16. Pernyataan Kedua

1542 Kata
Pagi ini Kalia di informasikan untuk pergi ke kantor lebih awal, alasannya adalah bapak pemimpin, Evan, ingin melakukan rapat dadakan. "mau rapat apa sih Do?" tanya Kalia yang sudah beriringan dengan Ando menuju ruang rapat. "gak tahu Kal, gue di telpon subuh-subuh sama bang Adam, dia cuma bilang kalau datang lebih awal, mau rapat dan kasih tahu lo" jelas Ando "tapi Adam udah datang?"  "udah kayanya" Keudanya langsung memasuki ruang rapat, sudah ada Adam dan Evan yang datang terlebih dahulu "maaf pak, telat" ucap Kalia Evan tersenyum "gapapa Kal, silahkan duduk" suruh Evan Kalia dan Ando duduk di sebelah kanan Evan, berserangan dengan Adam yang duduk di sebelah kiri Evan. "maaf ya kalau saya minta Kalian untuk rapat dadakan lagi" jelas Evan lagi "gapapa pak bos" sahut Ando Evan mengangguk, menegakan duduknya di ikuti yang lain "baik, kita langsung mulai. Ada beberapa hal yang harus saya sampaikan. Pertama adalah perihal asisten Adam yang sudah tidak bekerja lagi, kemudian mengenai pembagian tugas kedapnnya" Evan menjeda penjelasannya, melakukan scroll di layar ponselnya yang Kalia tebak adalah catatan rapat kali ini. "jadi seperti yang kalian tahu jika asisten Adam sudah tidak lagi bekerja, hal ini kemudian membuat pekerjaan Adam cukup menimbun, saya putuskan untuk membagi tugas asisten Adam dengan rata kepada Ando, Kalia bahkan Adam sendiri. Setelah berbicara dengan Adam perihal tugas asistennya dan saya minta untuk Kalia memegang bagian edit. Asisten Adam memiliki tugas tersebut yang kemudian akan di lakukan Kalia, apalagi Kalia juga berpengalaman dengan hal tersebut dengan catatan jadwal peliputan Kalia setengahnya akan di bagi kepada Adam dan Ando. Untuk sisa tugas asisten yang lain, biar Adam sendiri yang handle, menurut saya Adam lebih tahu, toh pekerjaan utama asisten memang melakukan edit." jelas Evan.  Kalia mengerutkan keningnya, memikirkan sesuatu perihal asisten Adam yang sering di minta mengurus pekerjaan Adam yang tidak berkaitan dengan kantor ini. Apa Evan sudha mengetahu itu? "kenapa Kal?" Tanya Evan Kalia mengerjapkan matanya, kembali menarik kesadaran dirinya "tidak apa-apa pak" ucap Kalia Evan mengangguk "sepertinya sudah jelas, saya harap semua menangani tugasnya dengan baik, jangan campur adukan urusan kantor dengan non kantor. Selama kalian masih ada di jam kerja kantor ini, tolong profesional, tidak mengurus urusan kantor lain atau proyek lain" jelas Evan yang semakin membuat Kalia yakin jika laki-laki itu memang tahu kebenarannya. Ando dan Kalia mengangguk, mengerti sekaligus sepakat dengan penjelasan Evan. "perihal akan ada ganti atau tidaknya asisten, saya akan tentukan nanti setelah melihat kinerja kalian, apakah memang membutuhkan atau tidak" "baik pak" ucap Ando "hanya itu yang saya sampaikan. Tolong bekerja lebih baik lagi, saya percaya kalian dan terima kasih" tutup Evan. Kalia dan Ando segera keluar ruangan, sedangkan Adam masih di dalam ruang rapat bersama Evan. Katanya sih Adam mau bicara empat mata dengan pak bos. Entahlah. "gue sih yakin kalau pak Evan itu tahu kalau asisten si Adam sering di minta tanganin proyek lain" bisik Ando Kalia mengangguk "setuju, tugas dia paling utama itu kan edit meskipun sesekali pasti buat berita sama mengatur waktu naik berita. Adam sih enak tinggal eksekusi" "benerrrr, dia sebenernya gak terlalu sibuk di kantor ini, cuma keliatan sibuk banget karena proyek lain" "belut Do, gue makin curiga sama kelakuan dia yang sering lempar jadwal liputan, fix itu cari cuan di tempat lain" kesal Kalia "sepakat sih gue, padahal daripada gitu mending dia fokus sama proyeknya aja ya, percuma disini