7. Haruskah Kembali Mencoba

2073 Kata
Jam sudah menunjukan pukul sebelas, tapi Kalia dan Chiara masih terlalu betah berada di kasur. Mereka bahkan melewatkan waktu sarapan mereka. Rasanya bergelung dikasur itu lebih penting dibandingkan sarapan. "Kal, lo udah bilang kalau minggu ini gak balik?" tanya Chiara  "udah, ini baru bilang" Jawab kalia sambil menunjukan chat yang dia kirim kepada bundanya. "salam buat bunda" lanjut Chiara "Oke" Kalia langsung mengetik pesan salam dari Chiara untuk sang bunda yang langsung dibalas saat itu juga "salam balik katanya, jaga kesehatan dan minggu depan pulang aja ke Bogor bareng gue" Kalia membacakan balasan pesan dari sang bunda untuk Chiara "siaaap" jawab Chiara.  Chiara ini benar-benar anak rantau, dia berasal dari Bandung, hanya saja kedua orang tuanya berada di Sumbawa karena bekerja disana. Sedangkang sang adik masih kuliah semester empat di Garut. Baru ketika hari besar seperti lebaran mereka semua berkumpul di Bandung. "lapar gak Chi?" tanya Kalia "lapar, tapi gak begitu. Lo lapar?"  "iya nih, udah kerasa lapar. Mau beli makan gak?" "boleh, udah mau jam makan siang juga" jawab Chiara setelah melihat jam di ponselnya "kita beli keluar atau pesen online?"  "pesen aja Kal, kalau beli keluar harus rapih-rapih dulu, males"  "oke, lo makan apaan Chi?" "ayam dong Kal, lagi pengen ayam geprek" "boleh lah, gue juga" Kalia langsung membuka aplikasi gofood untuk memesan makanan.  "mau pesen dimana nih? geprek artis atau bukan?" tanya Kalia lagi "biasanya kita pesen yang punya artis kan? udah itu aja. Biar gak bingung" jawab Chiara "ada tambahan gak Chi?"   "gak ada, itu aja" "oke" Kalia langsung membuat pesanan, beruntung saldo gopay milik nya masih cukup, jadi dia tidak perlu repot untuk melkukan top up terlebih dahulu atau menyediakan uang kurangnya. "udah dipesenin?" "udah Chi, terus gue mau beli salad buah, lo mau gak?" tawar Kalia "mau dong, beli sekalian yang gede buat berdua" saran Chiara yang disepakati Kalia. Kalia kembali berselancar di aplikasi untuk mencari penjual salad buah. "mau mandi?" tanya Kalia saat Chiara bangun  "engga, kebelet. Mandi mah entar aja, udah pesen salad buahnya?" "udah nih" *** "Hari ini kita mau kemana?" tanya Kalia sambil mengunyah ayam miliknya "ke teh Rasty yuk, nanyain lo mulu dia. Katanya tiap minggu balik terus" "boleh lah, tapi abis zuhur ya" "iya, pas udah aga adem aja. Di luar panas" "iyaaa, tapi jangan chat tetehnya dulu, ntar nyuruh buru-buru" saran Kalia "iya Kal, selow. Eh lo tahu gak orang di Departemen sosial mau ngadai acara" "belum tahu, acara kemana?" "Daerah Timur, kemarin proposalnya udah masuk" "Pengen gue sekali-kali ikutan ke jauh gitu, tapi paling di ambil sama Adam lagi" "emang ya si Adam itu, hobi banget tanem orang di kantor terus dianya pergi kesana kemari" Sebal Chiara. "iya, kesel gue. Kan gue juga pengen banyak pengalaman" Kesal Kalia lalu meminum es teh manisnya.  "setuju. mau nambah gak?" Tanya Chiara sambil menunjuk makanannya yang masih banyak "ogah. Pedes. Bisa bergejolak perut gue" jawab Kalia yang sudah selesai menghabiskan makanannya. "mau langsung mandi?" "iya, tapi nunggu bentar. Masih kenyang" *** "kita mau jalan kaki aja nih?" tanya Kalia sambil merapihkan kerudung hitamnya "iya, jalan kaki aja " jawab Chiara. Kosan Rasty memang tidak terlalu jauh, kalau berjalan kaki sekitar sepuluh menit. "iya, siap. Rapih gak kerudung gue?" Tanya Kalia pada Chiara "rapih, udah ayok" ajak Chiara cepat. "bentar, gue bawa salad buahnya dulu" Dengan cepat Kalia memasukan salad buah yang belum sempat di makan kedalam paperbag.  "ayok" Siap Kalia "gue kunci dulu" Chiara langsung mengunci kamar kosan mereka sedangkan Kalia sudah berjalan lebih dulu keluar, menunggu Chiara. "yey, untung gak panas banget" Senang Chiara. Biasanya jam dua cuaca akan begitu panas, tapi kali ini tidak terlalu.  "udah chat teteh belum?" Tanya Kalia lagi. Rasty itu lebih tua dari Kalia dan Chiara, mereka kenal sejak kuliah. Rasty dua tahun diatas Kalia dan Chiara. Sama seperti Chiara, Rasty juga berasal dari Bandung hanya beda wilayah. "ini baru mau" Chiara langsung mengetik pesan kepada Rasty.  "gila, udah lama banget gue weekend gak di kosan" ucap Kalia "lama banget Kal, gue aja lupa terakhir kapan" Sahut Chiara "ya gimana, bunda cerewet banget Chi, nyuruh pulang mulu" "gapapa. Lo masih enak, deket kalau mau pulang. Gue mah sekalipun pulang kampung ke Bandung, tetep aja gak bisa ketemu emak sama bapak gue. Ngumpul kalau lebaran doang. Jadi selama masih bisa tiap minggu ketemu, ya lo manfaatkan" Jelas Chiara  "salut gue sama lo. Gak bisa gue. Cengeng gue tuh kalau lama-lama gak ketemu orangtua, kelamaan dirumah" "emang. Lo dua minggu gak pulang ke Bogor malah nangis. Dilan aja kalah sama gue. Dia yang rinduin ceweknya aja bilang berat, apalagi gue yang rinduin emak sama bapak" "hahaha. Kebiasaan pulang Chi, kalau gak pulang ya cengeng" Tidak terasa, setelah terus berjalan sambil mengobrol, keduanya sampai di depan kosan Rasty. Perempuan itu sudah membalas pesan dari Chiara dan menyuruh keduanya untuk berjalan cepat agar segera sampai. "teeeehhh" panggil Chiara Kalia menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Chiara "salam kali Chi"  "hilap" Jawab Chiara lalu tersenyum lebar "assalamu-" "ADUUUUHHHHH, SIGEULIS AKU DATANG. HAYU ATUH MASUUKKK" Teriak Rasty dengan hebohnya setelah membuka pintu. "buru masuk" Suruh Rasty lagi Kalia dan Chiara langsung masuk, sedangkan Rasty kembali mengunci pintu. Jakarta itu keras bos. Seaman apapun lingkungan, berhati-hati itu lebih baik. Selalu kunci kamar kosan adalah penting untuk mencegah hal yang tidak di inginkan. "tumben kamu gak pulang ke Bogor" tanya Rasty yang sudah bergabung dengan Kalia dan Chiara "males teh, lagi pengen weh di kosan" jawab Kalia "itu bawa apa atuh?" Tunjuk Rasty dengan matanya pada paperbag yang Kalia bawa. Sungguh, sudah tidak ada rasa canggung dan basa-basi diantara mereka bertiga. Dibandingkan disebut teman, mereka lebih cocok disebut saudara dengan Rasty yang menjadi kakak paling tua. "salad buah. Tadi beli tapi belum di makan" jawab Kalia lagi "Chi atuh ih kebiasaan, jangan ngalangin kipas angin. Ari kamu mah. Masuk angin karak nyaho!" Protes Rasty karena Chiara duduk tepat di hadapan kipas angin. "atuh teh ih kedap. panas, jalan di kosan ka dieu teh lumayan. Hareudang" Sahut Chiara "teh, pinjem sendok atuh" "sok, ambil weh di dapur" Kalia langsung kedapur, kosan Rasty memang tipe kontrakan, ada kamar, dapur, kamar mandi bahkan ruang tamu, meskipun tidak terlalu besar. "kumaha ari kamu, udah lama gak  ketemu. sehat?" Tanya Rasty saat Kalia sudah kembali "sehat atuh teh, kangen?" "iya atuh. hahahaha" jawab Rasty lalu tertawa. "kumaha teh, tos aya nu baru?" "hahahaha. ari kamu mah, belum atuh ih, kumaha atuh Kal, mana si Gusti bulan depan mau nikah, terus ngundang" "seriusan teh?" "seriusan. Kemarin undangannya datang. Kumaha atuh kal" Rengek Rasty.  "atuh kumaha teh, aku ge bingung. Kan yang nikah mantan teteh" sahut Kalia lalu memulai memakan salad buahnya "download aplikasi kencan yuk Kal. Siapa tahu aku dapet gandengan buat ke nikahan Gusti"  "ogah. aplikasi apaan? tintin?" tolak Kalia tegas. Yakali, dia belum se-ngenes itu sampe harus dowload aplikasi. "halah. Kamumah emang belum mup-on aja dari si Bagas" Sahut Rasty lagi sambil bergabung memakan salad dan lagi, Rasty memang tipekal yang sulit mengucapkan huruf "f" atau "v"   "enak aja" protes Kalia.  "halah. bohong wae kamumah! ngaku maneh, masih sayang kan sama si Bagas? masih cinta?! Ngaku maneh!" Todong Rasty "ENGGA!" batah Kalia tegas "sok lah kalau si Bagas ngajak balikan kamu mau atau hente?" "engga!" "bohong" "teteh ih. akuteh gak mau balikan sama si Bagas. Aku juga udah gak suka dia lagi" "coba sini tatap mata urang terus bilang gak mau balikan sama Bagas" tantang Rasty Kalia langsung meletakan sendok nya lalu menghadap Rasty, mentap tepat ke mata Rasty "aku gak akan balikan sama Bagas" ucap Kalia dengan yakin Rasty menghela nafas "ari kamuteh kenapa? katanya putus baik-baik" tanya Rasty. Kalia memang tidak memberi tahu kalau Bagas seorang gay. Toh pada kenyataannya dia juga terlambat tahu kalau Bagas orang seperti itu dan dia hanya dimanfaatkan oleh Bagas.  Melihat Bagas itu anak yang pintar dan kesayangan pada dosen. Akan seperti apa hidup Bagas jika mereka tahu bahwa Bagas seorang gay? "atuh gapapa teh, emang bukan jodoh" jawab Kalia "putus waktu itu gara-gara apa?" tanya Rasty lagi "gak ada apa-apa teh" "gak mungkin. Kamu mah cuma bilang ke aku, aku putus sama Bagas. udah gitu doang" "ya emang gak jodoh teteh. Orang aku sama Bagas juga gak berantem, terus Bagas minta supaya kita jalan masing-masing. udah gitu aja" jelas Kalia lagi.  Sebenarnya, kalau Kalia mau, dia bisa berbicara yang sebenarnya mengenai Bagas, tapi menurut Kalia hal tersebut bukan ranahnya. Kalia takut kalau hal tersebut termasuk aib, dia tidak ingin menyebarkan aib Bagas. Biarkan itu menjadi urusan Bagas sendiri dan Kalia tidak ingin ikut campur. Lagipula, Kalia terlalu malas membahas tentang Bagas, bikin sakit hati. "yaudah buru kita download aplikasi" suruh Rasty kemudian "ih gamau teteh" tolak Kalia lagi "buru! aku malu kalau pake aplikasi itu sendirian" "ya atuh jangan nyuruh aku" "buruu, download ih. Kalau udah mup-on, harus download"  "teteh ih" rengek Kalia "cepet! aku malu ih kalau sendirian Kalia, nanti diledek" "engga teteh" "buru Kalia" Rasty terus memaksa "iya Kal, coba aja" sahut Chiara yang mendapatkan tatapan kesal dari Kalia tapi Tatapan senang dari Rasty. "tuh, cepet Kal" "ogah. Chiara aja atuh, jangan aku" "halah. emang kamu tuh belum mup-on. Masih kebayang-bayang si Bagas" Kalia menghela nafas, Rasty dan kepala batunya selalu sulit untuk dihadapi. "yaudah, aku juga dowload" putus Kalia dengan lesu. Terpaksa. "nah gitu dong" senang Rasty "nah, mantul. siapa tahu kan ada yang nyantol" udap Chiara meledek. Kalia hanya menatap kesal pada Chiara, bukan menolong, malah mendorong. Menyebalkan.  "udah belum?" tanya Rasty "udah nih. Download aja kan?" "YA DI PAKE JUGA SUEB!" teriak Rasty Kalia hanya nyengir kuda. "cepet, masukin data" suruh Rasty lagi Menghela nafas, Kalia terpaksa melakukan registrasi di aplikasi tersebut. Dia hanya menggunakan nama Lia dan memilih poto dengan kualitas rendah yang ada di galerinya. "nih udah" Kalia menunjukan ponselnya pada Rasty sebagai bukti Rasty langsung tersenyum senang " mantulll, ayoklah langsung ikhtiar. Slide kanan suka slide kiri buang" Ucap Rasty semangat dan mulai menggunakan aplikasi. Dengan malas Kalia menatap layar ponselnya, tanpa membaca nama, Kalia langsung menggeser poto-poto tersebut ke arah kiri.  *** "Cemberut aja bu haji" ledek Chiara "lo bukan bantuin malah ngomporin, jahat" kesal Kalia. Keduanya sudah kembali ke kosan setelah sebelumnya makan malam terlebih dahulu dengan Rasty. "hahaha, coba aja kali Kal" saran Chiara "coba, urusan jodoh masa coba-coba!"  "yeeuuu. Maksud gue bukan itu Kalia anak Abi" "terus gimana Chiara anak marmut?" "kurang ajar" "abisnya kesel. Mana teteh kepalanya batu banget. Gak bakal bisa menang lawan dia" "dengar ya Kalia manis, cantik, baik hati tapi gak lebih baik dari gue. hahahaha" Kalia menatap kesal pada Chiara, perempuan itu langsung menghentikan tawanya. "ekhm. Jadi gini. Inikan udah lama sejak lo udahan sama si b******k Bagas. Gue tahu hati lo juga masih sakit atau mungkin trauma. Tapi Kal, mau sampai kapan lo akan mendiamkan itu? membiarkan luka itu terus menempel dan tidak melakukan apapun tapi berharap si luka itu sembuh? sulit Kal. Gue tahu kalau waktu akan mengobati itu semua. Tapi ketika lo hanya diam dan tertutup, apa itu akan sembuh? lo perlu bergerak. Gue tahu akan sulit, tapi setidaknya mencoba. Maaf kalau gue terdengar jahat, tapi lo bisa manfaatin aplikasi itu untuk belajar,  gak harus serius, cuma buat main-main aja. Setidaknya lo berusaha untuk menyembuhkan luka lo" jelas Chiara.  Sebenarnya, mau selama apapun Kalia men-jomblo, dia tidak masalah, toh dia juga sama, masih single, iya single karena Jomblo rasanya terlalu ngenes. Semua orang memiliki target masing-masing yang berbeda yang harus segera di capai, bisa saja itu karir yang bersinar atau bahkan pernikahan.  Chiara tidak masalah jika alasan Kalia sendiri adalah fokus urusan pekerjaannya. Tapi yang jadi masalah bagi Chiara adalah hati sahabatnya yang luka. Alasan-alasan itu hanyalah pengalihan dari alasan utama. Rasa sakit hati.  Setidaknya, Chiara ingin yang terbaik untuk sahabatnya, tidak masalah Kalia mau menikah kapan atau bahkan tidak menikah, asalkan hati Kalia sembuh, meskipun tidak bisa hilang selamanya, setidaknya luka ikut kering. "susah Chi, gue takut" lirih Kalia "gue tahu Kal, Gue emang gak pernah ngalamin apa yang lo alamin. Tapi setidaknya, coba sedikit demi sedikit untuk menyembuhkan. Setelah sembuh, mau selama apapun lo jomblo, gue gak masalah" "gimana kalau gue kebakar lagi?" "gue yang akan jadi pengawas lo. Api gak selamanya melukai lo, asal lo hati-hati semuanya akan aman" Kalia menghela nafas, jika Bagas si pembuat luka itu sudah hidup bahagia, Kalia juga sama, dia juga ingin bahagia. "apa harus gue kembali mencoba?" tanya Kalia Chiara tersenyum, lalu mengangguk untuk memberi keyakinan pada Kalia "kita coba, gue akan bantu lo. Gak perlu serius, anggap aja lo lagi main. Belajar jadi fucek girl kal" Jawab Chiara sambil menaik turunkan alisnya. Kalia tersenyum, memukul lengan Chiara " gue gak bakal jadi fucek girl Chi, bakatnya jadi sad girl"   "makanya coba, siapa tahu seru. Lo inget si Diandra?" tanya Chiara "Diandra anak politik" ucap Kalia Ragu "iya, anak kelas gue. Dia sering banget ganti-ganti cowo. Seru aja katanya. siapa tahu setelah lo coba aplikasi tintin, lo ikut merasakan jadi fucek girl juga kaya Diandra" "dih ogah! keliatan murahnya. Harga diri gue meraung gak terima" Chiara tertawa "intinya, saat lo mulai main aplikasi itu, lo liat potonya baik-baik, kalau oke, geser kanan. jangan kaya tadi siang. semua lo geser kiri" "hahaha, lo tahu Chi?" "tahu lah! mata lo kemana, jempol lo kemana" jawab Chiara lalu terbahak. "yaudah deh, kapan-kapan gue coba" putus Kalia "baguss. Gitu dong. Gak harus langsung, kapanpun itu terserah inisiatif lah. Gimanapun, disini hati lo yang mau disembuhin" jelas Chiara "iya, iya. Tapi lama-lam pusing kepala gue gara-gara lo banyak omong" canda Kalia "sialan!" Umpat Chiara langsung Kalia terbahak "ngomong kasar lo, gue bilangin emak lo"   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN