6. Perjalanan Menyakitkan

1565 Kata
Flashback "sebenarnya, hubungan kita ini seperti apa?" Tanya Kalia. Kalia tentu sadar dan dia bisa merasakan, hubungan yang dia jalani dengan Bagas, tidak sama seperti dengan yang lain. Lebih intim.  "Aku pikir kamu mengerti dengan semua yang sudah kita jalani" jawab Bagas Kalia menghela nafas, jelas dia mengerti jenis hubungan seperti apa, tapi bukankah sebuah hubungan itu perlu kepastian atau kejelasan?. Menurut Kalia, kejelasan tidak bisa hanya di nilai dari sebuah tindakan, karena sebuah tindakan dapat banyak penafsiran, kejelasan juga perlu di ucapkan. Tindakan dan ucapan dalam sebuah hubungan itu penting, Ucapan sebagai penjelas dan tindakan sebagai bukti dari ucapan. Keduanya penting dan selalu berhubungan. Begitu pula dengan hubungan yang dijalani Kalia dengan Bagas. Bagas selalu protes jika Kalia memperlakukan dia sama dengan ketika Kalia memperlakukan Deni, Dodi, Zidan maupun Surya. Bagas selalu ingin di istimewakan. Jadi tidak salah jika Kalia bertanya, hubungan mereka itu apa. "kita jalani saja Kal" Ucap Bagas lagi "jalani sebagai sahabat?"  "lebih dari itu" Kalia menghela nafas, lalu mengangguk. Dan dari situlah perjalan menyakitkan Kalia dimulai. Sebuah hubungan yang penuh dengan keegoisan seseorang. Sebuah hubungan yang dijalani hanya demi kebahagiaan satu pasangan dan menyakiti diri sendiri. Asalkan dia bahagia, aku bisa terima.  Kalia adalah orang yang akan berusaha melakukan yang terbaik demi kebahagiaan pasangannya, meskipun hal itu tidak memberikan kebahagiaan untuk dirinya sendiri. Bersama Bagas, Kalia benar-benar cukup banyak menelan rasa sakit dan kecewa. Kalia dipaksa bersabar, ikhlas dan tentunya kuat. Bisa dibilang Bagas ini cukup ramah, apalagi kepada perempuan, jadi tidak heran jika dikampus teman perempuan Bagas cukup banyak. Tidak seperti Kalia yang tidak pandai bergaul dengan lawan jenis saat di kampus. Kalia dan Bagas juga beda fakultas, Kalia berada di Ilmu Sosial dan Politik dengan jurusan Hubungan Internasional, sedangkan Bagas berada di fakultas sains dan teknologi jurusan biologi murni. "besok main yuk, aku pengen jalan-jalang ke taman, olahraga" ajak Bagas "boleh, berangkat jam berapa?" "jam 7 ya, aku jemput di kosan" Kalia mengangguk semangat. Jalan berdua dengan Bagas adalah hal yang dia sukai, apalagi Bagas memang cukup sibuk. Rasanya begitu senang saat orang spesial menyisihkan waktunya untuk mengajak jalan, meskipun hanya ke taman.  Besoknya, dengan semangat Kalia bersiap diri, tidak ingin membuat Bagas menunggu. Dia sudah rapih dengan pakaian olahraganya sejak pukul setengah tujuh. Kalia menghubungi Bagas, bertanya tentang agenda mereka tapi Bagas tidak membalas. Hingga pukul sembilan, bagas tetap tidak ada tanda-tanda kemunculannya. Chiara yang melihat sahabatnya murung memutuskan mengajaknya pergi, di pertengahan jalan, tanpa sapaan atau bahkan klakson, Bagas melewati mereka berdua dengan motornya. Tidak mungkin Bagas tidak melihatnya, karena mereka sempat saling menatap. Selalu, setiap Bagas sudah melakukan kesalahan, laki-laki itu akan datang tanpa perkataan maaf, seolah tidak pernah ada masalah dan semua baik-baik saja, tidak ingin membahas dan membiarkan semuanya berlalu tanpa ada penjelasan. lagi-lagi Kalia menerima, biarlah berlalu begitu saja. Meskipun hatinya meraung telah tersakiti. "Aku bukan koran yang harus kasih kabar ke kamu setiap hari!" Ucap Bagas saat Kalia bertanya keadaan Bagas yang selalu menghilang tidak ada kabar beberapa hari. Kalia hanya diam, meskipun dalam hati menangis. Mungkin salahnya yang terlalu cerewet. Maka sejak itu Kalia tidak akan mengirimkan chat lebih dari satu kali kepada