juga, repotin kita mulu" *** "Semalem kencan lo gimana Kal?" tanya Chiara sambil menyuapkan salad buah miliknya. Hari ini baik Kalia maupun Chiara memilih makan siang di kantor dengan memesan salad buah sebagai makan siang. Bukan karena mereka sedang diet, hanya saja belum merasa begitu lapar. "emang gue belum cerita ya Chi?" Tanya Kalia balik Chiara memutar bola matanya "cerita dari mana? semalem gue ngantuk banget! tadi pagi lo juga berangkat cepet-cepet" "oke. Jadi Hanzel mau balik ke Jogja"  Mata Chiara membulat, terkejut. "seriusan lo?!" Kalia mengangguk sambil mengunyah sebagai jawaban keterkejutan Chiara. "terus gimana?" Kalia diam, menghentikan kunyahan makanannya dengan kening mengkerut dan menatap Chiara Chiara berdecak "hubungan lo sama dia jadinya gimana Kalia" jelas Chiara "ya gimana, gak tahu Chi. Tapi Chi, masa semalem dia bilang kalau nanti dia sidang, gue di suruh ke Jogja" "ngapain?" "nonton topeng monyet! ya Liat dia sidang lah!" "jauh amat Kal! cuma liat sidang doang?" "katanya mau sekalian ngenalin gue ke umi nya" "hah?! ciyeeee. hahaha. Udah serius amat kayanya si Hanzel. Sok atuh, di gaskeun, Atau masih bingung?" "edah gak terlalu bingung sih Chi" "nah kan, udah mantep" "tapi gak mantep banget" "yeuuu, gimana sih. lieur manehmah!" Kalia terbahak "selow bos, insyaallah buat dia udah ada jawaban, tinggal dikit lagi lah ngilangin bingungnya" "iya dah, terserah lo aja" Hanzel Nanti aku jemput lagi ya  Kalia langsung memperlihatkan chat dari Hanzel ke Chiara. "udah, jawab iya" Kalia tidak langsung menjawab, tidak enak kepada Chiara yang sering dia tinggalkan sendiri. "lo gak apa-apa pulang sendirian lagi?" Chiara langsung memukul lengan Kalia "masih aja lo mikir gitu. Gapapa! udah jawab Iya ke si Hanzel. Gue bisa balik sendiri" Kalia tersenyum lalu mengetik balasan untuk Hanzel. "chi, gue tanya dong" "tanya apa?"  "Menurut lo Hanzel baik gak? kalau gue terima dia gimana?" Chiara diam, memikirkan jawaban sesuai penilaian dirinya  "lo gak langsung jawab!" decak Kalia "sabar bu! menurut gue dia orang baik, bisa ngasih vibe yang baru ke lo. Jujur sih ya, dulu sama si Bagas k*****t, lo bawaannya suram banget! sampe gue rajin doa biar kalian cepet putus. Sorry to say ya honey. Abisnya gue kesel liat lo yang sedih mulu, tapi sekarang tuh beda. Cara lo senyum aja keliatan banget kalau mencerminkan diri lo yang emang bener-bener seneng, dulumah apa atuh, FAKE. Dan kalau perihal lo terima dia, gue gak masalah selama itu buat lo seneng, so far udah deket lo berbulan-bulan dan dia gak ada catatan buruk." jelas Chiara Kalia mengangguk dengan jawaban Chiara. Rasanya setelah sering mendengar penjelasan Chiara, Kalia yakin bahwa dia tidak akan salah langkah lagi. Bagaimanapun, Chiara ada di pihak ke-tiga, berperan sebagai pengamat dari apa yang Kalia dan Hanzel lakukan. Chiara bisa memberikan saran yang menurut Kalia lebih masuk akal. *** Kalia tersenyum saat memasuki mobil yang di balas senyum juga oleh Hanzel "gimana hari ini, sibuk?" tanya Hanzel Hal ini adalah salah satu yang Kalia suka dari Hanzel, perhatian. Boleh saja bilang lebay, tapi pertanyaan kecil itu benar-benar membuat Kalia senang. "gak terlalu sibuk kok" jawab Kalia Hanzel mengusap kepala Kalia lalu mulai menjalankan mobilnya. "kita makan malam dulu ya" ucap Hanzel saat mobil yang di kendarai sudah menyatu dengan mobil lain di jalan raya "boleh" "mau makan apa?" "apa aja yang penting nasi, hari ini aku belum makan nasi"  "kok bisa?!" tanya Hanzel dengan suara yang sedikit menaik "gak pengen aja" jujur Kalia Hanzel menghela nafas di tengah fokusnya "tadi pagi sarapan gak?" Tanya Hanzel kemudian seperti orang kesal.  