Bagian 43 Aku menelan ludah. Meremas ujung sofa ketika Petra berjalan mendekatiku. Entah kenapa, aku bisa merasakan aura kemarahan Petra yang tidak biasa. Apa dia sudah tahu jika seharian ini aku bersama Kaivan? Terkadang, aku tidak mengerti jalan pikiran Petra. Di satu sisi, dia bisa jadi Petra yang dulu; Petra yang selalu perhatian dan penyayang. Tapi di sisi lain, dia bisa jadi monster yang mengerikan. “Kamu tidak boleh melakukannya.” Petra menatapku tajam, bibirnya membentuk garis lurus dengan rahang mengeras. Aku mengambil napas dalam, meneguhkan hati. Aku balik menatapnya, “Kenapa? Apa yang membuatmu membenci Kaivan sebenarnya? Dia tidak pernah mengganggumu, Kak. Dia bahkan hanya diam ketika kamu hampir membunuhnya.” Aku menahan suaraku agar tidak terdengar ke

