Bagian 39 Aku menormalkan helaan napasku yang memburu. Bersandar pada sofa, aku membiarkan Erlin yang masih berlari sambil tertawa dan meledekku. Erlin ini anaknya hiperaktif sekali, sebulan bersama Erlin membuatku tahu cukup banyak kebiasaannya. Mulai dari cemberut ketika kugoda pipi bakpau, sampai tingkah jahilnya yang selalu membuatku geleng-geleng kepala. Seperti sekarang, aku sudah kelelahan mengejarnya karena Erlin menyembunyikan ponselku. “Nanti tante nggak mau ngajar Erlin lagi loh. Kembalikan ponselnya,” ujarku, berusaha memasang wajah serius sambil mengulurkan tangan. Sejenak, Erlin berhenti, menatapku polos dengan kedua bola matanya yang besar. Aku nyaris saja mengeluarkan tawa ketika bibirnya perlahan menekuk. Seperti enggan memberikan ponselku tapi tidak mau aku pergi

