Dua hari dua malam memikirkan hal yang sama membuat kepala Ares nyaris pecah. Besok sudah hari ketiga. Itu artinya ia harus segera membuat keputusan. Beruntung Bella dan Dikta sama sekali tidak mengejar-ngejar jawaban darinya. Tapi kalau besok ia tidak juga memberi keputusan, habis sudah riwayatnya.
Pada akhirnya, Ares meraih ponsel dan mengirim pesan pada Anya. Setelah itu, ia terburu-buru meninggalkan acara premiere film dan melaju dengan mobil hitam mengkilatnya. Ares akan menemui Anya di apartemennya. Tujuannya jelas. Ia akan membicarakan soal skandal itu.
Jujur, nyali Ares ciut. Namun ia tidak punya pilihan jika ingin kariernya selamat. Jujur pada Anya adalah langkah berani yang harus ia ambil, apa pun risikonya.
Ares melangkah gugup menyusuri lorong apartemen. Begitu tiba di depan pintu apartemen Anya, ia terdiam sejenak. Berusaha mengumpulkan rasa tega yang sulit ia bangun.
Ceklek!
Tiba-tiba pintu terbuka sebelum Ares menekan bel. Wajah jelita Anya tersenyum menyambutnya.
“Kok diem aja?” sapa Anya ramah.
Ares tersenyum hambar. Ia merangkul pinggang Anya, lalu mendaratkan kecupan ringan di kening gadis semampai itu.
“Masuk,” kata Anya mengajak sang kekasih. Ia menutup pintu apartemen sebelum kembali angkat bicara, “Dadakan banget. Bukannya kamu ada acara premier? Emang udah kelar acaranya?”
Ares menggeleng dengan tatapan sayu. Perasaannya sudah terlanjur kacau. Bahkan untuk duduk pun, ia sudah tidak berminat.
Menyadari kelesuan Ares, Anya pun menggenggam tangannya. Masih dengan senyum menawan, ia bertanya pada sang kekasih, “Kamu balik duluan? Kenapa? Kok mukanya sedih gitu?”
“Aku mau ngomong sama kamu,” sahut Ares akhirnya bersuara.
“Oke, ngomong aja,” angguk Anya.
“Tapi sebelum aku ngomongin inti masalah, please kamu jangan marah atau motong kalimat aku. Dengerin dulu semuanya sampai selesai....”
Ucapan super serius Ares sontak membuat kening Anya mengernyit.
Ares yang seperti ini sangat asing baginya. Ares yang ia tahu selalu serius tapi santai. Namun malam ini, ekspresi sang kekasih jauh berbeda. Entah kenapa, Anya jadi takut mendengar kelanjutannya. Karena itu, ia pun terdiam. Bingung harus menjawab apa.
“Sayang, maafin aku, ya….”
“Untuk?” tanya Anya pelan.
Helaan napas panjang Ares terdengar. Ia menatap Anya dalam-dalam sebelum menjawab, “Aku udah bikin kesalahan besar.”
Kening Anya semakin mengernyit. “Aku nggak ngerti maksud kamu.”
“Aku nggak sengaja tidur sama cewek lain waktu mabok! Aku harus nikahin cewek itu!” jawab Ares cepat dan keras. Sedetik kemudian, ia menatap Anya dan berkata dengan suara melemah. “Maaf….”
Anya terpaku di tempatnya berdiri. Tak ada sepatah kata pun meluncur dari bibir ranumnya. Namun satu yang pasti, perlahan ia melepas genggamannya pada tangan Ares. Gadis jelita itu mundur perlahan dua langkah dengan raut wajah shock.
“Anya….” Ares memanggil sang kekasih dengan lemas.
Gadis itu hanya menggeleng tidak percaya.
“Ini jebakan April Mop, kan?” tanya Anya dengan senyum yang dipaksakan.
Gelengan pelan Ares membuat Anya menarik napas dalam-dalam. Ia menunduk sejenak, sebelum akhirnya kembali mengangkat kepala dan memandang Ares.
“Selama ini kita backstreet. Selama enam bulan pacaran, publik belum tau kamu pacar aku. Terus tiba-tiba kamu dateng buat bilang ‘mau nikah’ sama cewek lain?” ucap Anya berusaha mengulang apa yang telah ia pahami.
Ares tidak menyahut. Tenggelam dalam rasa bersalah yang membuat lidahnya kelu.
“Siapa cewek itu? Artis juga? Model? Sehebat apa sih cewek itu sampai bikin kamu mau nikahin dia? Hah?” kejar Anya mulai tidak terima dengan keputusan Ares.
“Dia bukan siapa-siapa….”
“Terus kenapa kamu mau nikahin dia, Res?! Dia hamil?!” tuduh Anya kejam.
“Dia nggak hamil!”
“Terus kenapa?!”
Ares mengusap wajahnya dengan kasar. “Ini salah aku. Aku mabuk. Gak sadar ambil foto sama dia di kamar hotel, terus terkirim di keluarganya. Sekarang keluarganya maksa aku buat nikahin anaknya.”
Penuturan Ares membuat rahang Anya mengeras.
“Kamu nggak bisa nolak?”
Gelengan lemah Ares membuat lutut Anya ikut melemah. Gadis itu pun menghempaskan tubuh lesunya di sofa dengan mata berkaca-kaca.
“Aku nggak peduli kamu udah tidur sama cewek lain. Itu kecelakaan dan aku masih bisa maafin. Tapi kenapa kamu harus nikahin juga? Ini nggak adil buat aku,” ucap Anya lirih sambil menahan airmata.
“Mereka keluarga pengusaha dan pejabat. Aku nggak bisa macem-macem. Mereka udah ancem aku bakal viralin fotonya dan hancurin karierku kalau aku nggak mau tanggung jawab.”
Ares mendekati Anya, menggengam tangan gadis itu dengan hati sedih.
“Aku nggak mau kehilangan kamu.”
“Aku juga nggak mau, Anya….”
“Kalo gitu tetep sama aku!” pinta Anya memelas.
“Anya… kan aku udah bilang.”
“Aku nggak peduli!” tukas Anya berapi-api. “Terserah kamu mau nikahin cewek itu atau enggak, pokoknya aku maunya tetep sama kamu!”
Kening Ares mengernyit. Genggamannya menguat. “Maksud kamu… kita tetep hubungan diem-diem?”
“Cuma itu yang bisa aku pikirin sekarang,” jawab Anya lirih. “Iya, aku tau ini gila. Tapi Res… aku maunya kamu. Aku nggak peduli gimana caranya, kamu harus tetep jadi punyaku!”
“Nggak, Sayang. Kamu nggak gila. Harusnya kamu yang jadi istriku, bukan cewek itu. Aku juga nggak mau kehilangan kamu,” senyum Ares teduh.
Bibir Anya mengerucut. Ia mengusap matanya yang berair.
“Jadi?” tanyanya.
Ares menghela napas. “Aku tetep nikahin cewek itu. Tapi kita tetep sama-sama. Nanti aku pikirin caranya biar aku dan dia bisa pisah. Oke?”
“Janji?” rajuk Anya.
“Janji.”
***
Siang yang terik dan panas. Sepanas suasana di kediaman Dikta dan Bella saat ini.
Di ruang tamu, Ares duduk dengan tegang sebelum menyampaikan keputusannya. Sementara itu, Dikta menatap Ares dengan tatapan dingin. Seolah mendesak agar Ares segera menyuarakan keputusannya.
“Hampir aja gue unggah foto itu di Twitter,” ucap Dikta memecah keheningan. Ia meletakkan ponsel di meja, lalu kembali duduk tegap dengan tatapan tajam. “Gue nunggu.”
“Oke. Gue bakal nikahin Bella,” ungkap Ares singkat, padat, dan jelas.
Mata Bella membulat. Ada kilatan kebahagiaan dalam keterkejutan di sorot matanya.
“Good choice,” angguk Dikta.
“Tapi gue punya permintaan.”
“Silakan,” angguk Dikta.
“Gue mau pernikahan ini tertutup dari media dan nggak perlu diumumkan di media,” pinta Ares tegas.
“Alasannya?”
“Karier gue sedang naik dan rasanya terlalu mencurigakan kalau pernikahannya mendadak.”
“Make sense.” Dikta mengangguk paham. Ia melanjutkan, “Oke. Satu bulan aja. Setelah itu, pernikahan kalian nggak perlu dirahasiain. Bilang aja lo udah lima bulan backstreet sama Bella.”
“Ya udah,” sahut Bella menimpali.
“Kalo gitu, semua udah sepakat,” angguk Dikta meraih ponsel di meja. Ia menempelkan benda itu di telinganya. “Halo, Bro. Bisa siapin venue sederhana buat nikahan malem Minggu?”
Ares melotot. “Hah?! Malem Minggu?! Lusa dong?!”
“Ssssttt!” Dikta menyuruh Ares diam. Ia pun kembali sibuk berbicara di telepon. “Kecil-kecilan aja. Buat 50 orang. Eh, jangan sampai media tau, ya. Thanks.”