Bolehkan Kalia bilang bahwa laki-laki itu tidak suka dengan yang di lakukan Kalia? tapi kenapa Kalia malah senang kalau laki-laki itu marah? ah benar-benar perempuan kurang perhatian, dasar Kalia. "sarapan kok" "sama apa?" "s**u" "s**u? s**u aja?!" tanya Hanzel terkejut Kalia mengangguk "astagfirullah, terus siang makan apa?" "salad buah" "kamu diet?!"  "engga, aku gak diet, cuma lagi gak pengen aja" "sekarang kamu harus makan banyak! Astagfirullah, kalau kamu sakit gimana? aku mau berangkat ke Jogja kalau kamu sakit gimana Kalia?!"  "kamu marah?" tanya Kalia ragu "aku dari tadi beberapa bentak kali bentak kamu kalau gak marah apa? puji? astagfirullah" "kenapa?" baik, karena pertanyaan ini, boleh kalian bilang Kalia bodoh, tapi masa bodo, Kalia hanya ingin memastikan sesuatu. "aku takut kamu sakit Kalia, seperti yang aku bilang barusan, aku mau balik ke Jogja, kalau kamu sakit gimana? jangan bikin aku khawatir" jelas Hanzel yang kini terdengar lebih lembut. Kalia tersenyum, senang denga jawaban Hanzel "kenapa kamu khawatir?" "perlu banget aku jawab? kamu pasti ngerti kok kenapa aku khawatir" Kalia menggeleng, pura-pura tidak mengerti. Melihat Kalia yang menggeleng, Hanzel langsung tertawa dan mencubit pipi Kalia "gemes aku sama kamu, kamu pinter, pasti ngerti kenapa aku khawatir. Gak di jelasin juga pasti kamu ngerti. Intinya kamu harus jaga kesehatan, aku gak mau kamu sakit" Kalia tersenyum "siappp" "makan nasi gila mau gak?" tanya Hanzel kemudian "boleh" "sip, kita makan itu malem ini" "makan dimana?" "di daerah menteng ya, disana rame dan banyak pilihan, siapa tahu kamu mau sekalian makan yang lain" jelas Hanzel "okedeh" Sekitar setengah jam mereka sampai di tempat yang di tuju, kawasan menteng. Benar apa yang Hanzel bilang jika banyak penjual makanan  lain yang berjejer. "aku pesen dulu, kamu jadinya mau makan apa?" tanya Hanzel "aku samain aja ya sama kamu"  Hanzel mengangguk lalu pergi memesan sedangkan Kalia duduk, menunggu. "udah pesen minum belum?" tanya Kalia saat Hanzel sudah kembali "udah, aku pesen teh hangat" "tapi pengen air putih juga" "yaudah, nanti pesen lagi" Kalia mengangguk sebagai jawaban "gimana di kantor, aman?" tanya Hazel memulai obrolan lagi Kalia menghela nafas "aman, cuma orang menjengkelkan pasti ada" "sabar ya" Kalia tersenyum "iya. Terus kamu di Jogja udah pasti berapa lama?" tanya Kalia balik Hanzel memicingkan matanya "ciyeeee, mau bilang supaya aku jangan lama-lama di Jogja ya?" goda Hanzel "ih apasih! siapa coba yang mau bilang gitu" sangkal Kalia "bilang gitu juga gak apa-apa kok, malah seneng" goda Hanzel lagi "ih ngarep banget" "emang, aku emang ngarep kamu bilang gitu" "tahu ah, cepet jawab ih, kira-kira disana berapa lama" "belum tahu, aku kan ngurusin laporan magang, kalau itu cepet selesainya, otomatis bisa lebih cepat juga" Jelas Hanzel "ngurus laopran magang aja?" "engga sih, sekalian mau konsultasi buat proposal skripsi juga" "nah iya, biar kamu bisa cepet-cepet bikin" "bantuin ya" "iya, kalau aku bisa bantuin, pasti aku bantu" Hanzel tersenyum "makasih ya" ucapnya Kalia balas tersenyum dan mengangguk. "Kal" Panggil Hanzel "kenapa?" "aku sayang kamu" Kalia tersenyum "aku tahu" ucap Kalia "ini bukan yang pertama kali aku bilang ke kamu, aku harap kamu anggap serius ucapan ku, aku bener-bener sayang kamu" "iya, aku tahu dan kamu serius"  "kamu bener tahu?"  Kalia mengangguk "iya, aku tahu kamu gak main-main dengan ucapan kamu, kamu sayang aku dan itu serius" Hanzel tersenyum, meraih kedua tangan Kalia untuk di genggam "jadi, boleh aku tahu jawaban apa yang akan kamu kasih ke aku?"    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN