Jam 7 malam Hanzel okay. sip. Sudah mau masuk waktu ashar, jangan lupa sholat ya Kalia refleks tersenyum, Hanzel tidak pernah lupa untuk mengingatkan dirinya sholat, bisa di bilang hal itu sangat sederhana, tapi jujur Kalia suka. Maklum saja, meskipun hal kecil dan sederhana, Kalia tidak pernah mendapatkan hal seperti itu dari mantannya dulu, Bagas. Laki-laki itu benar-benar cuek dan bodo amat, sangat berbeda jauh dengan Hanzel. siappp *** "Kal, hari ini jadi ketemu sama Hanzel?" tanya Chiara. "jadi kayanya Chi, kenapa? lo mau ikut?" Tanya Kalia Chiara meminum es teh miliknya "engga ah, gue mau langsung pulang aja" jawabnya, keduanya kini tengah berada di tempat bakso langganan untuk makan siang. Kalia menghela nafas "tapi gue deg degan Chi" "kalau gak yakin, mending gak usah Kal" "tapi gue juga penasaran" "terus?" "ya tapi gue takut" "yaudah, gak usah jadi" "tapi-" "gak usah banyak tapi, kalau mau ketemu ya ketemu, jangan tapi ini tapi itu. Namanya lo ragu, kalau lo ragu mending gak usah" Kalia menghela nafas "iya, gue jadi" "yang yakin. Setelah ketemu, lo harus bisa tegas untuk kedepannya. Jangan sampe si Hanzel juga bikin lo stuck kaya yang dulu-dulu" "Iya Chi" "oh iya, selama lo sama Hanzel, pastiin lo selalu waspada dan pegang hp terus, gue juga bakal stand by, jadi kalau ada apa-apa lo langsung hubungi gue. Kabarin juga setiap tempat yang mau lo tuju, mungkin kedengeran lebay, tapi itu lebih baik, berjaga-jaga itu harus" Kalia mengangguk "siap Chi, gue bakal laporan ke lo tentang apapun itu" jawab nya, Chiara benar-benar membuat Kalia menjadi lebih tenang saat ini. Hanzel Nanti malam jadi? Tidak langsung membalas, Kalia memilih untuk menunjukan pesan Hanzel kepada Chiara terlebih dahulu. "Jadi, kalau dia masih punya oleh-oleh. Bawa! buat gue!" canda Chiara "kalau ada santet nya gimana Chi?" "yeuuu, tinggal baca bismillah dulu sebelum makan nya, gampang" "dasar maneh" "udah cepet bales" suruh Chiara "baik kanjeng ratu" Jadi kok Hanzel oke, di fx sudirman jam 7 yaaa siappp. Jawab Kalia Hanzel okay, ketemu nanti malem. Jangan lupa makan siang dan sholat Zuhur siap bos. Jawab Kalia lagi. *** Kalia menatap jam yang berada di ruangannya, ternyata sudah menunjukan pukul setengah lima, itu artinya jam kantornya akan segera selesai. Saat ini, menurut Kalia, waktu berjalan begitu cepat, padahal dia berharap akan berjalan lebih lama. Kalau seperti ini, waktu bertemu dengan Hanzel juga sudah pasti akan cepat. "kenapa, mau pulang?" tanya Adam sadar dengan apa yang Kalia lakukan "engga, emang gak boleh liat jam?" tanya Kalia balik "emang gue bilang gak boleh?" "malah balik nanya" kesal Kalia "ya lo juga sama kali Kal, gue nanya, lo malah balik nanya" "bodo deh, terserah" "mau balik cepet?" tanya Adam lagi "engga, biasa aja" "terus ngapain liat jam?" "gak boleh? itu jam di taro di sana kan emang buat di liat!" "sewot amat sih Kal, cepet tua lo" "dan lo akan tetep lebih tua" Adam berdecak, menggelengkan kepala dengan kelakuan Kalia yang terlihat "ganas" "bae-bae Kal, galak lo udah kaya maung" ucapnya "biarin, yang penting cantik" "dih, pede gila" "bodo amat" Hanzel perlu aku jemput? Kalia langsung tersenyum, membaca pesan dari Hanzel yang baru saja masuk. gak perlu, kita ketemu langsung di fx. Jawab Kalia "senyum-senyum, udah gila Kal?" ucap Adam Kalia langsung menatap kesal Adam "enak aja! emang gak boleh? bibir-bibir gue" "lah sewot mulu, bae-bae Kal, ntar gak ada yang mau" "apaan sih, sembarangan!" "lah, gue kan cuma ngasih tahu Kal, jangan galak-galak sama jutek. Ntar banyak yang pelet" "pelet ikan?" "yeeeu, di bilangin" "ya lagian, emang masih zaman main pelet. Lagian gue juga masih punya Tuhan" Adam menghela nafas "iya deh Kal, terserah ananda saja, kakanda hanya mengingatkan" "dih, geuleuh" Kalia keluar kantor pukul setengah enam, dia sengaja keluar telat. Karena kalau dia keluar pukul lima dan langsung berangkat ke tempat janjian dengan Hanzel, maka Kalia akan datang lebih awal. Kalia tidak mau menunggu lama sendirian di sana. Chiara sudah mengabari Kalia bahwa dia pulang lebih dulu dan meminta Kalia untuk menghubunginya kalau terjadi apa-apa. Keluar kantor, Kalia menunggu ojek online yang sudah dia pesan. "mba Kalia?" Kalia melihat plat motor, memastikan nomornya sama dengan yang tertera di aplikasi "iya pak" Jawab Kalia kemudian setelah memastikan nopol nya sesuai "mall Fx kan mba?" "iya pak" jawab Kalia sambil menggunakan helm lalu menaiki motor "sudah mba?" "iya pak, jalan" Sebenarnya, waktu tempuh menuju mall dari kantor Kalia memakan waktu sekitar 45 menit, normalnya. Tapi mengingat jam pulang kerja dan jalanan di pastikan macet, tentu saja waktu tempuh bisa lebih dari satu jam. *** Setengah tujuh lewat lima Kalia sampai di depan mall FX, Hanzel juga masih dalam perjalanan. Kalia tidak langsung mengabari Hanzel kalau dia telah tiba, hanya tidak ingin Hanzel menganggap Kalia terlalu semangat karena datang pertama. Kalia memasuki mall, mencari tempat yang nyaman untuk dia bertemu Hanzel dan pastinya aman untuk dia sendiri. Setelah mencari, Kalia memutuskan untuk memilih tempat kopi. Dia juga mengabari Chiara dan meminta untuk sahabatnya itu selalu memegang ponselnya, takut jika hal yang tidak di inginkan terjadi. Hanzel Sudah sampai? aku baru baru sampai Sudah, baru saja. ketemu di tempat kopi yang ada di lantai dua ya. Jawab Kalia Hanzel oke. aku kesana. Kamu pakai baju apa? Aku pakai baju hitam, kerudung hitam Kalia langsung menghela nafas, rasa gugup langsung hinggap. Ingin rasanya dia kabur saja sekarang ini dan tidak jadi menemui Hanzel. Selain itu, kalau boleh jujur, asam lambung Kalia saat ini sudah naik, dia sudah merasa mual bahkan ingin muntah karena gugup. Sebuah kebiasaan yang Kalia miliki. "Lia?" Kalia menahan nafasnya beberapa detik saat seseorang memanggil namanya dari arah belakang. Dengan gugup, Kalia menoleh ke belakang, menghadap orang yang memanggilnya "i-iya" gugup Kalia Laki-laki itu tersenyum ramah, dia langsung berjalan dan duduk di depan Kalia "maaf, nunggu lama ya?" ucapnya Kalia tersenyum canggung "eng-ga, aku juga baru datang" "gak perlu kenalan lagi kan? aku Hanzel" ucap laki-laki itu ramah "iya, gak usah kok" jawab Kalia. "udah pesan minum?" Kalia menggeleng "belum" "oke, kita pesan dulu. Mau kopi?" Tanya Hanzel lagi "engga, aku mau coklat aja" "oke, tunggu di sini, aku pesan dulu ya" ucap Hanzel lalu bangkit. Kalia diam beberapa saat, cukup terkejut dengan sosok Hanzel. Bukan karena wajah, tapi karena sikapnya. Laki-laki itu tidak terlihat canggung dan gugup, dia bersikap seolah ini bukanlah pertemuan pertama untuk keduanya. Bolehkah Kalia bilang bahwa laki-laki itu benar-benar ramah? "ini coklat pesenan kamu" ucap Hanzel sambil menyodorkan pesanan Kalia "terima kasih" Hanzel tersenyum ramah "sudah makan?" Kalia menggeleng, dia tidak lapar dan asam lambungnya naik "belum" "lho, kita cari makan sekarang, kamu bisa sakit nanti" "belum lapar" ucap Kalia, bisa-bisa Kalia muntah saat makan karena kondisinya sekarang ini. "yaudah, kita cari cemilan aja" putus Hanzel Kalia menghela nafas lalu mengangguk, menuruti ucapan Hanzel. "suka makanan korea?" tanya Hanzel "suka" "oke, kita ke resto korea aja" Kalia mengikuti Hanzel memasuki restoran Korea. "kamu pesan, nanti aku" pinta Hanzel Kalia langsung memilih pesanan, bukan makanan berat, hanya cemilan khas negara gingseng. "giliran kamu" ucap Kalia Hanzel mengambil alih, memilih pesanan miliknya. "Kerjaan kamu banyak hari ini?" tanya Hanzel setelah selesai memilih pesanan "gak terlalu banyak kok" "kerjaan kamu ngapain aja Li?" "ya begitu, liputan, nulis atau ngedit, kuliah kamu?" tanya Kalia balik "ya begitu, aku ada satu mata kuliah lagi yang harus di ambil, baru bisa ambil skripsi" jelas Hanzel "lho, aku kira kamu udah skripsi" Kaget Kalia "belum Li" "bukannya bisa ya ambil skripsi sambil kuliah mata kuliah yang kurang, kan sekalian" "iya, emang bisa. Tapi ada masalah lain sih sebenernya" Kalia mengerutkan keningnya, ragu untuk bertanya "apa?" "aku belum magang" "hah?! seriusan?" kaget Kalia "serius, minggu depan aku baru magang, aku magang di Jakarta, makanya aku pulang" "kok bisa? bukannya tahun ini terakhir ya untuk angkatan kita?" "iya Li, sisa dua semester doang" "astagfirullah, ayo lah di kerjain, sayang waktunya" "iya, Li. Setelah magang, aku akan langsung garap kok, kamu kalau mau bantuin juga boleh, hehehe" "iya, kalau bisa aku bantuin" ucap Kalia. Jujur saja, Kalia gemas melihatnya. Kalia dan Hanzel ini se umuran, kuliah juga se angkatan. Tapi aneh rasanya kalau laki-laki itu bahkan baru akan magang di saat injury time kuliahnya. Pesanan mereka datang, tidak banyak. Tapi menurut Kalia sangat cukup untuk mengganjal perutnya. "selain kuliah, kamu sibuk apa aja sakarang?" tanya Kalia "bantuin Abi sama Umi di toko, Abi kan cukup sibuk, apalagi kalau undangan pengajian lagi banyak, jadi aku yang sering di minta untuk jaga di toko, mumpung belum mulai magangnya" jelas Hanzel "oh gitu" Dua bulan melakukan chat dengan Hanzel, sedikit banyak Kalia tahu tentang laki-laki itu. Hanzel itu anak ke dua dari empat bersaudara. Dia memiliki kakak perempuan, satu adik laki-laki dan satu adik perempuan. Sang kakak sudah menikah, Adik Hanzel yang laki-laki berada di bangku perkuliahan sedangkan adik bungsunya masih berada di kursi sekolah menengah atas di salah satu pesantren. Dan dari cerita-cerita Hanzel, Kalia dapat menyimpulkan bahwa Abinya Hanzel adalah salah satu tokoh agama, tokoh yang sangat di segani di lingkungannya, Hanzel juga seorang lulusan pesantren dan itu semua Kalia tahu karena Hanzel yang menceritakannya sendiri, bukan karena Kalia yang kepo dan bertanya. Tapi mengenai Hanzel yang belum menuntaskan kuliahnya, Kalia juga tidak pernah bertanya, dia takut hal itu dapat menggangu kenyamanan Hanzel. Dulu, Kalia juga paling tidak suka saat orang lain bertanya kepadanya perihal kapan Kalia bisa lulus atau sudah sejauh mana Kalia mengerjakan skripsi. "nanti pulang aku anter ya" ucap Hanzel hampir membuat Kalia tersedak minumannya "gak perlu, aku bisa pulang sendiri" tolak Kalia Hanzel menggeleng "engga, aku anter kamu. Udah malam, aku gak tega biarin kamu pulang sendiri naik kendaraan umum" "tapi aku udah biasa" "gapapa, aku anter sampe kosan" "tapi-" "aku gak bakal apa-apain kamu. Kamu aman sampai ke kosan kamu. Janji" Kalia diam, pikirannya sedang berperang antara harus menerima atau menolak ajakan Hanzel. Satu sisi dia ingin menolak karena takut, tapi di sisi lain dia ingin menerima karena melihat Hanzel yang tampak yakin tidak akan melakukan hal buruk kepadanya. "jangan takut, aku bener-bener gak akan lakukan hal buruk, aku cuma mau antar kamu dengan selamat sampai kosan" ucap Hanzel lagi Kalia menatap Hanzel, menghela nafas lalu mengangguk "iya" putus Kalia. Dalam hati Kalia terus berdoa bahwa apa yang menjadi keputusannya adalah tepat, Kalia juga meminta perlindungan Allah dan berharap Hanzel benar-benar baik. Hanzel tersenyum "terima kasih, aku jamin kamu aman" tegasnya Kalia balas tersenyum "iya" Jam di ponsel sudah menunjukan pukul setengah sembilan, Kalia meminta kepada Hanzel agar mereka segera pulang. Kalia tidak ingin sampai di kosan terlalu malam, tidak enak jika di ketahui orang lain, khawatir menimbulkan berita kurang baik. Kalia juga sudah mengirim pesan kepada Chiara, meminta agar perempuan itu siaga karena Kalia akan pulang dengan Hanzel. "gugup banget, kamu takut sama aku?" tanya Hanzel dengan nada geli Kalia yang di tanya jadi sedikit salah tingkah, takut menyinggung Hanzel "gapapa kok" bohong Kalia "yuk masuk, percaya sama aku. Kamu aman" ucap Hanzel lagi meyakinkan Kalia. Membuat Kalia benar-benar tidak enak kepada Hanzel. Kalia menghela nafas lalu masuk ke dalam mobil Hanzel. "pakai sabuknya" ucap Hanzel mengingatkan "iya" Kalia memasang sabuk pengaman untuknya. Saat Hanzel menyalakan mesin, dengan hati-hati Kalia membuka aplikasi perekam suara. Hanya untuk jaga-jaga, karena hati orang tidak ada yang tahu. Selama perjalanan, Kalia dan Hanzel sesekali mengobrol, itupun karena Hanzel yang aktif memulai obrolan, bertanya mengenai masa kuliah Kalia, hingga rasanya bekerja. Kalia yang gugup hanya bisa menjawab tanpa bertanya kembali. Hingga hampir satu jam akhirnya Kalia sampai tepat di depan kosan miliknya dengan aman sesuai dengan ucapan Hanzel. "nah sampai, gimana? aku jahatin kamu gak?" ucap Hanzel dengan nada meledek Kalia langsung tersenyum, menggelengkan kepalanya "engga kok, maaf ya" ucap Kalia "gapapa, bagus kok, kamu waspada sama orang baru. Tapi next time, jangan takut lagi ya sama aku, aku janji gak akan lakuin hal buruk, kamu aman sama aku" Jelas Hanzel Kalia kembali mengangguk "iya, insyaallah" Hanzel tersenyum, mengusap kepala Kalia yang tertutup hijab "yaudah, setelah ini langsung bersih-bersih terus sholat isya" Kalia tersenyum "iya, siap" ucapnya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN