Sambil mengulum bibirnya, Kalia memasuki kamar kosan miliknya dan Chiara. Chiara yang melihat Kalia masuk segera menghampiri, wajahnya cukup tegang dan khawatir."duh Chi, apasih" protes Kalia saat Chiara langsung meraih pundaknya, memutar tubuhnya seolah memeriksa sesuatu.
"gue cuma mau pastiin" tegas Chiara masih melakukan aksinya.
"Chi!"
"lo gak apa-apa? lo aman? si Hanzel gak apa-apain lo? gak grepe lo kan? gak cium lo? gak ngajak lo ke semak-semak? gak nampar lo? gak-"
"stop Chi!" Chiara menghembuskan nafasnya kasar
"sorry, gue cuma panik, tapi lo baik-baik aja?" Kalia tersenyum, haru, melihat Chiara begitu peduli padanya.
"I'm okay Chi" Jawab Kalia dengan senyum
"syukurlah, hampir jantung gue loncat pas lo kabarin mau pulang bareng dia. takutnya lo malah di bawa melipir"
Kalia tertawa, mencubit kedua pipi Chiara "sama, jantung gue aja salto terus sepanjang perjalanan, takut kalau dia beneran jahat"
Chiara menghempaskan tangan Kalia yang hinggap di pipinya "yaudah, sekarang cerita, tadi ngapain aja" pinta Chiara.
Kalia tersenyum, mengabaikan Chiara, Meletakkan tas miliknya, melepaskan kerudungnya. "Kal, entar aja rapih-rapihnya! gue mau denger lo cerita!" kesal Chiara Kalia menatap Chiara, senyumannya semakin lebar "entar, gue mau mandi dulu" ucap Kalia.
Hampir setengah jam Kalia membersihkan dirinya di kamar mandi, Chiara sudha siap-siap menodong Kalia untuk berbicara. Jangan sampai malam ini dia lewatkan dengan rasa kepo yang memuncak, tidak! itu sangat bahaya untuk mood nya besok hari.
"Kal, sambil cerita" rengek Ciara saat Kalia malah bersiap melakukan perawatan dengan skin care miliknya
Kalia tersenyum geli, dia tahu kalau sahabatnya ini sudah sangan kepo. Tapi dia sengaja menggoda Chiara dengan melakukan hal lain.
"CERITA ATAU GUE BAKAR TAS BARU LO!" Amuk Chiara akhirnya.
Kalia terbahak, menunda untuk melakukan perawatan wajah dan menghampiri Chiara yang duduk diatas kasur. "kepo banget apa biasa aja?" goda Kalia
Chiara mendelik, menodorong kepala Kalia "jahat lo!"
Kalia kembali tertawa
"diem!"
"oke, jadi apa yang pengen bu Chiara ketahui?"
Chiara memutar bola matanya "ceritain aja semuanya, cepet!" ucap Chiara tidak sabar
Kalia berdecak "serakah! intinya untuk pertemuan pertama sama si Hanzel gak ada hal buruk. Kesan pertama oke, sikap dia oke, gak melakukan hal kurang ajar, omongan dia juga tidak ada yang menjurus ke hal negatif kaya m***m atau goda-goda gitu, so far dia baik" jelas Kalia
Chiara mengangguk, mengerti "terus lo nyaman?"
Kalia langsung tersenyum, lalu mengangguk "nyaman" ucapnya
Chiara menghela nafas lega "bagus deh, terus kalian ngobrol apa ja?"
"ya gitulah, lebih banyak dia yang cerita sih, dia cerita tentang kegiatan dia kalau lagi di rumah ngapain aja, persiapan magang, skripsi dia. Kayanya dia orang yang terbuka gitu deh Chi, selalu ada topik yang dia omongin"
"lah, dia belum magang?" tanya Chiara terkejut
Kalia menggeleng "belum, gue aja kaget pas dia bilang kalau belum magang, tapi gue gak tanya lagi kenapa alasannya, gak enak"
"betul, nanti lo di sangka kepo banget sama dia, tapi lo beneran nyaman?"
"iya Chiara anak bapak kumis, beneran kok. Gimana ya jelasinnya."
"ya tinggal jelasin, susah amat"
Kalia menjitak kepada Chiara pelan "dasar lo"
"udah sih Kal, cepet. Gue tuh pengen tidur, tapi penasaran banget sama cerita lo" kesal Chiara
Kalia menarik nafas dalam, menghembuskan secara perlahan "bisa di biilang kalau gue nyaman. Rasanya aneh, tapi gue suka. Gini, gue itu dulu sama Bagas bisa di bilang cukup mandiri, gak pernah minta anter atau jemput, gak dapet perhatian, terus kalau curhat yang ada gue selalu Bagas tempatkan di posisi yang salah, sekalipun gue bener. Karena hal itu terjadi bukan sehari atau dua hari, tapi bertahun, akhirnya itu cukup membentuk ke karakter gue juga Kal, sampe gue punya pikir, gak perlu laki-laki karena gue bisa sendiri toh dulu pas punya Bagas aja gue segalanya sendiri, sakit hati mulu yang ada. Tapi Hanzel, apa yang dia lakuin itu gak nyentuh ke otak gue, tapi ke hati gue. Dia cerita ini dan itu, dia denger setiap jawaban gue dengan baik, dia membawa suasana menjadi lebih akrab, perhatian kecil tapi membuat hangat, dan gue langsung kaya, oh gini ya rasanya ada yang perhatian sama lo, ada yang denger setiap cerita lo, ada yang mau rela-rela puter arah demi anter gue pulang. Rasanya bener-bener bikin gue nyaman" Jelas Kalia panjang
Chaira menghembuskan nafasnya, tersenyum mendengar penjelasan Kalia "Jadi lo suka?"
Kalia mengangguk senang "suka, gue suka. Gue suka di perlakukan seperti pasangan-pasangan yang sering gue lihat."
***
Hanzel
Sudah di kantor?
Kalia tersenyum setelah membaca pesan masuk dari Hanzel.
"senyam senyum, di bilang orang gila nanti" ucap Chiara
"sirik aja Chi" Balas Kalia lalu mengetikan balasan untuk Hanzel
Belum, masih di busway
Chiara tersenyum geli saat mengintip layar ponsel Kalia "ciyeee, chat sama mas gebetan tersnyata" ledek Chiara
Kalia langsung memasukan ponselnya setelah membalas. Memukul lengan Chiara pelan "bintitan lo, ngintip-ngintip"
"enggalah, ya kali. Mau ngapain dia chat?"
Kalia mengangkat kedua bahunya "gak tahu, belum jawab lagi"
Chiara mengangguk "lo udah mulai stalk dia gak Kal?" tanya Chiara kemudian
Kalia mengerutkan keningnya, bingung "buat apaan?"
"ya buat mastiin lah, dia udah punya pacara atau belum, coba deh Kal, di stalk kalau lo lagi free, takutnya dia laki punya bini, kan repot. Mumpung baru awal juga"
Kalia mengangguk "betul! gue harus stalk, kan repot kalau tiba-tiba ada yang labrak gue, mau di taro dimana ini muka"
"di p****t!"
"ya kali Chi!"
Hanzel
Nanti pulang aku jemput ya
"Chi, liat!. jawab apa nih?" tanya Kalia sambil menunjukan chat dari Hanzel
"lo gimana? mau gak?" tanya Chiara balik
Kalia menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal "bingung"
Chiara berdecak "bingung mulu, udah jadi jobdesk lo?!"
"hahaha, sewot aja sih bu"
"yaudah, gue mah terserah. Kalau mau, lo tetep harus waspada"
Kalia mengangguk "siappp"
"eh iya Kal, gue udah mulai cari kerjaan baru"
Kalia membulatkan matanya "serius? kok lo gak bilang gue?!"
"belum Kal, ini gue bilang. Baru nyoba aja sih"
"beneran mau pindah?"
"kalau nemu yang lebih cocok sih boleh"
"iya, gue juga ah, siapa tahu nemu yang lebih oke. Meskipun sekarang udah nyaman banget sih gue"
"sama, cuma gak betah karena orang toxic aja sih"
Chiara menghela nafas "jadi pengen cepet punya suami"
Kalia langsung menyenggol lengan Chiara "yeuuu, dasar maneh! random"
***
"kita mau ngapain?" bisik Kalia pada Ando
"gak tahu, gue juga belum lama datangnya" jawab Ando yang juga berbisik. Saat ini Kalia dan yang lain berkumpul di ruang rapat. Kalia menjadi yang paling terlambat datang, meskipun rapatnya juga belum mulai.
"rapatnya dadakan banget" Bisik Kalia lagi
"iya, gue suka deg degan kalau gini" Jawab Ando
"bisa kita mulai?" Suara Evan , sang bos besar di departemen tempat Kalia membuat semua yang di ruangan rapat menegakan duduknya.
"baik, sebelum kita mulai, saya ucapkan terima kasih atas kehadiran semuanya dan maaf karena rapat kali ini sangat mendadak. Terpaksa karena ada beberapa poin penting yang harus segera di bahas saat ini juga" Jelas Evan
Kalia menghela nafas pelan, benar-benar merasa gugup.
"Kalia, Ando. Baris paling depan peliputan, apakah selama ini mengalami kesulitan?" tanya Evan langsung.
Kalia melirik Ando yang juga tengah meliriknya.
"sejauh ini engga pak" jawab Ando
"Kalia?" tanya Evan
Kalia menghela nafas, mencoba tidak gugup "dalam peliputan semua aman pak, hanya saja time schedule yang sudah di bikin setiap bulannya sering berubah" jelas Kalia
"kalau perubahan seperti itu kan normal Kal" sahut Adam
Dalam hati Kalia langsung menghujat Adam.
"betul, hal seperti itu biasanya normal, apalagi jika ada perubahan di departemennya, otomatis itu berimbas ke departemen kita juga" ucap Evan
Kalia menghela nafas sebelum melanjutkan ucapannya, pokonya kali ini dia mau cerita tentang si Adam k*****t yang selalu seenaknya dia "baik pak, tapi yang menjadi kendala untuk saya ketika kita sudah ada jadwal pasti, seseorang sering membatalkan mendadak lalu melimpahkan ke yang lain, itu yang menjadi kendala, tidka terlalu masalah jika tempat peliputan saling berdekatan, tapi kalau berjauhan? itu merepotkan" jelas Kalia
Evan mengerutkan keningnya "ada yang begitu?" tanya Evan
Kalia tersenyum, melirik Adam yang tengah menatapnya "ada pak" tegas Kalia
"maaf pak, kalau menurut saya, namanya kerja, kita harus saling tolong menolong, disaat yang satu ada hal medadak, yang lain bisa menolong" ucap Adam.
Lagi, dalam hati Kalia langsung mencaci maki Adam, benar-benar manusia j*****m!
"oke, kita lanjut bahas itu lagi nanti, hal penting yang ingin saya katakan adalah mengenai konten yang kemarin naik. Bapak ketua langsung hubungi saya mengenai berita yang di naikan, berita tentang politik. Sudah saya beri tahu dan seharusnya kalian hafal di luar kepala kalian kalau kita tidak boleh menaikan berita yang berbau politik, kita organisasi netral." Jelas Evan
Kalia dan Ando saling menatap, bingung.
"Kalia" panggil Evan membuat Kalia melonjak kaget
"iya?"
"kenapa kamu bisa kecolongan seperti itu?" tanya Evan lagi
Kalia mengerutkan keningnya "maksud bapak?"
"saya sangat tahu kalau kamu tidak bodoh Kal, kamu pasti mengerti dengan apa yang saya bicarakan" jawab Evan
"maaf pak, tapi jujur, saya memang tidak mengerti perihal saya yang bapak bilang kecolongan" jelas Kalia
"kemarin, naik satu berita tentang politik, tapi lima menit kemudian langsung saya minta turunkan ke Adam, untuk belum benyak viwers yang membaca. Dan kamu yang kemarin bertanggung jawab menyeleksi berita itu kan?"
"maaf pak, kemarin memang saya yang melakukan seleksi berita, sesuai arahan dari Adam. Tapi kalau ranah update atau menaikan berita, itukan sudah ranahnya Adam, dia yang bisa memutuskan apakah berita yang saya rekomendasikan pantas untuk di naikan atau tidak" jelas Kalia
"jadi lo nyalahin gue Kal?" tanya Adam langsung
"gue gak nyalahin lo, gue cuma jelasin ketentuannya memang seperti itu" tegas Kalia
"sudah! harga keberadaan saya di sini!" tegas Evan
"Baik, Adam memang orang yang berhak menentukan sebuah berita pantas untuk naik atau tidak, tapi saya kecewa dengan rekomendasi yang kamu berikan pada Adam." lanjut Evan
"berita yang mana pak, maaf sebelumnya"
"organisasi kita menerima uang suap. Jelas itu hoax. Bahkan keuangan sudah marah karena tuduhan itu" jelas Evan
Kalia membulatkan matanya "maaf pak, saya ingat betul bahwa berita tersebut tidak masuk kedalam rekomendasi saya. Saya membuat dua folder, rekomendasi saya dan tidak rekomendasi. Saya ingat betul bahwa berita tersebut tidak saya rekomendasikan. Jadi maaf, dengan tegas saya bilang bahwa tidak ada kesalahan saya di sini" jelas Kalia
"lo nyalahin gue lagi?" Sahut Adam yang sudah menatap Kalia tajam
Kalia balas menatap Adam dengan tajam, dia tidak takut. Toh dia berada di posisi yang benar "engga! gue gak nuduh lo, gue jelasin kalau gue gak salah, kalau lo ngeras salah, ya itu hak lo, tapi gue gak salah. Gue gak pernah rekomendasikan berita itu, kalaupun iya, harusnya lo saring ulang dan gak kecolongan yang ujung-ujungnya nyalahin gue." jelas Kalia
"gue gak pernah nyalahin lo!" ucap Adam dengan nada suara lebih keras
"gak pernah nyalahin gue tapi kalau ada apa-apa gue yang selalu lo lempar buat di salahin sama orang" sahut Kalia lagi
"Kalia" geram Adam, laki-laki itu tengah menahan marahnya
"kalian berdua stop. Saya kumpulkan kalian bukan untuk saling bertengkar. Saya hanya ingin evaluasi. Dan melihat kalian berdua seperti ini, benar-benar buat saya kecewa"
"maaf pak" ucap Kalia
Evan mengangguk "jangan di ulang ya Kal" ucapnya dengan nada yang berubah ramah
"saya pastikan kedepannya tidak ada hal seperti ini lagi" sahut Adam
Lagi, Evan mengangguk "harus Dam. Selanjutnya, saya minta untuk semua semakin bertanggung jawab dengan pekerjaan masing-masing. Kita memang harus saling membantu tapi tidak untuk memberatkan orang lain. Jangan buat orang lain sulit." Jelas Evan
***
Hanzel
Gimana? aku jadi jemput kamu?
Kalia tersenyum setelah membaca pesan dari Hanzel, pesan Hanzel tadi pagi memang belum Kalia balas.
"maksud lo apa Kal?" Kalia mengurungkan jempolnya yang akan mengetik jawaban untuk pesan Hanzel karena pertanyaan Adam. Mereka telah menyelesaikan rapat dan kembali ke ruangan.
"gue cuma mau jelasin kondisi real di sini aja kok" jawab Kalia
"tapi lo menyudutkan gue!"
Kalia menghela nafas, meletakan ponsel miliknya di meja "gue gak menyudutkan lo, gue hanya menjabarkan apa yang gue rasakan dan lalui, gak ada hoax juga dari yang gue sampaikan"
"engga, lo menyudutkan gue Kal!" ulang Adam
"bang, udah. Rapat udah selesai, seharusnya kita mulai lebih baik lagi, bukan malah begini, lo sama aja kaya bikin perhitungan sama Kalia" ucap Ando
"gue gak bikin perhitungan!"
"iya, lo begitu. Lo tahu betul kalau yang di bilang Kalia adalah nyata kondisi kita, lo hanya gak nyaman karena apa yang di bilang Kalia bikin citra baik lo luntur dengan pak Evan" jelas Ando.
Dalam hati Kalia tertawa, rasanya dia ingin salto saat ini juga mendengar ucapan Ando. Terbaik!
"terserah!" kelas Adam lalu keluar ruangan.
Kalia menggelengkan kepalanya "udah kaya anak cewe lagi pms" ucapnya
"betul" balas Adam
***
"lo bener di jemput Hanzel?" tanya Chiara
"iya, gapapa?" tanya Kalia
Chiara memukul lengan Kalia " ya gapapa! bagus lah! ada kemajuan, tapi kalau ada apa-apa, langsung hubungi gue!"
"siappp"
"bagus, kalau gitu gue balik duluan" pamit Chiara
"siap, lo hati-hati ya di jalan"
"iyaaa, awas jangan malem-malem nyampe kosan!"
"iya Chi, siappp"
Chiara keluar gedung, sedangkan Kalia memilih menunggu Hanzel di sofa yang berada di lobi. Sambil menunggu Hanzel, Kalia memainkan ponselnya, mulai berselancar di dunia maya. Mencari berita atau hanya memeriksa akun media sosial miliknya.
Hanzel
Aku udah di parkiran
Kalia langsung memasukan ponselnya ke dalam tas, berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah parkiran.
Kalia langsung tersenyum saat melihat Hanzel yang tengah tersenyum kepadanya dari dalam mobil.
"halooo" sapa Hanzel saat Kalia membuka pintu mobil
"halo" jawab Kalia
"cape?" tanya Hanzel saat Kalia sudah duduk di sebelahnya
"lumayan"
"banyak kerjaan?" tanya Hanzel lagi sambil mulai menjalankan mobilnya
Kalia menghela nafas "kerjaan sih gak banyak, cuma kesel aja"
"sama aku?"
Kalia menggeleng "bukan"
"temen kantor?"
Kalia mengangguk
"mau cerita?" tawar Hanzel
Kalia diam, ragu. Dia ingin cerita, tapi takut dengan respon Hanzel. Dia takut kalau Hanzel akan memberikan respon yang sama dengan respon Bagas saat dulu, hanya menyalahkan dirinya.
Kalia menggeleng. Tidak berani bercerita.
Hanzel mengusap kepala Kalia yang tertutup hijab coklat, hanya beberapa detik "jangan ragu, cerita aja. Aku akan dengerin kok" ucap Hanzel
Kalia masih diam.
"dari pada di pendam, lebih baik kamu cerita, biar hati kamu gak nge ganjel. Terus kalau ada apa-apa, kamu boleh cerita semuanya sama aku, aku seneng kalau kamu mau berbagi" jelas Hanzel yang sesekali melihat ke arah Kalia.
Kalia menghela nafas "kamu mau tahu?" tanya Kalia
Hanzel mengangguk "mau, kamu mau cerita?" Hanzel langsung menatap Kalia karena mereka berhenti di lampu merah.
"aku kesel sama orang kantor, dia selalu jadiin aku kambing hitam, dia yang salah malah aku yang selalu disalahin" ucap Kalia dengan wajah yang kini cemberut
"kok bisa?"
"ya bisa, nyebelin banget orangnya. Sering egois dan kasih tugas liputan semau dia. Nyebelin!"
"posisi dia sama kamu sama?" Tanya Hanzel. Kaki nya sudah kembali menginjak gas karena lampu sudah berubah menjadi hijau.
"dia lebih atas dari aku"
"tapi kamu udah protes?"
"aku bilang pas rapat tadi pagi, terus dia marah"
"ya ampun, ada orang begitu. Harusnya dia bisa lebih bimbing kamu bukan mahal memberatkan kamu" jelas Hanzel
Kalia langsung menatap Hanzel. Terkejut.
"kenapa?" tanya Hanzel yang menatap Kalia sekilas, dia harus tetap fokus melihat ke jalan.
Kalia menggelengkan kepalanya, kedua sudut bibirnya tertarik membuat sebuah senyuman.
"kamu kenapa sih?"
"gapapa" Jawab Kalia menahan senyum
"ah kamu gak jelas ah, coba cerita"
"gak apa-apa. Cerita aku udah selesai"
"bener gak mau cerita lagi?"
"iya bener, eh tapi kamu gak marahin aku?"
Meskipun Hanzel menatap lurus ke depan, Kalia masih bisa melihat kening Hanzel yang mengerut "marah kenapa?" tanya Hanzel
"ya marah aja"
"dih, kamu aneh. Ya kali aku marah gak ada alasannya, mau aku marah?"
"engga lah!"
"ya siapa tahu"
"engga lah Li, kamu gak ada salah, masa aku marah"
"terus, menurut kamu yang aku ceritain temen kantor aku pas rapat, aku salah gak?"
Hanzel menggeleng "engga, kamu udah bener kok. Gak salah sama sekali"
"seriusan?"
"iya, serius"
Kalia menatap Hanzel dan tersenyum, senang. Kalia senang saat respon Hanzel jauh berbeda dari bayangannya. Respon Hanzel berbanding balik jika Kalia bercerita dengan Bagas, laki-laki j*****m itu pasti akan menyalahkan Kalia, meskipun Kalia benar. Memang dasarnya dia tidak mencintai Kalia, jadi Kalia selalu salah dan bodohnya Kalia telat sadar malah tetep jadi bucin nya Bagas. Poor Kalia.
"jangan senyum, nanti aku diabetes"
Tawa Kalia pecah, dia memukul lengan Hanzel "basi banget gombalannya"
Semakin Kalia dekat dengan Hanzel, semakin Kalia merasa bahwa Bagas dan Hanzel itu berbeda, Bagas yang dingin dan Hanzel yang hangat. Bagas yang bodo amat, Hanzel yang peduli. Dulu Kalia tidak masalah untuk melakukan semua hal sendiri, terbiasa menahan semuanya sendiri. Tapi dengan Hanzel Kalia di buat nyaman. Memberika rasa yang dulu hanya bisa Kalia kira-kira dari pasangan lain yang Kalia lihat. Hanzel berbeda dan Kalia nyaman, itu faktanya.