Bagian 44 Aku menutup mulutku dengan telapak tangan, menahan tawa. Kaivan masih tampak sibuk dengan pikirannya. Kening itu berkerut dalam, bibir tipisnya bergerak-gerak-seperti sedang mengucap mantera. Dan, akhirnya tawaku benar-benar meledak saat Kaivan kembali menatapku dengan sorot terkejut. Dia meremas jari-jariku erat. “Aku akan jadi seorang ayah, Dean?” aku mengangguk dan tersenyum. Dia mengecup jari-jariku. “Aku benar-benar tidak menyangka jika dia akan datang secepat ini.” Perlahan, jemari besar Kaivan bergeser ke arah perutku, mengusapnya perlahan. Aku bahkan bisa merasakan jika tangan Kaivan bergetar saat bersentuhan dengan perutku. Dan, binar kebahagiaan di matanya itu membuat hatiku menghangat. Ada kepakan sayap di dalam sana yang terasa menyenangkan. Kini, se