Bagas. "Selamat ulang tahun" Kalia tersenyum saat Bagas memberikan ucapan selamat kepadanya. Itu sudah hari ke tujuh ulang tahunnya terlewati. Karena di hari ulang tahun Kalia, Bagas memilih pergi dengan teman-temannya. Selalu seperti itu, Kalia tak pernah di prioritaskan. "Boleh minta jemput?" Tanya Kalia pada pagas lewat sambungan telpon "kamu sama temen kamu kan? bisa kali pulang sendiri" Jawab Bagas. "iya, aku tutup" Kalia menutup sambungan tanpa berdebat. Saat itu aplikasi ojek online tidak menjamur dan semudah seperti sekarang ini, aplikasi tersebut baru lahir dan benar-benar belum bisa diandalkan. Hari sudah malam, teman-temannya juga berbeda arah. Kalau tidak darurat, Kalia juga tidak akan meminta tolong. Tapi bersyukur setelah mencoba menghubungi Dodi, pria itu mau menjemputnya dan besoknya Bagas marah karena membiarkan Dodi menjemputnya. Lagi-lagi Kalia yang salah. "Almeera ngejar IP 4 lho, awas kalau IP mu turun" tegas Bagas yang mulai membandingkan Kalia dengan teman-teman Bagas. "aku usahakan" hanya itu yang selalu Kalia ucapkan. Toh tanpa Bagas bilang, Kalia selalu berusaha untuk mendapatkan nilai baik, hal itu dia lakukan demi orang tuanya yang utama. "kamu cinta sama Bagas?" tanya Chiara Kalia tersenyum lalu mengangguk "iya" "tapi Bagas suka bikin kamu nangis" "tapi aku gak mau pisah sama dia Chi" Selalu seperti itu saat Chiara bertanya setelah Kalia kembali di buat menangis oleh Bagas. Bagas selalu upload photo perempuan dengan caption penuh pujian dan setiap Kalia memberikan protes hanya kata "lebay" yang Kalia terima dari Bagas. Bersama Bagas, Kalia benar-benar tidak pernah merasa diperlakukan manis. Dia mandiri, tidak pernah lagi meminta tolong, tidak pernah lagi menanyakan kabar, berusaha tidak cemburu. Entahlah, sebenarnya Kalia ini memiliki pacar atau tidak.  "kita jalan masing-masing. See you on top" Kalimat yang paling Kalia ingat saat Bagas memutuskannya lewat pesan sebelum kegitan Kuliah Kerja Nyata mereka dilakukan. Tidak ada panggilan suara, hanya sebuah pesan. Tentu saja Kalia menangis. Meskipun bersama Bagas sering terasa sakit, rasanya dia tetap tidak ingin berpisah.  "Kal, gue tahu penyebab Bagas putusin lo" ucap Chiara yakin "pengen fokus sama kuliahnya" balas Kalia Chiara menggelengkan kepalanya. "salah. itu cuma alasan aja, ada yang menjadi penyebab utamanya" "apa?" "dia Gay" "hah? bercanda lo gak lucu Chi" "dan gue juga lagi gak ngelucu Kal" "ceritain" pinta Kalia langsung "gue tahu ini dari temen nya temen gue di kelompok KKN. Jadi temennya si temen gue ini datang ke tempat KKN gue, dia cerita tentang anak jurusan politik yang hits, ganteng tapi gay. Dan ternyata pasangannya Bagas. Bukan cuma dari orang itu, gue juga dapet cerita dari temen kelas gue yang lain, dia sekelompok sama Bagas dan gak sengaja baca chat Bagas sama si anak hits, mesra bangeeeetttt" Sudah jatuh, lalu ditikam. Itu yang Kalia rasakan saat tahu alasan jelas kenapa Bagas memutuskannya. Apalagi setelah itu Bagas sama sekali tidak pernah menghubuginya lagi. Benar-benar menjauh, membentangkan jarak yang begitu luas. *** Kalia menghela nafas saat kepingan-kepingan pahit hubungan dia dengan Bagas kembali bermunculan. Hatinya masih berdenyut sakit. Luka itu masih terasa dan masih cukup basah, entah kapan bisa sembuh.  "Heh! Jangan bengong! lo kaya orang kesurupan. Takut gue"  Kalia mengusap lengannya yang dipukul Chiara. Setelahnya langsung menggelinding mendekati Chiara. Memeluk perempuan itu begitu erat. Beruntung meskipun hanya ada satu kasur di kamar kosan mereka, ukuran kasur yang tersedia juga cukup luas. "lepas Kal, lo kesurupan beneran ya" Chiara mencoba lepaskan tangan Kalia yang melingkar perutnya Kalia masih diam, hanya tetap memeluk Kalia.  "anjir, takut gue. lepas gak Kal" "makasih ya Chi" ucap Kalia pelan yang membuat Chiara diam. "makasih untuk lo yang selalu ada buat gue" lanjut Kalia lagi. Chiara menghela nafas "lo kenapa lagi? ada yang nyakitin lo?" Kalia melepaskan pelukannya, merubah posisinya menjadi menatap langit-langit kamar. "gue cuma keinget Bagas aja" lirih Kalia "Si b******k itu. Dia ngehubungi lo lagi?" Tanya Chiara yang mulai terdengar marah Kalia menggeleng, matanya masih menatap langit-langit. "cuma kepikiran aja, Dia jahat banget. Gue selalu berada di pihak bersalah, dipihak paling mengalah.Hhubungan toxic itu cukup menyakitkan dan dia yang jadiin gue sebagai topeng. Itu juga menyakitkan. Kenapa dia ngasih gue luka banyak banget Chi. Gue juga manusia biasa" ucap kalia dengan air mata yang mulai bercucuran.   Chiara langsung memeluk Kalia. Meskipun Kalia nampak biasa saja, tapi hatinya tidak. Hati sahabatnya ini penuh luka. Melihat bagaimana hubungan Kalia dengan Bagas saja Chiara kesal. Rasanya ingin mencaci Kalia yang terlihat begitu Bodoh dan terlalu baik pada Bagas. Tapi Chiara menahan itu karena Kalia selalu bilang bahwa dia bahagia.   "emang gue jahat ya Chi sampe dia begitu sama gue?" tanya Kalia lagi masih sambil menangis. "engga Kal. laki-laki itu aja bresek" tegas Chiara. Rasanya dia benar-benar ingin menampar laki-laki itu. Laki-laki jahat yang sudah merusak hati sahabat baiknya. Menikam hati sahabatnya berkali-kali hingga bekasnya begitu lama hilang. Ini sudah hampir tiga tahun dan Kalia masih bisa menangis jika teringat masa lalunya itu. Bukankah artinya luka itu masih begitu menempel?  "rasanya masih sakit Chi" lirih Kalia lagi "iya, gue tahu kalau luka itu sulit untuk sembuh, tapi lo harus tetap berusaha. Lo bisa sampai ke tahap ini, itu bener-bener luar biasa. Lo sudah bisa menjadikan si b******k dan kisah lo sebagai candaan, itu juga sebuah kemajuan. Meskipun bekasnya masih menempel. Tapi gue yakin kalau itu akan hilang"  *** "Kal, lo ada gak sih keinginan buat cari pacar lagi saat ini?" Tanya Chiara. Keduanya masih bergelut dengan selimut di pagi hari. Sabtu ini Kalia memutuskan tidak akan pulang ke Bogor dia ingin menghabiskan liburnya di kosan bersama Chiara.  "Namanya ingin pasti ada. Gue normal, ngeliat orang pacaran bisa romantis sama pasangannya atau liat film bikin gue baper, tentu aja rasa ingin punya pacar itu ada. Tapi itu hanya sebatas keinginan, karena ketika gue tanya ke hati gue, hati gue gak bisa. Hati gue masih gak mau untuk memulai lagi. Gue belum siap. Lagipula gini, ketika gue dulu pacaran sama Bagas, semua gue lakuin sendiri dan guepun bisa handle apapun sendiri. Jadi sekarang ketika gue gak ada pasangan juga gak masalah, toh dari dulu juga gak ada yang bisa gue andalkan. Gue bisa survive dan lakuin apa yang gue mau. Gue juga gak kespian, gue punya lo sebagai sahabat gue  atau temen yang lain. Gue juga punya penghasilan, ada orangtua juga yang peduli. Jadi, gak ada pasanganpun, gue gak masalah dan poin pentingnya adalah, gue gak akan ngalamin sakit hati lagi. Daripada gue kebakar, bukankan lebih baik gue gak main api? " Jelas Kalia. "terus kalau gue nikah gimana?"  "ya gak gimana-gimana. Lagian sampe sekarang lo juga masih betah nge jomblo kaya gue. Jadi masih lama itumah" "yeuuu jodoh kan gak ada yang tahu Kal" "emang lo mau nikah muda?" "engga juga sih" "tuhkan. yaudah, selow aja. Jalanin aja dulu apa yang sekarang. Sing penting kita jomblo bahagia" "iya, meskipun kalau malam minggu jadi jomblo ngenes" balas Chiara dengan bibir mengerucut, meratapi nasib.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN