13. Pernyataan Pertama

2308 Kata
"Kal, Kal" Panggil Ando Kalia diam, tidak menyahut dan tetap fokus mengerjakan pada komputernya "Kalia" panggil Ando lagi. Kalia menghela nafas "apa? gue lagi banyak kerjaan Ndo" Ando langsung menampilkan senyum lima jarinya "sorry" Kalia memutar bola matanya "apa? gue mau kerja lagi nih" Ando langsung menggeser kursi yang di duduki olehnya mendekati Kalia "lo besok disuruh liputan gak?" tanya Ando setelahnya Kalia mengerutkan kening. "Besok gue free liputan, lusa baru ada" jawab Kalia "masa besok gue suruh liptan sama si Adam" ucap Ando dengan lesu "seriusan?" "serius Kal! katanya dia ada acara mendadak, jadi minta tolong gue buat gantiin dia liputan"  "bukannya lo besok ada liputan juga dii Bekasi, Departemen Sosial mau ada acara disana kan?" "nah itu!!!" Kalia langsung memicingkan matanya, menatap Ando "gue gak mau ya kalau lo suruh buat gantiin liputan. Ogah!" tegas Kalia Ando menghela nafas, lesu. "engga Kal, gue gak mau minta lo buat ganti liputan, lo sudah terlalu sering menggantikan si k*****t itu liputan" jawab Ando "bagus, terus masalahnya apa? selain lo juga ada liputan di Bekasi?" "masalahnya adalah gue pengen nolak dan cancel liputan si Adam, tapi gue bingung harus gimana, dia maksa banget soalnya tadi" "emang udah lo setujuin pas dia minta?" Ando menggeleng "dia gak minta persetujuan gue, dia langsung mutusin kalau besok gue harus gantiin dia, sambil maksa pula" Kalia menghela nafas "Kelakuan orang itu gak pernah berubah. Mentang-mentang kordinator masih se-enaknya dia" ucap Kalia ikut kesal. Memang sih, setelah rapat terakhir dimana dia dan Adam si jin iprit hampir bertengkar, laki-laki itu sudah tidak pernah meminta untuk di gantikan liputannya oleh Kalia. Kalia pikir sudah berubah, ternyata masih saja! hanya berubah target dari Kalia ke Ando. Ck, titisan Jin! "terus orangnya sekarang kemana?" "gak tahu" "yaudah, lo tegas aja. Lo bilang kalau besok lo ada liputan, kemungkinan buat gantiin dia itu gak mungkin" Saran Kalia. "tapi Kal" "itu saran gue, lebih baik lo bilang gak mau daripada lo sanggupin tapi ternyata besok lo gak bisa, yang ada lo malah di marahin sama Adam" "gak ada saran lain?" Kalia menggeleng "gak ada, lagian biar si Adam gak gitu lagi, nanti kaya gue, sekali gue sanggupi eh malah keterusan dia nyuruh" Ando menghela nafas "okedeh gue chat dia" "bagus!" Kalia kembali fokus pada komputernya, melanjutkan pekerjaannya. Hingga bunyi notifikasi masuk ke ponselnya. Hanzel hari ini aku jemput lagi ya, sekalian kita nonton. Mau? Kalia langsung mengulum senyum dan hal tersebut di sadari oleh Ando "ciyeeee, mas pacar ya Kal" goda Ando "apaan sih Do, bukan pacar" "oohh, belum jadi pacar toh" "apasih!" "halah, yang pernah jemput lo itu kan? yang pake mobil Fortuner puti?" "lah, lo liat?" kaget Kalia "liat, dua kali gue liat lo di jemput dia, jadi bener pacar lo?" Kalia menggeleng "bukan, baru deket doang" "wihhhh, gue yang pake mobil agya mundur lah" goda Ando lalu tertawa Kalia langsung memukul lengan Ando "lebay lo! ya kalia gue liat orang dari mobilnya!" "bencanda kali Kal, jadi udah berapa lama lo deket dia?" "beberapa bulan" "sekarang tiap malam minggu jalan dong" "apasih Do, lo godain gue mulu! gak tiap minggu juga kali" "terus tiap hari jemput lo?" "engga, sebulan ini cuma beberapa