003. Status Baru

1717 Kata
Bella dan Ares berdiri berhadapan di dekat ranjang. Si gadis berkacak pinggang, sementara si pemuda hanya menatap dingin. Keduanya sudah mengganti baju pengantin dan segala atributnya dengan piyama. Mereka telah melangsungkan pernikahan tertutup dua jam yang lalu. Dan saat ini, keduanya masih terjebak di kediaman Dikta karena ayah Bella belum siap melepas kepergian sang putri ke apartemen Ares. Agak drama memang. Tapi terserahlah. Sebagai anak bungsu sekaligus anak perempuan satu-satunya, Bella harus memahami keinginan sang ayah. Toh pernikahan itu pun terjadi mendadak karena ide licik Bella. “Lo blokir nomor gue?” Akhirnya keheningan dalam aura permusuhan itu pecah. Bella hanya tersenyum miring mendapati pertanyaan itu. Akhirnya Ares sadar! “Kenapa? Nggak terima?” balas Bella menyebalkan. “Oh, enggak. Gue malah seneng nggak ada yang ngrecokin hidup gue. Blokir aja terus. Gue nggak keberatan,” sahut Ares santai. Reaksi Ares yang di luar harapan itu membuat rasa kesal Bella merangkak naik. Ia yang tadi hanya berakting, mendadak kesal betulan dengan Ares. Alis gadis itu menukik tajam. “Lo tidur di bawah,” ucap Bella judes. “Nggak. Gue nggak mau masuk angin. Besok gue mau syuting,” tolak Ares frontal. “Gue nggak peduli. Lo tidur di bawah,” kata Bella bersikeras. “Kenapa bukan lo aja yang tidur di kamar lain?” “Baru nikah tapi udah bikin masalah lo ya,” rutuk Bella sebal. “Lo yang drama. Tidur ya tinggal tidur aja sih. Nggak usah sok suci lo. Kayak kita nggak pernah tidur bareng aja,” balas Ares kejam. Gigi Bella bergemerutuk mendengar balasan kejam itu. Tanpa berkata apa pun, ia menuju pembaringan dan menyambar guling. Guling itu ia letakkan di tengah-tengah. Ah, bukan…. Lebih tepatnya, Bella letakkan di ¾ bagian dari ranjang. Masih dengan wajah judes, ia menempati ¾ bagian itu dan membiarkan ¼ bagian yang lain tersisa untuk Ares. “Hah! Really???” rutuk Ares melihat tingkah menyebalkan Bella. “Masih untung gue izinin lo tidur di ranjang.” “Ckckck! Sial banget gue nikah sama nenek sihir kayak lo,” gerutu Ares berjalan mendekati pembaringan. Seketika mata Bella melotot. “Bilang apa lo?!” “Budeg lo?” “b******k!” “Serah.” Usai mengatakan itu, Ares menarik selimut hingga menutupi kepala dan berbaring memunggungi Bella. Ia sudah terlalu lelah menjalani hari ini dan pernikahan yang tidak ia inginkan. Sekarang sudah pukul sebelas malam. Ia sudah tidak punya energi untuk bertengkar dengan Bella. Besok pagi ia harus syuting seharian hingga malam. Ugh! Rasanya tulang belulang Ares sudah rontok duluan begitu membayangkannya. Srettt! Selimut di tubuh Ares terlucuti dalam sekali tarik. Sontak mata Ares terbuka. Ia menoleh cepat dan mendelik begitu melihat Bella menguasai selimut itu sendirian. “Siapa yang izinin lo pake selimut gue?” ucap Bella galak. Ares hanya memutar bola matanya dengan malas. Sudahlah, ia tidak peduli lagi. Ia pun kembali meletakkan kepalanya di bantal, memejamkan mata, dan merutuk dalam hati, “Bella sialan! Lihat pembalasan gue nanti di apartemen….” *** Pagi itu Bella bangun dengan bibir mengerucut karena kesal. Padahal ia berharap bisa melihat wajah polos Ares yang masih terlelap. Sialnya, angan itu musnah. Ares sudah tidak ada di kamar. Bella pun melangkah keluar kamar dengan wajah kusut masai. Ia menghampiri Dikta yang tengah menikmati roti selai kacang. Sang kakak memandanginya dengan sorot mata keheranan. Ya sebetulnya tidak heran-heran amat. Ia tahu track record Bella dan Ares. Sangat wajar kalau Bella masih jengkel dengan pernikahan mendadak itu. “Ares syuting pagi-pagi. Pulangnya malem,” kata Dikta. “Nggak nanya,” sahut Bella jutek. “Jangan benci-benci lo sama Ares. Dia suami lo. Jatuh cinta beneran lo ntar.” Bella tidak menyahut. Andai Dikta tahu yang sebenarnya…. Bella bahkan sudah jatuh cinta pada Ares sejak pandangan pertama. Tapi demi profesionalitas dan demi rencana yang telah ia susun matang-matang, tentu Bella tidak bisa terang-terangan menunjukkan rasa sukanya pada Ares. Ia harus bermain halus dan cantik agar tidak ada yang curiga. “Lo kapan mau bawa pacar?” tanya Bella mengalihkan topik. “Nggak punya.” “Nggak laku?” “Muka seganteng Jaehyun NCT gini nggak laku? Enak aja.” Sontak Bella berlagak mual. “Hueekkkk!” Dikta tidak peduli pada ocehan Bella yang menjengkelkan itu. Setelah menghabiskan roti selai kacang, ia merogoh sesuatu dari saku dan menyodorkannya pada Bella. Kening Bella mengernyit. Ia berhenti mengoles selai. “Kode apaan nih?” heran Bella membaca deretan angka di kertas itu. “Apartemen Ares. Gue disuruh sampein ke lo. Tenang aja. Gue nggak baca,” jawab Dikta lalu menghabiskan minumannya. “Maksudnya… gue disuruh ke sana? Emang papa udah bolehin?” Di saat bersamaan, suara langkah kaki terdengar dari arah kamar ayah Bella. Dikta mengangkat bahu, lalu melemparkan pandangannya pada sang ayah yang berjalan ke arah ruang makan. “Dikta berangkat dulu, Pa,” pamit Dikta melambaikan tangan lalu melesat pergi. “Hati-hati,” angguk Pak Dedi (ayah Dikta dan Bella). Ia mengusap kepala Bella, lalu duduk di samping sang putri. “Boleh. Mulai malam ini, kamu tinggal di apartemen Ares. Tadi Ares udah izin.” Dalam hati, Bella berteriak kegirangan. Tapi di luar, wajahnya terlihat datar cenderung dingin. Ia masih saja bermain peran: mendalami karakter yang membenci Ares dan pernikahan sialan itu. “Papa tau, kamu pasti butuh waktu untuk menerima ini. Tapi papa percaya, kamu dan Ares pasti bisa saling sayang nanti. Lama-lama terbiasa,” senyum Pak Dedi lalu melanjutkan, “Kamu harus belajar jadi istri yang baik. Tapi jangan lupa, kuliahmu juga harus diselesaikan.” Bella memutar bola matanya dengan malas. “Iya, iyaaa. Bella ngerti.” Pak Dedi mengangguk. “Papa dan mama balik ke Bandung hari ini. Kamu jaga diri, ya. Kalau ada apa-apa, bilang kakakmu.” Bella hanya mengangguk sambil mengoles selai. “Nanti ada Pak Dadang yang urusin barang-barang kamu. Kamu istirahat aja. Pasti capek kan habis nikahan,” sambung sang ayah. Bella mengangguk sambil tersenyum dalam hati. Akhirnya langkah demi langkah membawanya lebih dekat lagi pada Ares. Ia akan memanfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya. Ia akan memastikan bahwa Ares akan jatuh cinta padanya. “Gue bisa bikin lo jatuh cinta ke gue, meskipun lo nggak cinta sama gue. Liat aja ntar.” Monolog dalam hati itu menutup rangkaian obrolan, sebelum akhirnya Bella mengunyah roti selai coklat. *** Di apartemen milik Ares, Bella terdiam sejenak sambil mengedarkan tatapannya di seluruh penjuru ruangan. Apartemen itu terlihat simpel tapi elegan. Tidak ada foto yang tertempel di dinding. Hanya ada satu lukisan indah yang entah berlatar belakang di mana. Sepertinya di Eropa. Baru saja Bella akan melangkah masuk ke kamar Ares, tiba-tiba pintu apartemen terbuka. Gadis itu menoleh. Ia tidak memberikan reaksi apa pun pada kedatangan Ares. “Baru pulang lo?” tanya Bella lalu melirik jam dinding. “Udah jam sembilan malam.” “Nggak usah ngurusin hidup gue.” Bella mendecih pelan. Ia menyambar kopernya. “Gue tidur di mana?” “Sofa.” “Heh!” hardik Bella melotot. “Lo tega banget nyuruh gue tidur di sofa!” “Tuh ada kaca,” ucap Ares menunjuk ke arah wastafel. “Gue nggak lagi ngomongin kaca!” “Tapi lo butuh buat ngaca. Seenggaknya lo sadar diri kalo semalem lo juga tega sama gue.” “Tega lo sama cewek!” Ares mendengus sambil melangkah mendekati kamarnya. “Nggak usah double standard.” Bella menarik napas dalam-dalam. “Lo bener-bener nyuruh gue tidur di sofa?” “Ada kamar kosong deket dapur. Pake aja. Lo urus aja keperluan lo sendiri. Gue capek,” sahut Ares acuh tak acuh, lalu memasuki kamar dan menutup pintu. Bella menggerutu jengkel. Dengan kesal, ia menyeret koper masuk ke kamar yang Ares maksud. Kali ini ia tidak sedang berakting. Bella memang betulan sebal pada Ares. Ia tidak menyangka kalau Ares akan semenyebalkan ini di kandang sendiri. Hufth! Pintu kamar terbuka. Bella menyalakan lampu. Kamar itu bersih dan wangi. Rupanya Ares telah menyiapkan kamar itu untuknya. Fakta itu membuat kekesalan Bella sedikit turun. Hanya sedikit saja, karena sisanya ia tetap menggerutu sepanjang malam sambil menata pakaian di lemari kosong. Ya nasib…. *** Keesokan harinya, Bella bangun dengan malas-malasan setelah sepuluh kali menekan mode snooze pada alarmnya. Sangat klasik, sama seperti puluhan ribu manusia lain yang malas mendengar alarm. Kalau bukan karena tuntutan hidup, rasanya Bella akan tetap melekat di kasur seharian. Langkah lesu Bella terayun keluar dari kamar dan menuju kamar mandi. Setelah mencuci muka dan menyikat gigi, ia memandang ke arah ruang makan. Rupanya Ares sudah duduk manis di sana dengan sarapan yang menggiurkan. Pemuda itu hanya meliriknya sekilas, lalu kembali fokus pada makanannya—seolah tidak peduli pada Bella. “Gue mau ngomong sama lo,” ucap Ares tiba-tiba. Kening Bella mengernyit. “Ngomong apa?” “Duduk,” pinta Ares. Bella pun berjalan ke arah Ares, lalu duduk berhadapan di ruang makan. “Lo masuk ke kampus jam berapa?” “Jam sebelas,” jawab Bella singkat. “Masih lama. Berarti kita punya waktu buat ngomong,” kata Ares menyudahi makannya. Ia menghabiskan satu gelas air minum, lalu melanjutkan, “Gue nggak mau ada perjanjian macem-macem kayak drama Korea.” Satu alis Bella terangkat. “Maksud lo?” Ares menarik napas panjang. “Lo jalani aja kehidupan lo. Gue sama kehidupan gue. Terserah lo mau berhubungan sama siapa. Gue nggak peduli.” Hati Bella tertusuk mendengarnya. Namun bukan Bella jika mendadak merasa jadi manusia paling menderita sedunia. Ia hanya mempersembahkan wajah datar sambil mencepol rambutnya. “Terus?” tanya Bella tenang. “Kita tetep hidup seatap. Akting mesra kalau keluarga dateng. Udah, gitu doang. Gue nggak akan nawarin cerai setelah satu tahun. Kita jalanin aja. Kalo lo udah nggak tahan, lo boleh gugat cerai gue.” “Terus lo nggak akan gugat cerai gue?” “Tergantung. Kalo gue udah nggak tahan, ya gue bakal gugat cerai.” “Udah? Gitu doang?” tanya Bella santai. “Satu lagi, jangan pernah ikut campur sama urusan pribadi gue.” Bella terdiam. Beberapa detik kemudian, ia menarik napas dalam-dalam. Dengan tatapan serius, ia memandang Ares. “Lo mau jalan sama cewek-cewek lain?” “Gue udah bilang, kan? Nggak usah ikut campur.” Suasana hening. Bella menatap tajam pada Ares. Sejurus kemudian, ia bangkit dan berlalu dari sana tanpa sepatah kata pun. Ia membuka pintu kamar. “Jangan pakek barang gue tanpa izin!” teriak Ares. “Bacot!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN