Bagian 41 Aku mengambil napas. Menyandarkan punggung pada pintu yang tertutup. Sudah dua jam aku dalam posisi seperti ini, menghadap ke ranjang yang ditempati Kaivan yang masih tertidur pulas. Sebenarnya, aku ingin pergi dari kamar ini, sejak tadi. Tapi sepertinya Kaivan sengaja mengunci pintu dan menyembunyikan kuncinya entah kemana. Membuatku harus terkurung di sini seperti orang bodoh. Aku sudah berusaha mencari ke setiap sudut, tentu saja. Tapi kunci itu tidak kutemukan juga. Ingin membangunkan Kaivan, tapi rasanya tidak tega. Dia terlihat begitu kelelahan dan tidurnya teramat pulas. Merenggangkan otot, aku kemudian berdiri. Tidur dua jam sudah cukup untuk Kaivan kan? Karena aku sudah sangat bosan. Memandangi wajah Kaivan pun, aku tidak berani. Takut jika perbuatanku i

