Bagian 42 “Kenapa kamu baru menemuiku sekarang? Dan kenapa kamu tidak membenciku?” aku menatap sepasang kelereng biru gelap itu dalam-dalam. Mencoba mencari tahu rahasia apa saja yang mungkin tersimpan dibaliknya. Kaivan mengambil napas. Sorotnya tampak lelah. “Aku perlu waktu dua minggu untuk keluar dari rumah sakit, Deandra. Dan setelah itu aku harus menemani Anditha terapi ke Singapore sebulan penuh. Baru ketika Anditha sudah boleh pulang, aku langsung menemuimu.” Anditha, ya? Mendengar nama itu, rasanya sudah tidak sesakit dulu. Ya, walaupun rasa tercubit itu masih ada, sih. Mungkin aku merasa iri karena Anditha bisa lebih dekat dengan Kaivan? Tapi, bukan itu permasalahannya sekarang. Aku harus bertanya sesuatu... sesuatu yang mengganjal otakku semenjak menginjakkan kaki d

