Minggu pagi ini Ayunindya benar-benar datang untuk menjemput Ran. Mereka akan berangkat bersama-sama ke tempat acara dilangsungkan. Ran merasa antusias sekaligus gugup. Dia menatap ibu mertuanya yang cantik tanpa cela, lalu ke arah dirinya sendiri. Ran sadar diri bahwa dia juga cantik. Tapi entah kenapa perasaan tidak percaya diri itu tidak pernah bisa hilang Dia merasa bahwa seolah-olah cap gadis miskin dan menyedihkan masih tertulis di keningnya seperti tinta permanen. “Kenapa? Kamu tampak nervous.” Ayunindya sedari tadi menyadari setiap gerak-gerik Ran yang menunjukkan bahwa gadis itu gugup. Ran mengangguk tanpa merasa harus berbohong. Dia dan Ayunindya kini memiliki hubungan yang cukup dekat, tidak sedingin dulu. Dan lebih dari siapa pun, untuk saat ini Ayunindya lah yang paling men