kali aja. Gue gak mau ngerepotin dia juga kali Do" Ando menjentikan jarinya "asal lo tahu Kal, kalau itu cowo cinta banget sama pacarnya, perkara jemput itu gak bakal bikin dia kerepotan, malah seneng" Kalia menatap Ando "masa Do?" "iya, tapi gak tahu sih cowo lain, kalau gue sih gitu" "halah, pacar lo kan banyak!" "sudah mulai di kurangi Kal" "bodo amat" Boleh Jawab Kalia pada pesan Hanzel. Memang sudah hampir satu bulan sejak pertama kali Kalia bertemu langsung dengan Hanzel, laki-laki itu beberapa kali menjemputnya. Sejauh ini pun, bersyukur karena Hanzel bisa sangat di percaya. Laki-laki itu tidak melakukan hal-hal aneh pada Kalia. Bahkan Kalia sudah lebih sering curhat mengenai keperjaannya dan Kalia suka dengan respon Hanzel yang menurut Kalia bisa memahaminya. *** Sambil bersenandung kecil, Kalia menggoyangkan ujung kakinya. Dia tengah menunggu Chiara di lobi untuk makan siang bersama. "Kal" panggil Chiara dengan wajahnya yang terlihat lesu Kalia bangkit dari duduknya, langsung menggandeng Chiara "kenapa lu? jelek banget itu muka" goda Kalia "biasa lah, si toxic bikin ulah lagi" lirih Chiara "yuadah, ntar cerita. Kita mau makan apa?" "gue mau bakso, mau makan pedes biar pusing gue ilang" "oke. Ayo!" Tidak begitu lama, keduanya sudah sampai di tempat bakso langganan, cukup ramai tapi mereka masih bisa mendapatkan tempat duduk. "gue pesen dulu, lo komplit?" tanya Chiara "gak pake mie ya, bihun sayur aja" "sippp. Minum?" "air putih dingin aja" Chiara mengacungkan jempol, lalu pergi untuk memesan makanan. Hanzel Jangan lupa sholat zuhur dan makan siang ya Pesan dari Hanzel selalu berhasil membuat kedua sudut bibir Kalia tertarik, membentuk sebuah senyum.  "senyam-senyum, kenapa lo?" tanya Chiara yang sudah duduk di hadapan Kalia "Chi" panggil Kalia "apaan?" "boleh gak nanti pulang kantor gue pergi sama Hanzel?" "mau kemana?" "dia ngajak gue nonton, boleh gak?" "boleh, asal tetep hati-hati ya"  Kalia mengangguk "lo gak apa-apa pulang sendirian?" "selowww, sudah biasa akutuh, dia nanti jemput?" "iya, nanti dia jemput" "emang mau nonton apa?" "gak tahu Chi" "ogitu, iyadeh. Lu tetep harus hati-hati. Kabarani gue kalau lo ada apa-apa" Kalia mengacungkan kedua jempolnya "siap bu Chi" "eh Kal, gue tanya. Lu ke Hanzel gimana sekarang? apa yang lo rasain?" Kalia diam, berpikir sebelum menjawab "gimana yah, Kalau dibilang nyaman, gue nyaman. Dia bisa treat gue dengan sesuatu hal yang gak pernah gue dapatkan sebelumnya. Contoh kecilnya kaya chat, dulu gue gak pernah chat tiap hari sama Bagas, sedangkan Hanzel, setiap hari dia chat gue, ngingetin gue sholat, makan, atau nanya gue udah sampe kantor atau belum. Itu emang hal kecil, tapi gue yang gak penah dapat pehatian kecil begitu rasanya ya seneng" Jelas Kalia "lo sayang dia?" "hah?!" "lo sayang gak sama Hanzel? kalau dia nembak lo gimana?" Kalia menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal "ya gimana yah, belum kepikiran sih ke situ" "jadi kaya lo jalanin aja gitu?" Kalia mengangguk "iya, lagian nih yah, meskipun nyaman, gue juga masih ada ragu sama Hanzel" Chiara mengerutkan keningnya "ragu? kenapa?" Baru Kalia akan menjelaskan, pesanan bakso mereka sudah datang. "lanjut aja Kal" pinta Chiara sambil meracik bakso miliknya. "gini lho Chi, lo tahu sendiri kalau gue sama Hanzel ketemu lewat apa, gak menutup kemungkinan ada cewe lain juga yang dia ajak chat atau ketemu. Sikap dia emang bikin gue nyaman, tapi gue takut kalau dia bukan ke gue aja begitu, atau emang ke semua ornag begitu. gak mau percaya diri gue" jelas Kalia yang juga sambil meracik baksonya. "lah bener juga, siapa tahu dia juga punya kenalan yang lain selain lo" ucap Chiara Kalia mengangguk lalu mulai memakan baksonya.  "terus gimana? lo mau terus jalanin atau mau cari kepastian?" lanjut Chiara "gimana ya Chi, satu sisi gue siaga sama dia, alias jangan sampe gue kebawa baper banget, tapi satu sisi gue juga nyaman sama yang dia lakuin. Kalau gitu enaknya gue harus gimana?" tanya Kalia "yaudah, jalanin dulu lah, siapa tahuu dia emang serius, tapi dengan catatan tadi, jangan sampe percaya diri banget kalau dia cuma lakuin itu semua ke lu, jadi kalau suatu hari kita tahu kalau dia emang orang jahat, ya gak bakal sakit hati banget" jelas Chiara Kalia menghela nafas "iya Chi, pusing gue kalau urusan begini. Takut sakit hatinya itu lho Chi, ogah deh lagi-lagi" *** Hanzel Aku udah di parkiran ya Kalia langsung merapihkan barang-barangnya setelah membaca pesan Hanzel. Beruntung semua pekerjaannya sudah selesai. "udha mau balik?" tanya Ando "iyapp, lo masih ada kerjaan?" "engga, mau balik juga kok, tadi abis lo makan siang bang Adam balik kesini gak?" tanya Ando "engg kok, gak ada. Emang gak balik kantor lagi kali dia. Tau deh kemana" "ck, berasa dia bos nya" kesal Adam "makanya, jangan mau lagi kita di suruh seenaknya dia, kecuali emang penting" ucap Kalia yang sudah selesai bersiap-siap "gue duluan ya" lanjut Kalia "oke, hati-hati"  Sambil mengulum senyum Kalia menghampiri Hanzel yang sudah menunggunya. "lama ya?" tanya Kalia  Hanzel mengusap lembut kepala Kalia "engga kok, pas chat kamu, itu bener-bener baru datang" Kalia tersenyum, entah kenapa rasanya begitu senang saat ini. "yuk berangkat" "ayok" Hamapir satu jam mereka menempuh perjalan hingga sampai di salah satu mall. "kita makan dulu ya, baru nanti nonton" ucap Hanzel Kalia mengangguk "oke" Keduanya turun dari mobil, langsung berkeliling untuk mencari makanan. "mau makan apa?" tanya Hanzel "bingung, tapi aku gak mau nasi" jawab Kalia "udon? atau mau masakan korea?" tawar Hanzel "udon boleh, kamu mau?" tanya Kalia balik "gak masalah, yuk cari" ajak Hanzel Hampir lima belas menit akhirnya mereka menemukan tempat makan yang di cari, sebuah restoran yang menyediakan berbagai sajian udon. "kamu cari tempat, biar aku yang pesen" ucap Hanzel "oke, aku samain aja ya sama kamu" balas Kalia Hanzel mengangguk, Kalia langsung mencari tempat yang nyaman.  Tidak terlalu lama menunggu Hanzel membawa makanan, karena tidak ada antrian panjang juga. "ini punya kamu" ucap Hanzel lalu menyimpan satu mangkuk udon di depan Kalia. Kalia tersenyum, menarik mangkuk tersebut lebih dekat "terima kasih" "jadi kita mau nonton apa?" tanya Hanzel di tengah makan malam mereka "aku gak kepikiran, belum tahu film yang baru apa aja, kan kamu yang ajak aku" jawab Kalia "Aku juga belum tahu sih mau nonton apa"  Kalia terkejut "seriusan? aku kira kamu ajak aku nonton karena ada film yang mau kamu liat" Hanzel menggeleng "engga, aku cuma mau ajak kamu pergi aja" Kalia tersenyum, menggelengkan kepalanya, mendengar jawaban Hanzel "tapi kalau