"Destiny never lies."
*
Benar saja, seperti dugaanku, memang terjadi sesuatu pada Melody. Tak kusangka hubungannya dan Iqbaal malah seperti ini, aku sendiri sempat tercengang saat mendengar bahwa sahabatku itu dan suaminya akan bercerai.
Hell no..., Melody sedang mengandung anak mereka, bagaimana bisa mereka mengambil keputusan sekonyol itu? Lebih konyol lagi saat aku mendengar bahwa Iqbaal akan menikah lagi. Yang benar saja?! Disaat kelanjutan hubungan mereka masih rumit bak benang kusut, Iqbaal malah ingin menikahi sahabatnya sejak kecil, yang kudengar bernama Rebecca itu?
Mereka semua gila, aku tak habis pikir sama sekali. Aku tidak bisa berbohong pada diriku sendiri, jika dibalik masalah yang menimpa sahabatku ini membuat diriku merasa sedikit was-was.
Apakah aku jahat? Jika aku takut saat Melody dan Iqbaal bercerai nanti, Melody akan bersama dengan Mike? Entah mengapa aku merasa begitu, itupun karena aku juga tak bisa menyangkal sesuatu, aku tahu, mungkin aku lebih tau dari siapapun, bahwa dari dulu Mike sangat mencintai Melody.
Bahkan aku tahu, Mike sangat perhatian pada Melody dan ia menyimpan rasa sayang yang amat dalam pada Melody. Itu terbukti saat Melody melarikan diri dari rumah Iqbaal, Mike dengan senang hati menerima Melody untuk tinggal di apartementnya.
Aku tak bisa bohong, aku sangat cemburu dan semua pemikiran itu membuatku berasumsi jika Melody dan Iqbaal berpisah, Mike tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Terlebih saat aku melihat binar dimata Mike tadi, sewaktu Kak Salsha menjelaskan bahwa Melody ingin berpisah dengan Iqbaal, meskipun dia terlihat cemas seperti yang lain, namun aku bisa melihat jelas, bahwa tersirat harapan di mata pria itu.
Ah, aku menyesali diriku yang terlalu peka pada orang yang kucintai, karena ini adalah cinta sepihak. Aku merasa benci pada diriku yang mendadak kesal pada keputusan Melody karena takut Mike akan maju bak pahlawan ditengah-tengah konfliknya dan Iqbaal. Aku takut, Melody akan menerima Mike, meski Melody selalu mengatakan ia sudah menganggap Mike seperti kakak laki-lakinya, tapi aku tidak semudah itu percaya, aku merasa bahwa tidak menutup kemungkinan Melody putus asa dan memilih Mike yang bisa ia yakini dapat membahagiakan dia.
Sungguh, aku merasa hancur dan tidak tahu harus bagaimana menanggapi ini semua. Benar saja, cinta diantara sebuah persahabatan itu rumit dan menyusahkan menurutku. Mau bagaimana lagi memangnya? Aku tidak bisa menyangkal ini semua, aku tidak bisa menyangkal bahwa aku jatuh cinta.
God, bagaimana kira-kira aku harus menyikapi semua ini? Bantu aku, help me....
*
13th February
London, Inggris
Steffani
Kuhembuskan napasku saat aku pertama kali menginjakkan kakiku keluar dari London Heathrow Airport. Saat ini aku tengah berjalan menuju sebuah taksi yang sudah ku pesan sebelumnya-lebih tepatnya dipesankan oleh ayahku.
Yah, sebenarnya London bukanlah tujuanku, aku sama sekali tak ingin atau bisa dibilang aku tidak memiliki niat untuk melanjutkan kuliahku disini, meski itu hanya satu semester. Namun, daddy bersikeras menyuruhku melanjutkan kuliah disini.
Ia mengenal seorang dosen di universitas tujuanku, aku akan melanjutkan pendidikanku selama satu semester di Loughborough University. Well, yang kudengar dari daddy, universitas itu sangat bagus dan direkomendasikan untuk jurusan ekonomi sepertiku.
Semoga saja aku bisa bertahan disini, yah, aku cukup lebay-kurasa, aku tidak terlalu excited karena memang aku sama sekali tidak berniat kuliah disini, meski banyak orang yang mengatakan, bahwa keputusan bagus untukku bisa mendapatkan kesempatan kuliah disini. Entah mengapa, aku merasa, kuliah di negara sendiri-Indonesia, itu jauh lebih menyenangkan.
Daddy bilang jika aku mengikuti kelas secara aktif dan rajin, aku bisa menyelesaikan kelasku hanya dalam empat bulan. Kalau aku biasa-biasa saja, mungkin akan sampai lima bulan, dan karena daddy merupakan seseorang yang disiplin waktu dan tidak suka membuang-buang waktu, tentu saja beliau lebih berharap aku dapat menyelesaikan kelasku hanya dalam kurun waktu empat bulan.
Sungguh, satu beban lagi yang kurasakan, ditambah disini aku belum mengenal siapapun. Ah, baru beberapa jam yang lalu aku meninggalkan negara kelahiranku, aku sudah merindukan kerabat dan teman-temanku yang ada di Jakarta. Bisa gak sih, Steffi pulang aja?
Yah...., tentu saja itu pemikiran yang bodoh, mana mungkin aku bisa pulang-ya, mungkin saja sih, jika aku sanggup menghadapi muka sangar daddy dan jangan harap beliau akan membukakan pintu untukku jika aku kembali lagi dengan konyolnya.
Aku menarik napasku. Ya sudahlah, terima saja takdir ini, aku juga ingin cepat-cepat selesai kuliah dan langsung bekerja. Oh ya, satu hal lagi yang membuatku kesal, daddy memintaku untuk melamar pekerjaan nantinya disini aja, di negara orang ini.
Gezz...., padahal setelah selesai kuliah, aku berniat pulang kembali ke Indonesia, lebih tepatnya Jakarta dan melamar pekerjaan disalah satu perusahaan yang ada disana. Toh, kenalanku banyak yang memiliki perusahaan, dan perusahaan mereka cukup besar dan juga maju. Perusahaan Iqbaal-suami Melody, contohnya, ha ha ha.
Tapi daddy tetaplah daddy, yang tidak dapat dibantah oleh siapapun. Aku kadang merasa bahwa hidupku ini tidak bebas, selalu ada aturan disana-sini. Steffi, kamu tidak boleh ini, kamu tidak boleh itu, kalau mau memutuskan sesuatu harus dengan izin daddy, jangan asal ngambil keputusan..., gezz..., ada kalanya aku muak dengan semua aturan itu.
But, sekali lagi, apa boleh buat? Aku cuma bisa menurut, dan ada sisi positif dari diriku yang menyadari bahwa daddy protektif seperti itu untuk masa depanku juga. Aku juga tidak tega menolak perintah daddy untuk kuliah disini, salah satunya karena aku menghargai beliau, aku bisa melihat perjuangan beliau saat memperjuangkanku agar bisa kuliah disini, segalanya dilakukan oleh daddy. So, ingin atau tidak ingin, aku tidak memiliki pilihan. Aku harus menerima semuanya dan mematuhi aturan daddy.
"Mau kemana, nona?" tanya pengemudi taksi ini membuyarkanku yang sedari tadi hanya diam dan sibuk pada pemikiranku sendiri.
Aku tersenyum kikuk, sudah berapa lama aku melamun?
"Saya ingin ke Apartement Wills, di jalan Spitalfields. Apakah Anda tahu?" ujarku mencoba mengingat-ingat nama apartement yang daddy katakan padaku.
Driver itu mengangguk, "Sure, miss. Saya akan mengantarkan Anda." Jawabannya membuatku menghela napas. Aku memang belum terlalu tahu tempat disini, jadi aku sedikit kikuk menyebutkan nama tempat. Syukurlah, sepertinya driver taksi ini paham bahwa aku baru tiba disini hari ini.