Panggilan itu pun berakhir. Menyisakan Ares yang melongo dan Bella yang terpaku.
“Kalian udah denger sendiri. Jadi nggak ada yang perlu gue jelasin,” kata Dikta bangkit dari sofa. “Gue mau ngurusin resto dulu. Lo lanjutin aja berdua.”
Selepas kepergian Dikta, suasana mendadak senyap.
“Gue nggak suka sama lo,” celetuk Bella cemberut.
Ares mendengus pelan. “Ya sama.”
“Dih, mimpi buruk banget gue bakal nikah sama lo,” lanjut Bella masih cemberut.
“Lo itu mimpi terburuk gue. Nggak usah ngerasa paling menderita,” rutuk Ares tidak mau kalah. Cepat-cepat ia membuat jarak dan bergeser ke pojok sofa. “Gue nikahin lo buat nyelametin nama gue dan keluarga lo. Jadi anggep aja ini simbiosis mutualisme.”
“Mana bisa gue anggep simbiosis mutualisme kalo lo udah nidurin gue duluan?” sambar Bella tidak terima. Ia mendecak kesal. “Licik lo.”
“Gue nggak apa-apain lo.”
“Tau dari mana?” kejar Bella.
Ares melirik sebal. “Lo ngerasa ada bekas gue apa-apain lo nggak? Kayaknya nggak ada. Lo bukan bayi. Pasti lo tau bedanya.”
“Tapi tetep aja lo udah nidurin gue.”
“Terserah lo deh. Mau gue apa-apain lo atau enggak, toh kita bakal nikah juga,” sahut Ares mengalah.
Bella mendecih dengan wajah judes.
“Kenapa lagi?” tanya Ares masih berusaha tenang.
“Habis nikah, kita tinggal di mana?”
Ares memutar bola matanya dengan malas. “Ya di apartemen gue lah. Masa di sini? Gue udah pusing sama lo. Jangan sampai ketambahan serumah sama kakak lo.”
“Kalo gue nggak mau?”
“Urusan lo.”
“Kok lo gitu?!”
“Ntar kalo gue maksa, lo ngamuk. Ya terserah lo ajalah tinggal di mana. Gue malah bersyukur nggak tinggal bareng lo.”
“Ya udah! Gue tinggal bareng lo deh!”
Satu alis Ares terangkat. “Lo yakin?”
“Yakin!” angguk Bella kuat dan tegas. “Biar orang-orang nggak curiga sama pernikahan kita. Nggak apa-apa deh gue berkorban dikit seatap sama lo. Asal jangan rese aja lo.”
“Gue nggak pernah rese,” tepis Ares sedikit tersinggung.
“Mana aja penjahat jujur,” sindir Bella lalu bangkit. “Gue nggak pengen ngomong apa-apa lagi. Lo pergi gih.”
Mata Ares membesar. Ada rasa tidak terima yang menyelinap di hatinya. “Lo ngusir gue?”
“Iya. Gue mau ketemu dosen. Konsul skripsi.”
Ares mengangguk. Tanpa berpamitan, pemuda tampan nan gagah itu pun berjalan keluar meninggalkan rumah cantik itu. Sepeninggal Ares, Bella meraih ponsel dari saku. Dengan wajah serius, ia melakukan panggilan ke nomor telepon milik Nala (sahabatnya).
“Iya, Bel. Kenapa?” sapa Nala menjawab panggilan dari Bella.
“I have great news,” jawab Bella.
“Apaan?”
Senyum miring Bella tersungging. Licik. Dengan suara pelan, ia menjawab, “Target masuk dalam jebakan.”
***
Kafe Kajja, pukul 19.31 WIB.
Dan di sanalah Bella saat ini. Duduk berdua dengan Nala seraya menyesap cappuccino dan menikmati suasana Jakarta.
Nala, gadis bernama lengkap Diany Zabrinala itu tidak menanyakan apa pun pada Bella. Gadis berkulit putih pucat itu tengah khusyuk menikmati kue. Nala bukan tipe gadis yang kepo pada urusan orang lain. Lagipula ia tahu, tanpa ditanya pun si Bella pasti akan cerita.
“Gue mau nikah malem Minggu,” ucap Bella santai.
“Uhukkk!” Seketika Nala tersedak dan batuk-batuk. Ia menyambar tisu dan membersihkan bibirnya.
“Lebay banget,” komentar Bella kembali menyesap cappuccino.
“Kok dadakan banget?”
Bella menyipitkan mata. “Yaelah, pake nanya lagi. Kan lo tau rencana gue.”
“Ya gue tau. Tapi kaget aja, kok secepet itu? Lo nggak… hamil, kan?”
“Enggaklah! Gila!” balas Bella melotot.
“Terus?”
Sontak Bella mencondongkan tubuhnya ke arah Nala. Ia celingak celinguk, memastikan tidak akan ada yang menguping. Akhirnya, ia pun berbisik, “Keburu kesebar di media sih skandalnya. Gue kan post foto itu di close friend-nya Ares juga. Mana gue tau siapa aja yang udah liat.”
Nala melongo. Seketika nafsu makannya merosot tajam.
Jujur, Nala merasa sangat bersalah telah terlibat dalam rencana gila Bella yang menjebak Ares. Nala lah yang memesan kamar hotel untuk Bella, tepat di dekat kamar yang dipesan Ares. Kebetulan hotel itu milik ayah Nala. Jadi Nala bisa mendapatkan akses untuk menghapus file CCTV ketika Bella menyusup masuk ke kamar Ares.
“Oh….” Nala hanya membulatkan bibir, lalu menghela napas.
“Lo keliatan nggak suka.”
“Iya,” angguk Nala jujur.
“Karena?” selidik Bella hati-hati.
“Menurut gue, salah. Gue udah bilang ke lo kan sejak awal, rencananya terlalu jahat.”
Bella mengangguk. Ia sangat sadar jika rencananya sangat licik. Tapi ia tidak merasa menyakiti atau membunuh siapa pun, jadi Bella bersikukuh dengan rencana itu. Ia sudah terlanjur menginginkan Ares.
“Tapi kenapa lo tetep bantu gue?” tanya Bella.
“Karena… gue nggak mau lo ngerasain cinta bertepuk sebelah tangan,” sahut Nala tenang.
Bella menahan tawa mendengar jawaban Nala. Ia menegakkan tubuh sambil menyahut, “Kan gue udah nawarin bantuan. Gue ikhlas kok lo jadi kakak ipar gue.”
“Nggak, ah. Mendingan gue single daripada maksain diri. Ide lo nggak ada yang waras,” tolak Nala mentah-mentah.
Kali ini Bella tertawa kecil. Perkataan Nala sama sekali tidak membuatnya tersinggung. Memang nyatanya begitu. Namun Nala selalu menolak. Ya sudahlah, Bella tidak mau memaksa. Biar pun ia sedikit gila, tapi ia masih sangat menghargai pendapat dan keputusan Nala.
“Nggak usah undang gue ke nikahan lo ya,” kata Nala mendadak.
Sontak kening Bella mengernyit. “Loh? Kenapa?”
“Gue harus mastiin udah lenyapin semua barang bukti. Gue nggak mau di masa depan, Ares tau kalo gue terlibat.”
“Besok kan bisa. Masa iya lo nggak dateng ke nikahan gue?” rajuk Bella.
“Gue mau tenangin diri setelah bantuin lo. Jujur, gue merasa bersalah sama Ares. Please, jangan paksa gue. Nggak tega gue liatnya,” pinta Nala menghela napas.
“Oke…. Ya, udah.”
“Kirimin aja foto nikahan lo ke gue. Nggak bakal gue sebarin kok.”
***
Selesai dengan hari itu, Bella pun merebahkan diri di ranjang. Dengan senyum culas, ia mengetik pesan untuk Ares. Tidak butuh waktu lama mendapatkan balasan. Satu pesan dari Ares pun muncul.
Ares : Ya udah, nggak usah nikah kalo gitu.
Seketika mata Bella melotot. Ia terlihat sangat kesal. Dengan cepat ia bangkit dari horizontal mode-nya, lalu segera menghubungi Ares.
“Halo,” sapa Ares.
“Apa lo bilang?! Nggak usah nikah?! Setelah apa yang lo lakuin ke gue, lo masih berani bilang kayak gitu?! Lo waras?!” semprot Bella jengkel.
“Lo sendiri yang ngeluh ‘kenapa sih gue harus nikah sama lo’. Gue cuma kasih solusi.”
“Gue lagi nggak minta solusi! Gue cuma mau lo dengerin keluh kesah gue! Gimana si!”
“Serah lo deh. Capek gue denger lo ngebacot terus,” gerutu Ares mengakhiri panggilan.
Tuuutttt….
Nada panjang berakhirnya panggilan berbunyi. Seiring dengan menggelapnya layar ponsel, senyum Bella kembali terukir. Oh, tentu saja seulas senyum nakal dan licik. Bella hanya sedang mengagumi kepiawaiannya dalam berakting dan kecerdikannya. Ya, dia hanya sedang tersenyum narsis. Bangga pada rencananya yang berjalan sesuai rencana.
Di tengah senyum jahat itu, pintu kamar diketuk dari luar.
“Masuk,” kata Bella sambil meletakkan ponsel.
Wajah tampan Dikta muncul dari balik pintu. “Belum tidur?”
Bella menggeleng. “Kenapa?”
“Besok fitting baju. Lo pergi sendiri. Gue sibuk.”
Bibir Bella mengerucut. Seolah malas mendengarkan perihal pernikahan dadakan itu. Padahal hatinya menari-nari bahagia dan berharap kalau waktu bisa dipercepat. Ia sungguh tidak sabar menjadi Nyonya Ares. Aduhai… indah sekali sebutan itu.
“Males ah,” tukas Bella membuang muka.
“Ini nikahan lo. Lo harus tampil perfect. Tapi kalo lo mau nikahan casual pake jeans sama kaos oblong ya terserah. Paling dicoret papa dari kartu keluarga.”
“Ih!”
“Gue nggak maksa.”
Rahang Bella mengeras. Alisnya menukik, mengekspresikan rasa tidak sukanya pada perintah dan perkataan Dikta. Namun sesungguhnya itu adalah akting semata. Bella harus menjaga rencananya tetap berjalan lancar. Sayangnya, Dikta sama polosnya dengan Ares. Yang tahu seputar ide penjebakan itu hanyalah ia, Nala, dan Tuhan.
“Gue udah transfer ke rekening lo,” ucap Dikta lagi.
Wajah Bella pun melunak mendengar kata ‘transfer’. Ah, wanita di mana-mana sama saja rupanya kalau sudah mencium aroma sedap uang.
“Buat apaan?” heran Bella.
“Perawatan muka sama badan lo. Biar nggak dekil pas nikahan,” sahut Dikta enteng.
“Gue nggak dekil!”
“Nggak mau nih? Ya udah, balikin duit gue,” pinta Dikta menjulurkan tangan.
“Dih! Nggak! Nggak mau! Udah masuk rekening gue, ya berarti punya gue!” tolak Bella mentah-mentah.
Dikta mengangguk. Tiba-tiba ia mengacungkan telunjuknya di depan wajah sang adik.
“Awas lo kalo kabur pas hari H. Gue yang bakal coret lo dari KK. Ngerti?” ancam Dikta galak.
Bella menggeram jengkel dan memalingkan wajah. Seolah tidak sudi melihat wajah tampan sang kakak kandung. Ia tidak mengatakan apa pun. Bahkan hingga Dikta menutup pintu kamar, ia bergeming. Namun itu hanya berlangsung singkat. Tidak sampai satu menit kemudian, senyum liciknya kembali terulas. Dengan semangat 45, ia meraih ponsel dan mengecek mutasi rekeningnya.
Kekehan nakal terdengar pelan.
“Tiga puluh juta. Lumayan….”
Kali ini Bella benar-benar mengikuti perintah Dikta. Besok ia harus ke klinik kecantikan untuk perawatan. Pokoknya, ia harus tampil glowing dan syantik ulalala di depan Ares! Bahaya kalau Ares kembali terpikat sang mantan. Sejujurnya, Bella belum tahu siapa kekasih Ares selama ini. Tapi itu tidak penting baginya saat ini. Yang terpenting, Ares akan jadi miliknya.
Tapi kalau boleh jujur, Bella merasa bersalah pada kekasih Ares saat ini….
Andai saja Bella tahu kalau Ares punya kekasih, ia tidak akan menjalankan rencana gila itu. Sayangnya, semua sudah terlanjur terjadi. Tidak ada jalan mundur. Ia dan Ares harus tetap menikah demi menjaga nama baik keluarga serta nama besar Ares.
Rasa bersalah yang tiba-tiba muncul itu membuat Bella termenung.
Perlahan, ia mencari nama Ares di kontak, lalu membuat satu panggilan. Tidak berapa lama kemudian, panggilan itu terjawab.
“Halo, Res….”
“Kenapa lagi sih?”
“Lo sibuk?”
“Gue lagi di lokasi syuting. Kenapa?” tanya Ares tidak sabaran.
“Uhm… gue… gue mau minta maaf,” jawab Bella pelan.
“Dimaafin.”
“Gue—”
Tuuuttttt….
Ares terlanjur mengakhiri panggilan itu sebelum Bella menjelaskan penyebab ia minta maaf. Sikap menyebalkan Ares itu membuat Bella jengkel setengah mati. Dengan hati dongkol, ia memblokir nomor telepon sang calon suami, lalu menghapusnya dari kontak.
“Awas ya lo, Res!”