mau, jangan film yang mellow ya, aku bisa tidur di studio" ucap Kalia Sejujurnya, Kalia itu jarang pergi menonton, hal itu karena Kalia gampang tertidur daat menonton, sayang uang jika Kalia datang dan ujung-ujungnya tidur. "oke, ayo beresin dulu makannya" Keduanya kembali fokus menyantap makanan mereka hingga habis. Lalu menunggu sepuluh menit untuk istirahat sebelum melanjutkan langkah menuju bioskop. "ayo antri" ajak Hanzel Sambil mengantri, Kalia terus memperhatikan layar, menilai film yang akan di tonton hingga tiba giliran dia dan Hanzel "jadi nonton apa?"tanya Kalia "IT 2 mau?"  "boleh" ucap Kalia Hanzel langsung memesan tiket, saat akan membayar, Kalia segera mencegah dan langsung menyerahkan kartu miliknya. "kamu udah bayarin aku makan, sekarang giliran aku yang bayar" Ucap Kalia saat keduanya berjalan meninggalkan kasir. Hanzel tersenyum, lalu mengusap kepala Kalia lagi "terima kasih" ucapnya Kalia mengangguk, sebagai jawaban. ***  Sekitar jam sepuluh Kalia dan Hanzel keluar bioskop, keadaan mall sudah tidak terlalu ramai seperti sebelum mereka masuk bioskop. "langsung pulang?" tanya Hanzel Kalia mengangguk "iya, langsung pulang aja" jawabnya "gak makan malam lagi?"  Kalia menggeleng "engga, aku masih kenyang. Kamu lapar?" "lapar sih, tapi gak terlalu" "mau makan dulu?" Hanzel menggeleng "nanti kemaleman, drive thru aja" Kalia mengacungkan jempolnya "sipp" ucapnya Keduanya segera menuju parkiran dan meninggalkan mall. "mau drive thru apa?" tanya Kalia "KFC aja kayanya, itu udah keliatan" jawab Hanzel dengan mata yang fokus menghadap depan. "aku ngantuk" ucap Kalia.  Hanzel mengusap kepala Kalia lembut "mau pesen sesuatu biar gak ngantuk?" tanya Hanzel saat mobil sudah mengantri. "mau es krim" jawab Kalia Tangan Hanzel yang menguspa kepala Kalia langsung pindah ke setir saat giliran mereka tiba "dua ayam, satu es krim dan air mineral" ucap Hanzel menyebutkan pesanan "kamu gak makan nasi?" tanya Kalia  "gak begitu laper, ayam nya aja cukup" Kalia mengangguk, hanya diam saat mobil yang di tumpanginya terus bergerak hingga tiba di tempat pengambilan pesanan. "es krim kamu" ucap hanzel menyerahkan es krim Kalia "terima kasih"   Setelahnya, tidak ada yang bersuara lagi, Kalia fokus menghabiskan es krimnya dan Hanzel fokus menyetir. "enak banget kayanya" ucap Hanzel saat tengah berhenti ti lampu merah "mau?"  "suapin boleh?" Kalia tersenyum, menyendekon ek krim ke mulut Hanzel "dingin" "iyalah, ini kan es krim. Ayam kamu gak di makan?" Tanya Kalia "susah atuh cantik, aku lagi nyetir" Jawab Hanzel "mau sambil aku suapin?" tanya Kalia dengan ragu.  "mau banget! dari tadi lho aku nunggu kamu peka" goda Hanzel Kalia langsung merooh tasnya, mencari tissue basah untuk memberssihkan tangan. Setelah bersih, segera dia meraih bungkusan ayam milik Hanzel, mencubitnya lalu menyuapkan pada Hanzel ayng sudah kembali fokus menatap jalanan.  Ini adalah hal pertama yang dia lakukan kepada laki-laki, sesuatu yang biasanya hanya Kalia lihat dari pasangan-pasangan lain, tidak menyangka Kalia juga melakukan hal serupa. Maklum saja, dulu meskipun pacaran bertahun-tahun, mana ada duduk manis bertukar cerita ringan atau saling meberikan suapan saat salah satunya sibuk, yang ada malah keadaan menegangkan seperti akan bertemu dosen penguji. "aku terus, kamu juga makan" ucap Hanzel "aku gak lapar, kamu aja" sahut Kalia lalu menyuapkan potongan daging ayam lagi ke Hanzel. Mobil berhenti di lampu merah "minum nya mana? aku haus" Kalia langsung menyerahkan botol air mineral ke Hanzel yang langsung di buka dan di minum hingga menyisakan setengah botol. "udah hijau" kata Kalia memberi tahu "kamu beneran gak lapar?" tanya Hanzel lagi sambil menginjak gas "engga, kamu aja yang makan. Dikit lagi kok" ucap Kalia sambil menyuapi Hanzel lagi Dua potong ayam sudah habis, Kalia membersikahn tangannya dengan tissue basah lagi. Mengumpulkan sampah-sampah bekas makan mereka kedalam plastik. "tolongdi iket, terus taro di belakang, bira nanti aku buang" ucap Hanzel Kalia langsung mengikuti perintah Hanzel. "terima kasih"  Kalia tersenyum "sama-sama" Setelah satu jam lewat akhirnya mobil yang Hanzel kendarai berhenti di depan kosan Kalia, dengan selamat.  "makasih ya" ucap Kalia tulus Hanzel tersenyum, mengusap kepala Kalia. Sepertinya hal itu di sukai Hanzel. "sama-sama" "kamu langsung pulang, sholat isya dulu sebelum tidur" ucap Kalia Hanzel mengangguk "aku turun ya" pamit Kalia sebelum Kalia turun, Hanzel lebih dulu menahan dirinya "sebentar" ucap Hanzel menggenggam tangan Kalia Kalia mengerutkan keningnya, masuk kedalam mode waspada "aku gak bakal macem-macem, jangan takut" ucap Hanzel yang seperti mengerti dengan perubahan mode dalam diri Kalia "terus?" tanya Kalia Hanzel menghela nafas "aku mau bilang sesuatu"  "apa?" "aku suka kamu Lia, Kalia" Kalia diam, mulutnya seolah kaku, sulit untuk di gerakan. Rasanya seperti dia mendapat serangan mendadak. Sungguh mengejutkan. "Kalia" panggil Hanzel pelan Kalia masih diam, hanya membalas tatapan Hanzel "aku serius suka sama kamu, setelah beberapa bulan ini kita dekat, aku semakin yakin dengan perasaan aku" jelas Hanzel lagi Kalia masih diam, tidak memberikan tanda akan membuka suaranya "aku kira ini tidak terlalu cepat, kita kenal bukan satu atau dua hari, tapi sudah lebih dari tiga bulan, awalnya aku pikir kalau aku cuma penasaran sama sosok kamu karena kita sering chat dan mengira rasa penasaran itu akan selesai setelah kita bertemu. Tapi setelah pertemuan pertama, bukan rasa penasaran lagi yang ada, tapi rasa ingin selalu terus berhubungan dengan kamu, lewat chat atau bahkan ketemu langsung" Lanjut Hanzel Kalia menghela nafas, mecoba menarik kesadaran dirinya "kamu serius?" tanya Kalia pada Hanzel Hanzel mengeratkan genggamannya di tangan Kalia, mengangguk dengan yakin "serius, apa yang aku ucapkan sangat serius, begitupun rasa suka aku"  Kalia diam, menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan "terus mau kamu apa?" tanya Kalia lagi "aku mau kita punya hubungan yang lebih pasti, lebih jelas" tegas Hanzel "kamu mau aku jadi pacar kamu?" "lebih dari itu aku juga mau" Kalia diam, lalu menatap Hanzel "aku perlu waktu" ucapnya Hanzel tersenyum "baik, aku akan menunggu. Aku juga tidak akan memaksa jika nanti yang kamu ucapkan tidak sesuai dengan ekspektasiku, tapi setidaknya aku sudah lega memberi tahu kamu bahwa aku suka kamu dan itu sangat serius" jelas Hanzel Kalia tersenyum "aku pulang ya" ucap Kalia Hanzel mengangguk, melepaskan genggaman di tangan Kalia dan membiarkan Kalia turun dari mobilnya. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN