004. Perang Berlanjut

2215 Kata
Bella berangkat ke kampus dengan hati kacau. Umpatan tadi adalah kalimat penutup obrolannya dengan Ares. Pemuda itu tidak menjawab dan langsung masuk ke kamar. Rahang Bella pun mengeras. Ia yakin, Ares pasti akan bermain dengan gadis lain di luar sana. Hufth! Hampir saja Bella kelepasan memperlihatkan ekspresi cemburu. Untung saja ia masih bisa mengendalikan ekspresi dan perkataannya. Masih terlalu dini untuk memperlihatkan rasa sayang pada Ares. Ia harus melakukannya dengan halus dan cantik. Jangan sampai ada kecurigaan karena semuanya serba buru-buru. Langkah kaki Bella terayun memasuki kelas yang berisik. “Siang, Kak Bella,” sapa Farrel, si adik tingkat. “Siang.” Bella membalas lesu. “Kak Bella sakit?” “Enggak.” “Kok lemes gitu?” “Kurang tidur aja sih. Ngantuk,” jawab Bella berbohong. “Kak Bella mau kopi?” cerocos Farrel lagi. Tanpa menunggu jawaban Bella, Farrel melesat ke kursinya sendiri. Ia mengubek-ubek tas, lalu kembali ke hadapan Bella dengan sebotol kopi kemasan. “Ini buat Kak Bella,” senyum Farrel menyodorkan kopi. “Nggak usah, Rel. Kamu simpen aja.” “Ambil aja, Kak. Mumpung masih dingin.” Bella menggeleng sambil mendorong botol kopi ke arah Farrel. Ia tersenyum manis. “Hari ini kan aku ngajar praktikum. Lama-lama pasti nggak ngantuk,” tolak Bella. Ia menunjuk wajah Farrel. “Tuh, mata kamu sayu banget. Kamu juga kurang tidur, ya?” Farrel mengangguk dengan cengiran khas. “Semalem ngerjain tugas praktikum, Kak. Biasalah. The power of kepepet. Hehehe.” “Kamu harus tetep seger biar nangkep materi dari aku. Kopinya buat kamu aja. Okay?” lanjut Bella berusaha meyakinkan Farrel. Akhirnya Farrel mengangguk. “Karena itu perintah dari Kak Bella, aku bakal minum kopi ini.” Detik itu juga, Farrel membuka tutup botol kopi. Dalam waktu singkat, kopi itu habis olehnya. Farrel menurunkan botol kopi kosong itu dari bibirnya dengan satu desahan puas. Bella hanya tersenyum hambar melihat ekspresi Farrel yang berlebihan. “Sudah, Kak,” kata Farrel melapor. Padahal tanpa perlu laporan pun, Bella sudah bisa melihat bagaimana ia menenggak kopi dengan barbar dan sama sekali tidak slay. Namun demi membuat image sebagai asisten dosen yang berhati malaikat, Bella tetap mempersembahkan senyum cantik. Oh, sudah pasti itu senyum terpaksa. Pencitraan itu memang butuh effort dan skill, termasuk keahlian berakting. Well, bicara soal akting… keahlian berakting Bella sudah tidak perlu diragukan lagi. Jika ia mau, bisa saja ia ikut casting dan lolos dengan mudah. “Oke. Sekarang kamu bisa minta temen-temen kamu stand by? Kelas mau dimulai. Suruh temen-temen buka halaman 111,” pinta Bella masih bertahan dengan senyum menawannya. “Siap, Kak Bella!” angguk Farrel penuh semangat. Farrel berbalik. Dari depan kelas, ia memandang ke arah teman-temannya yang masih mengobrol. Ia menarik napas panjang. “Guys! Buka buku halaman 111!” teriak Farrel kencang. Seketika kelas hening. Lalu mereka sibuk mengambil buku dan membuka halaman 111. Farrel tersenyum puas. Ia merasa bangga dengan dirinya yang bisa menjalankan misi dari Bella. “Thanks,” ucap Bella tiba-tiba sudah berdiri di samping Farrel. “Kamu boleh duduk.” “Iya, Kak.” Farrel pun kembali ke kursi. Setelah semuanya kondusif, Bella mulai membuka kelas. Kelas yang ia pegang adalah kelas untuk praktikum. Harusnya hari ini ia mengajar bersama dosen. Sayangnya, dosen itu berhalangan hadir. Mau tidak mau, Bella harus mengajar sendirian. Situasi itu membuat Farrel senang bukan kepalang. Sepanjang kuliah, sorot mata Farrel nyaris tidak lepas dari wajah cantik Bella. Bagi Farrel, Bella adalah sosok sempurna gadis mandiri yang pintar. Satu lagi! Bella cantik! Lebih dari sempurna bagi Farrel. Jika ia diberi pertanyaan, “Siapa mahasiswi tercantik di kampus?” Sudah pasti ia akan memilih Bella. Mutlak. Tanpa keraguan sedikit pun. “Farrel!” Suara Bella menyentak Farrel dari lamunan. Farrel seakan ditarik dari dunia khayal untuk menghadapi pahitnya dunia nyata. “Iya, Kak?” “Kumpulkan semua laporan praktikum temen-temen kamu. Habis kelas, langsung taroh di meja Pak Barata,” titah Bella. “Iya, Kak.” *** Bella tengah mengetik di laptop ketika Farrel menghampirinya dan memanggilnya dengan wajah polos. Ketikannya terhenti. Ia mendongak. Farrel berdiri di hadapannya. “Kak, malem minggu ada acara nggak?” todong Farrel tanpa basa-basi. “Ada,” jawab Bella tanpa pikir panjang. “Yah….” Farrel mendesah kecewa. Ia memperlihatkan dua lembar tiket, lalu berkata, “Aku punya tiket konser penyanyi favorit Kakak.” Bella mengernyitkan dahi. “Emangnya kamu tau siapa penyanyi favorit aku?” “Ardhito Pramono, kan Kak?” Farrel balik bertanya. Bella tersenyum tipis. “Kok kamu tau?” “Aku liat di postingan i********:, Kakak. Ada highlight konser gitu. Di feeds juga ada foto pas Kak Bella selfie bareng dia,” jawab Farrel penuh semangat. “Itu postingan udah lama banget loh.” “Iya,” sahut Farrel terkekeh. “Aku scroll akunnya.” Senyum Bella perlahan menghilang. Sudah sangat jelas kalau Farrel menyukainya. Bella sangat menyadari itu, bahkan sejak sebelum ia mengincar Ares. Di mata Bella, Farrel Anggakusuma adalah adik tingkat yang pintar, manis, polos, dan baik. Tapi ada satu yang kurang: Farrel terlalu agresif, mudah ditebak, dan mudah digapai. Tidak ada tantangannya sama sekali. Bella tidak suka. Bella lebih suka sesuatu yang menantang seperti Ares sang suami. Ares itu tampan, kalem dan dingin, sulit ia tebak, dan sepertinya ia akan kesulitan menaklukan hati pemuda itu. Bella mencoba tersenyum ramah untuk Farrel. “Kamu coba ajak yang lain aja. Sayang tiketnya,” saran Bella. Farrel menggeleng. “Tiketnya bakal tetep aku simpen, Kak. Siapa tau nanti Kak Bella berubah pikiran atau mungkin acara Kak Bella gak jadi. Jadi kita bisa ke konser deh.” “Ya udah. Terserah. Toh yang rugi juga kamu doang kalo tiketnya nggak kepake.” “Nggak apa-apa, Kak. Mending tiketnya gak kepake daripada dipake sama orang lain. Kan aku beli ini buat Kak Bella,” balas Farrel bersikukuh. “Oke. Baik,” angguk Bella memilih untuk mengalah. “Aku pergi dulu ya, Kak. Lanjutin ngetiknya,” pamit Farrel. Bella tersenyum dan mengangguk. Ia hanya memandangi kepergian Farrel hingga sosoknya menghilang. Begitu Farrel sudah tidak terlihat, ekspresi wajahnya berubah 180º. Masam. “Daritadi kek lu pergi!” gerutu Bella. Masih dengan gerutuan kecil, ia mematikan laptop. Kehadiran Farrel tadi sukses membuat suasana hatinya semakin kacau. Daripada terus-terusan di kampus dan bertemu si agresif Farrel, lebih baik ia pulang dan bersiap untuk babak selanjutnya. Babak di mana ia harus mempersiapkan skill acting lagi untuk menutupi ‘wajah’ aslinya di depan Ares. Langkah tergesa Bella terayun menuju tempat parkir mobil. Tiba-tiba ia melihat Nala yang juga akan ke tempat parkir. Bella pun berlari kecil menyusul Nala. “Nala!” panggil Bella. Nala menoleh. “Lo ke mana aja sih? Gue chat kok ga dibales?” protes Bella begitu mereka berhadapan. “Sibuk konsul sama Bu Chatarina,” sahut Nala sambil memasukkan tas ke dalam mobil. Ia menatap Bella lagi. “Gimana?” “Gimana apanya?” “Gimana rasanya kawin?” ulang Nala mempertegas. “Gue belum kawin. Nikahnya sih udah,” sahut Bella enteng. “Ya elah,” komentar Nala malas. “Pelan-pelan lah. Gue kan masih harus akting biar meyakinkan.” “Lo nggak punya rencana lagi kan? Kalau ada, gue nggak mau terlibat. Oke?” Bella terkekeh. Reaksi Bella yang mencurigakan itu membuat Nala menyipitkan mata. Seolah ia sudah bisa mencium aroma kelicikan yang begitu pekat dari aura sahabatnya itu. “Jadi gini,” ucap Bella mendadak menarik Nala. Ia membisikkan sesuatu di telinga Nala hingga gadis itu bergidik dengan bulu kuduk meremang. Ada dua alasan yang membuat Nala merinding. Pertama, Bella sengaja berbisik terlalu dekat hingga hembusan napasnya memicu reaksi alamiah Nala. Kedua, rencana yang dibicarakan Bella terlalu… ugh! “Gitu!” kata Bella dengan suara normal lagi. Ia terlihat dan terdengar sangat bangga dengan rencananya barusan. Nala meringis. “Merinding gue! Hiiii!” “Oke kan rencana gue?” “Iya. Oke. Lo atur aja sendiri. Pokoknya gue gak mau ikutan lagi,” tukas Nala buru-buru masuk ke mobil. “Dadahhhh!” ucap Bella melambaikan tangan. Nala tidak peduli. Tanpa membalas lambaian itu, ia memacu mobil putihnya dengan hati-hati. Kemudian menghilang dari jangkauan penglihatan Bella. *** Senyum Ares terkembang ketika membaca pesan dari Anya. Gadis itu memintanya datang setelah selesai syuting. Tentu Ares akan datang dengan senang hati. Kebetulan syutingnya selesai lebih awal karena hampir semua adegan hanya sekali take. Ares memang hebat. Kemampuannya sudah tidak diragukan lagi. Di mobil, Ares yang sedang memakai seatbelt pun tersentak karena ada panggilan masuk. Tadinya ia tersenyum sejenak. Namun saat membaca nama Bella, senyumnya lenyap. Ekspektasinya terlalu tinggi. Ia berharap Anya yang menghubunginya, bukan Bella. Dengan berat hati, ia menjawab panggilan itu. “Halo. Kenapa?” “Lo pulang jam berapa?” tanya Bella jutek. “Gue mau pulang berapa pun, apa urusan lo? Kan gue udah bilang, kita hidup masing-masing. Ngerti?” cerocos Ares menahan kesal. “Ngerti. Nggak usah lo ingetin lagi.” “Terus ngapain nanya-nanya?” “Gue cuma mau nitip beliin softek! Ge-er banget sih lo!” balas Bella sengit. “Emang lo ga bisa beli sendiri?” selidik Ares berusaha menenangkan diri. Perempuan dan hormon bulanannya sudah sangat dipahami Ares. Terlepas dari sikap Bella yang menyebalkan, Ares tetap tahu diri tentang derita bulanan perempuan. “Gue sakit perut!” “Hadeehhhh… ngrepotin banget sih lo,” gerutu Ares. “Andai lo gak nidurin gue waktu itu, lo gak perlu repot-repot perkara gue minta beliin softek. Kita berdua masih hidup damai. Gak kenal satu sama lain,” balas Bella. “Lo gak ada bahasan yang lain? Harusnya lo bersyukur karena terbukti gue nggak apa-apain lo.” “Cuma karena gue menstruasi, gak berarti lo bisa membela diri. Benih lo aja kali yang letoy sampe nggak bisa bikin gue halim perdanakusuma alias tekdung!” tangkis Bella dengan lihai. Ares memijat kepalanya yang mendadak pening. Siapa yang tidak pening dengan kelakuan dan perkataan Bella yang sangat frontal seperti itu? Di titik ini, hanya satu harapan Ares: semoga ia tidak terkena hipertensi akibat menghadapi Bella. “Udah. Lo gak usah cerewet lagi, ok?” pinta Ares mengalah. “Gue bakal beliin softek yang lo mau. Gue beliin semua size dan mode biar lo nggak ada celah buat ngajak gue berantem. Capek gue. Jujur.” “Gue tunggu!” Tuuuttttt…. Nada panjang berakhirnya panggilan terdengar. Ares diam dan menarik napas panjang-panjang. “Sabar Ares… sabar….” Hanya itu yang Ares ucapkan untuk dirinya sendiri. Setelah cukup tenang, ia pun membawa mobil keluar dari basement. Tadinya ia berencana untuk langsung ke apartemen mewah Anya. Namun sepertinya tujuan utamanya beralih karena panggilan suara tadi. Mobil Ares terus melaju menuju minimarket. Setiba di minimarket, ia bergegas mencari pesanan Bella. Sesuai janji, ia membeli pembalut berbagai ukuran dan mode. Terserah Bella mau pakai yang mana. Itu bukan urusan Ares. Meskipun Ares harus menghabiskan lebih dari lima ratus ribu rupiah untuk belanjaan malam itu, tidak masalah. Yang penting hidupnya tenang tanpa drama, itu sudah cukup. Ares keluar dari minimarket dengan dua kantong belanjaan. Begitu masuk di mobil, ia tidak langsung pergi. Ia justru duduk dan sibuk dengan ponsel. *** Suara bel apartemen membuat Bella tergopoh-gopoh membuka pintu. Tadinya ia berpikir itu Ares. Tapi kemudian ia menyadari kalau Ares tidak mungkin menekan bel. Ini kan apartemen Ares. Otomatis Ares juga pasti tahu password apartemen. Bella membuka pintu. “Selamat malam, Mbak Bella,” sapa bapak satpam yang bernama Ismail itu. “Iya, Pak. Malem. Ada apa ya, Pak?” balas Bella. Pak Ismail menunjukkan dua tas belanjaan. “Ini ada kiriman ojek tadi. Katanya dari Mas Ares. Terus Mas Ares nelpon saya. Saya disuruh anter ke sini. Soalnya Mbak Bella sedang sakit.” Bella tertawa hambar. “Oh, hahaha. Makasih ya, Pak.” “Sama-sama, Mbak,” kata Pak Ismail sambil meletakkan belanjaan itu di lantai. Ia pun berpamitan, “Permisi, Mbak Bella.” Bella mengangguk. Sepeninggal satpam itu, Bella pun mengambil belanjaan dan mengunci apartemen. Ia berjalan sambil menenteng dua tas, lalu ia berhenti sejenak, dan… ia membanting tas-tas itu dengan kesal. “Kok malah dikirim pake ojol sih?! Kenapa bukan dia aja yang anterin?!” gerutu Bella jengkel setengah mati. Meski begitu, Bella akhirnya tetap harus memungut kembali belanjaannya. Ia pun membungkuk dengan wajah masam. Mendadak keningnya mengernyit melihat tumpukan snack dan coklat yang tertimbun oleh pembalut di dalam salah satu tas. “Perasaan gue nggak minta makanan…,” oceh Bella bingung. Bella mengangkat bahu, lalu membawa semua belanjaan itu ke kamar. Di waktu bersamaan, ponselnya berbunyi. Ia mengecek ponsel dan menemukan ada pesan masuk dari Ares. Ares : Jajanannya buat lo. Biar gak berisik. Pesan yang begitu indah bagi Bella. Seketika senyum Bella terulas sangat manis. Hatinya membuncah penuh kebahagiaan. Padahal hanya jajanan, tapi bahagianya seperti ia mendapatkan cincin berlian. Pokoknya apa pun itu, asal dari Ares… ia akan menerimanya dengan bahagia. Meskipun Ares hanya memberinya sekeping uang seribu rupiah, Bella akan merawat uang itu seperti anak sendiri. Level b***k cinta Bella memang sudah akut. Sayangnya, ia tidak bisa meluapkan rasa cinta itu karena drama yang ia rancang sendiri. Akibatnya, ia sering kesal dan rewel sendiri karena perasaan cintanya tak tersampaikan. Baiklah, mari tinggalkan Bella dan rasa bahagianya yang sederhana. Jika belanjaan itu diantar oleh ojek online, lantas ke mana Ares? Well, jika Bella tahu… bisa dipastikan hatinya akan hancur berkeping-keping seperti Hiroshima dan Nagasaki di tahun 1945. Ares si aktor tampan itu tengah berciuman dengan Anya di apartemen. Sekali lagi: berciuman.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN