Bagian 40 Ini ... bukan mimpi, kan? Aku mengerjab beberapa kali, berusaha meyakinkan diri bahwa suara yang barusan aku dengar adalah milik Kaivan dan bukannya imajinasiku saja. Dan, deru napas yang semakin bertambah keras di belakang leherku membuat aku langsung bangkit dan menjauhkan diri. Menoleh ke belakang, aku menelan ludah saat melihat Kaivan berbaring menyamping sambil bertelanjang d**a. Manik biru gelap itu menyorot sayu, khas bangun tidur. Aku bisa melihat kantung matanya yang tebal, serupa panda. Apa dia tidak tidur selama satu tahun? Dan, apa yang dia lakukan selama ini di Indonesia? Apa dia juga merindukanku? Tiba-tiba saja, dadaku memuncah oleh perasaan asing. Ada geliat menyenangkan yang kini bangkit saat melihat fisik Kaivan secara nyata. Apa ini yang dina

