Aku melamun menatap bingkai foto di tanganku, apakah aku terkesan seperti stalker? Aku mencetak foto ini tanpa se-izin pemiliknya, sudah bertahun-tahun sejak kepergiannya aku menyimpan foto ini, fotonya yang sedang tersenyum bahagia sewaktu mendapat kejutan dari kami bertiga pada ulang tahunnya yang ke tujuh belas beberapa tahun lalu.
Ini adalah foto yang diambil oleh Bella, kemudian Bella memberikannya padaku, awalnya aku menolak, tapi Bella memaksaku menerimanya. Yah, ternyata foto ini berguna juga untuk mengobati kerinduanku selama ini, karena mustahil aku bisa menghubungi dia dengan nyaliku yang kecil ini. Aku tersenyum tipis, di foto ini, dia sangat tampan.
Ting
Tong
Bunyi bel rumahku yang berdentang membuatku tersentak, siapa yang datang sore-sore begini? Aku meletakkan kembali bingkai foto itu di atas nakas dan dengan malas berjalan menyeret kedua kakiku keuar kamar menuju pada pintu rumahku.
"Bella? Ngapain lo kesini?" tanyaku tepat saat kulihat wajah Bella yang tersenyum lebar didepanku.
Dia kemudian berdecak, "Gak boleh apa gue kesini? Kangen tau...," sahutnya. Aku memutar bola mataku kesal, "Bukannya baru tadi ketemu?" tanyaku lagi.
"Ah, gak asyik amat sih lo, Stef. Gue kesini ada kepentingan," sahutnya. "Kepentingan? Apaan?" Aku menautkan kedua alisku heran.
"Tadi Kak Salsha ngirim pesan ke gue, dia nyuruh kita ke rumah Om Afri," jawab Bella.
"Ngapain?" Aku semakin heran. "Ada hubungannya sama Melody?" tanyaku lagi dengan nada yang menyiratkan kecemasan.
Aku merasa sepertinya terjadi sesuatu sama sahabatku itu.
Bella mengangguk cepat, "Iya, gue gak tau pastinya apaan, tapi kita disuruh kesana," sahut Bella.
Aku mangut-mangut, "Oke deh, gue ikut kesana. Lo tunggu disini ya, gue mau ambil tas dulu," kataku sambil berbalik dan langsung berlari menuju kamar tanpa persetujuan Bella.
Saat tiba di kamar, dengan sigap aku meraih tas serta ponselku, kemudian kembali berlari keluar kamar untuk menemui Bella.
"Ayo..!" ajakku pada Bella yang sedang menunduk menatap layar ponselnya.
Ia mendongak, kemudian mengangguk. Akupun menutup pintu rumahku dan tak lupa menguncinya, kemudian barulah kami melangkahkan kaki menuju mobil Bella yang terparkir di depan rumahku.
*
Aku dan Bella beriringan berjalan dihalaman yang luas penuh dengan bunga-bunga ini, halaman yang dulu sering menjadi tempat bermainku bersama sahabatku sewaktu kecil.
"Melody ada didalam Bel?" tanyaku pada Bella. Dia mengangkat kedua bahunya, "Gak tau gue, yang pasti kita disuruh kesini sama kak Salsha," sahut Bella yang hanya dibalas dengusan kesalku.
Kemudian langkahku terhenti saat melihat seorang pria berdiri didepan pintu sambil menatap layar ponselnya, aku menatap sayu padanya, Bella yang mungkin saja menyadari sikapku, langsung ikut berhenti melangkah, ia mengikuti arah tatapanku, detik berikutnya kudengar dia berdecak.
"Bel, itu...,"
"Iya, itu Mike...," potong Bella sambil sedikit berbisik.
"Kok dia bisa disini sih?" tanyaku ikut berbisik. "Ya bisalah, dia 'kan sahabat kita juga," sahut Bella. Ah, benar juga kata Bella, kok aku jadi bego gini sih?
Tiba-tiba pria yang semula menatap layar ponselnya itu, beralih menatap kami, ia melemparkan senyuman tipis pada kami, oh Tuhan, senyuman itu, membuat jantungku berdegup kencang.
"Ngapain bengong disitu woy? Sini..!" serunya sambil melambaikan tangan. Aku hanya bisa termenung dan terpana, aku takut terlalu dekat dengannya, jantungku sangat susah dikontrol.
"Ayo, Stef...!" Tanpa permisi Bella menarikku untuk berjalan. Ah Bella, gak tau apa dia, kalau aku lagi menormalkan detak jantung?!
Semakin dekat kami berjalan mendekati Mike, semakin kencang pula degup jantungku, aku harus apa?!
Saat kami berdiri di depan Mike, aku memberanikan diriku untuk menatap wajahnya, wajah pria yang selalu terlihat tampan di mataku. Mike tersenyum sambil menatapku dan Bella bergantian.
Aku tidak bisa berbohong, senyumannya sungguh benar-benar dapat menghangatkan hatiku yang terus berdebar kencang. Tatapan matanya pun begitu teduh, membuatku sellau terhipnotis tiap kali bertemu pandang dengannya.
"Kalian kesini juga?" Mike bertanya sambil mengerutkan dahinya, ia juga sepertinya sama bingungnya dengan kami yang tiba-tiba disuruh kerumah sahabatku ini-Melody.
Aku ingin menjawab, namun langsung di sambar oleh Bella, "Iya nih, gak tau kenapa. Pengin bagi-bagi duit kali," jawab Bella dengan lancarnya.
Huah, memang kadang sahabatku yang satu ini kelewat barbar nya, upss...! Kalau dia tau aku mengatainya begitu, dia akan sangat marah padaku dan bisa kupastikan Bella akan merajuk sepanjang hari padaku.
Eerr..., membayangkannya saja aku ngeri, memang sih dia nyebelin, karena dia yang main nyambar aja, aku jadi kehilangan kesempatan buat jawab pertanyaan Mike.
Aku juga jadi kehilangan nyaliku, melihat Mike yang mengangguk-angguk mengerti kemudian terkekeh kecil menanggapi guyonan yang Bella ucapkan.
Aku kehilangan nyali, sebab jika saja aku yang menjawab, mungkin respon Mike tidak sebagus itu, karena aku ini memang katanya tipe orang yang rasional dan berkata sekenanya saja.
Kurasa, akan jadi canggung dan datar jika aku yang menjawab. Yah, aku memang tidak bisa menempatkan diriku, bahkan di depan orang yang kusukai.
"Yaudah. Kalau gitu, kita masuk aja," kata Mike memberi usulan yang langsung direspon anggukan setuju olehku dan Bella.
"Kali aja beneran bagi duit ya, Mike...," ujar Bella masih sempat-sempatnya melontarkan kalimatnya yang berisi guyonan tidak masuk akal itu.
Mike terkekeh kecil, ia mengeleng-gelengkan kepalanya maklum-akan kebiasaan Bella yang seperti ini.
Akupun hanya bisa ikut terkekeh kecil, meski jauh di lubuk hatiku yang terdalam, aku sangat ingin melihat Mike terhibur olehku.
Huah, kali ini saja aku merasa ingin memiliki sifat yang sedikit... eum, tidak tahu malu seperti Bella...? Oh, c'mon, Steffi. Poor you.