Selama satu jam, Ares dan Anya larut dalam hasrat yang kian meninggi. Sampai akhirnya suara desahan yang tertahan pun mengakhiri adegan-adegan itu. Ares mengecup bibir Anya sebagai makanan penutup. Setelah itu, ia bergegas bangkit dan menuju toilet.
Ares membersihkan diri. Tiba-tiba wajah Bella terlintas dalam pikirannya. Namun tidak ada penyesalan sedikit pun di hati Ares. Perasaan Bella saat ini bukan urusannya. Bagi Ares, hubungannya dengan Bella hanya sebatas status. Apalagi ia sudah mengatakan dengan tegas tentang aturan mainnya.
Setelah kembali segar, Ares keluar dari sana. Ia mengenakan pakaiannya lagi. Sementara itu, Anya hanya menatapnya dari ranjang.
“Mau pergi lagi?” tanya Anya dengan berat hati
“Iya. Besok pagi ada syuting. Aku harus istirahat.”
Bibi Anya mengerucut. “Kenapa nggak tidur di sini aja sih?”
Ares hanya tersenyum hambar sambil mengenakan kaos.
“Siapa namanya?” lanjut Anya.
“Siapa yang kamu maksud?”
“Cewek itu. Yang nikah sama kamu.”
“Oh….” Ares mendadak suram. “Bella.”
“Bella di apartemen kamu?” selidik Anya dengan sendu.
Ares mengangguk. Seketika d**a Anya bergemuruh hebat. Rasanya sakit….
“Sebenernya aku nggak mau bilang ke kamu. Aku nggak mau kamu sakit hati,” ucap Ares pelan. “Tapi kayaknya kamu harus tau.”
Anya tersenyum pahit. “Nggak apa-apa. Yang penting kamu masih ada buat aku, itu udah cukup.”
Ares menghampiri Anya. Ia duduk di samping Anya.
“Aku bakal bikin dia nggak betah, terus minta cerai,” kata Ares tersenyum lembut. Ia mengusap pipi Anya. “Sabar, ya. Mungkin butuh waktu. Tapi sabar aja. Aku bakal balik ke kamu.”
***
Bella tidak bisa tidur. Ia sengaja menunggu Ares pulang meskipun tidak tahu kapan. Sudah dua jam ia menunggu sembari mengerjakan skripsi. Tapi tidak ada tanda kemunculan pemuda itu.
Di tengah ketikannya, pintu apartemen terbuka. Wajah tampan Ares menyembul dari balik pintu. Sontak Bella menoleh. Fiuh, akhirnya!
“Belum tidur lo?” heran Ares menatapnya.
“Bukan urusan lo.”
“Oke,” sahut Ares cuek lalu melenggang pergi.
“Mama nitip kue buat lo!” seru Bella yang membuat langkah Ares tertahan.
Ares berbalik. “Kue?”
“Ada dessert box di kulkas. Mama buatin khusus buat lo,” jelas Bella dengan wajah jutek. “Mama udah susah-susah bikinin dari Bandung. Awas aja kalo lo nggak abisin.”
Bella mengambil dessert box di kulkas dan menyerahkannya pada Ares. “Makan.”
Ares adalah penyuka dessert box. Menolak dessert box dengan coklat premium? Oh, tentu saja Ares tidak bisa. Pemuda itu pun duduk di sofa dengan hati tidak sabaran.
“Mama lo tau gue suka dessert box?” tanya Ares sambil membuka makanan itu.
“Info tentang lo ada di internet. Gampang buat mama cari tau lo sukanya apa,” sahut Bella duduk kembali dan fokus pada laptopnya.
“Oh.”
Ares segera melahap kue itu. Dalam waktu singkat, kue itu ludes. Tidak sedikit pun ia menyisakan untuk Bella. Tapi Bella tidak protes sedikit pun. Gadis itu masih sibuk dengan skripsi di laptop. Tak secuil pun Bella menoleh pada Ares.
“Bilang ke mama lo. Dessert box-nya enak banget.”
“Bilang sendiri,” sahut Bella acuh tak acuh.
“Gak punya nomernya.”
“Menantu durhaka.”
“Sialan lo,” rutuk Ares pelan.
Ia meletakkan wadah kue itu di meja, tepat di samping Bella. Sontak Bella berheti mengetik. Ia menatap Ares dengan sorot mata tidak suka.
“Maksud lo apa naroh ini deket gue? Lo nyuruh gue cuci? Gue bukan babu lo.”
Ares memutar bola mata dengan sebal. “Kenapa sih pikiran lo selalu jelek ke gue?”
“Lo nidurin gue di pertemuan pertama. Image apa yang lo harepin dari gue?” sindir Bella.
“Cih! Muak banget gue. Itu lagi yang dibahas,” decih Ares jengkel.
“Jangan taroh di sini. Gue lagi ngerjain skripsi. Gue nggak suka ada sampah yang ganggu penglihatan gue. Singkirin, buru!”
Ares melotot. “Apartemen ini punya gue. Terserah gue mau ngapain aja!”
“Lo pasti inget kan alasan kenapa gue di sini?” balas Bella tidak mau kalah.
“Stop! Stop! Gak usah dibahas lagi!”
“Gue akan selalu mengungkit. Dan gue harap lo sadar kenapa gue ada di sini sebagai istri lo,” sambar Bella tegas. Ia menunjuk wajah Ares dengan jengkel. “Lo pikir gue mau nikah muda gini?! Lo pikir, gue mau nikah terpaksa sama orang yang nggak gue cinta?! Hah?!”
Ares baru saja akan membalas. Namun mata Bella yang berkaca-kaca membuatnya mengurungkan niat.
“Gara-gara lo gue terjebak di sini. Lo pikir gue seneng?”
Ares menarik napas panjang. Tanpa berkata apa pun, ia menyambar wadah kue yang sudah kosong dan membawanya ke tempat pencucian piring. Ia kembali ke hadapan Bella.
“Udah. Puas lo?” kata Ares.
Bella diam saja dengan mata yang masih berkaca-kaca.
“Jangan bikin gue merasa bersalah,” ucap Ares akhirnya.
“Nggak.”
“Itu. Lo mau nangis.”
“Gue kesel sama keadaan!” balas Bella sengit.
“Ya udah. Berarti gue nggak perlu minta maaf,” ujar Ares.
Bella melotot. “Jadi lo nggak merasa bersalah sama perbuatan lo dulu?!”
“Mau lo apa sih?!” oceh Ares mulai marah.
“Mau gue, lo jangan nyebelin! Gue menderita di sini gara-gara lo! Seenggaknya bikin gue ngerasa nyaman kek di sini!”
“Kalo mau nyaman, lo boleh balik ke rumah kakak lo. Jangan di sini,” sahut Ares.
“Lo ngusir gue?!” tanya Bella tidak percaya.
“Nggak. Gue males aja denger ocehan lo. Gue ngomong apa pun jadi salah,” jawab Ares berusaha mengalah. “Sorry kalo lo nggak menemukan kenyamanan di sini. Lo boleh minta cerai.”
Mata Bella semakin membesar. Ia tidak percaya Ares akan mengungkit perceraian di pekan pertama ini. Mendadak airmatanya menetes.
“Ini baru pekan pertama! Kok lo udah bahas cerai aja sih?! Lo nggak mikirin nama baik lo dan keluarga gue?!”
Ucapan Bella tentang nama baik membuat Ares tertampar.
Oh, sial…. Ares lupa. Ia terlalu larut dalam rasa cintanya pada Anya sampai-sampai tidak memikirkan itu. Perceraian yang terlalu cepat bisa memicu kecurigaan publik. Untuk saat ini, publik memang belum tahu bahwa ia sudah menikah. Tapi di masa depan, Ares sadar betul. Akan ada orang-orang rese dan netizens julid yang mengulik hidupnya. Gawat….
“Gue tau,” jawab Ares pelan. “Tapi gue nggak bisa maksa lo buat di sini.”
Bella mengusap airmata.
“Sorry,” ucap Ares lagi.
Ares pun meninggalkan Bella sendirian di ruang tamu. Begitu pintu kamar tertutup, senyum miring Bella tersungging. Ia merapikan laptop, lalu kembali ke kamarnya sendiri.
***
Ares tetap tidak merasa bersalah atas pengkhianatannya malam itu.
Menurut versi Ares, ia tidak berselingkuh karena Anya adalah kekasihnya sejak awal. Setelah pertengkarannya dengan Bella, ia masih sempat melakukan video call dengan Anya dalam keremangan kamar.
“Sayang, aku udah kangen kamu lagi….”
Ares tersenyum. “Besok kita ketemu lagi, ya.”
“Nggak bisa. Besok aku mau ke Kuala Lumpur,” jawab Anya sedih.
“Kok baru bilang?”
Anya terkekeh. “Hehe, lupa. Untung tadi kita udah kangen-kangenan.”
“I love you. Jadi pengen peluk kamu lagi,” ucap Ares tersenyum penuh arti.
“Love you too, Sayang. Tidur gih. Kan katanya ada syuting pagi-pagi,” kata Anya.
“Nite, Baby,” pamit Ares melambaikan tangan ke arah kamera.
“Sweat dream, Sayang.”
“Sweat? Kamu ngarep aku mimpi apaan emang?” senyum Ares agak m***m.
Anya hanya tertawa kecil. “Napas kamu udah berat tuh. Udah yak. Kasian kamu kalo lama-lama liat aku. Bye.”
Ketika panggilan berakhir, barulah Ares menyadari maksud perkataan Anya. Napasnya terasa lebih berat dan terengah-engah. Tubuhnya terasa menghangat. Keringat mulai menembus pori, padahal kamarnya ber-AC.
“Anjir. Baru telponan doang udah gini gue…,” keluh Ares.
Ah, Ares jadi menyesal sudah menolak tawaran menginap dari Anya. Ia pikir hasrat dan kerinduannya pada Anya sudah tuntas. Ternyata ia salah. Sekarang ia bingung harus bagaimana. Satu-satunya jalan adalah… ponsel, sabun dan kamar mandi.
Dengan terpaksa, Ares keluar dari kamar dan bergegas ke kamar mandi. Namun tiba-tiba, apartemennya gelap gulita.
“Aaaa!!!” teriak Bella dari dalam kamar.
Tanpa pikir panjang, Ares menyalakan senter di ponsel dan berlari menuju kamar Bella.
“Bel! Bella! Lo kenapa?!” tanya Ares panik sambil menggedor pintu.
Pintu kamar Bella terbuka. Wajah Bella terlihat pucat pasi. Begitu melihat Ares, ia langsung memeluk pemuda itu. Ares terkejut.
“Lo kenapa sih?!” ulang Ares.
“Takuuuutttt…,” rengek Bella.
Pelukan Bella semakin kuat. Ares tidak bisa menolak.
“Kenapa? Lo liat hantu?” selidik Ares.
Bella menggeleng. “Takut gelap….”
Ares menarik napas panjang. “Ya ampun, kirain kenapa.”
“Jangan tinggalin gue…,” pinta Bella memelas.
Ares kebingungan. Pelukan Bella yang kuat dan wangi tubuh gadis itu membuat pikirannya semakin kacau. Hasratnya yang sudah tinggi, menjadi semakin melejit karena sentuhan dari Bella.
“Temenin gue di kamar,” ucap Bella merajuk.
Ares menelan ludah. Dengan cepat ia menepis pelukan Bella dan mundur selangkah. Sekarang gantian Bella yang bingung.
“Gue nggak bisa,” tolak Ares dengan napas semakin memburu.
Ares langsung kabur. Lari menuju kamarnya sendiri. Bella yang ketakutan justru mengejar Ares dan menyusul.
“Lo mau ngapain?!” tanya Ares panik ketika Bella ikut masuk ke kamar.
“Gue takut!” rengek Bella menyentuh tangan Ares.
“Nyalain lilin!” balas Ares ketar-ketir.
Gawat! Hasratnya semakin membumbung tinggi!
“Tetep takut…,” jawab Bella sangat memelas.
Ares menahan napas ketika lengannya tidak sengaja menyentuh d**a Bella. Ia ingin menolak. Namun hasrat yang meletup-letup dalam dirinya semakin sulit dikendalikan.
“Tumbenan banget mati lampu,” keluh Ares berusaha mengalihkan fokus.
Tapi sekeras apa pun ia berusaha, reaksi alamiah tubuhnya tidak bisa berbohong. Ares semakin berkeringat. Napasnya semakin terengah-engah. Perubahan itu disadari betul oleh Bella. Ia menatap Ares dengan bingung.
“Res, lo sakit?” tanya Bella.
“Nggak….”
Bella mengusap kulit Ares. Seketika darah Ares berdesir. Napasnya kian tersengal.
“Lo keringetan banget. Are you okay?” selidik Bella lagi.
Ares tidak menjawab. Bagaimana cara mengatakannya pada Bella? Bisa-bisa Bella menamparnya lagi. Lagipula, Bella sedang datang bulan. Tapi sumpah! Ares sangat butuh pelampiasan saat ini!
Napas Ares yang terengah-engah membuat Bella khawatir.
“Fix. Lo sakit,” ucap Bella langsung menarik Ares ke tempat tidur. Ia mendorong Ares ke ranjang. “Mending lo tidur deh.”
Tappp!
Ares menahan tangan Bella. Dicengkeramnya tangan gadis itu kuat-kuat. Bella mengernyitkan dahi. Mendadak Ares menarik Bella ke dalam pelukannya. Ia mencium bibir gadis itu.
Bella terkejut setengah mati. Ia merasa jantungnya akan meledak.
Ares melepaskan pagutannya. Masih dengan napas tersengal, ia berkata, “Sorry. Tapi gue butuh pelampiasan.”
Belum sempat Bella menjawab, Ares kembali membungkamnya dengan satu ciuman hangat. Bella jatuh dalam pesona Ares. Ia adalah pihak pertama yang begitu mendambakan Ares. Mustahil Bella bisa menolak.
Plakkk!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Ares. Yak! Rupanya Bella yang barbar telah kembali. Dan entah kenapa, Ares tidak terkejut dengan tamparan Bella. Ia mengelus pipinya. Di saat yang sama, listrik kembali menyala. Kamar Ares yang gelap pun mulai remang dengan cahaya lampu tidur.
“Kalo lo nggak mau. Lo bisa bilang baik-baik,” ucap Ares menghela napas. “Ini pipi. Bukan samsak tinju.”
Wajah Bella memerah. “Gue cuma kaget. Gue butuh penyesuaian.”
Jawaban Bella yang jinak-jinak merpati itu membuat Ares tersenyum miring. “Jadi sebenernya lo mau, kan?”
Bella tidak menyahut.
“Sebenernya gue nggak akan maksa. Lagian lo lagi haid. Gak mungkin gue ngelakuin sejauh itu sama lo,” sambung Ares masih berusaha keras menahan gejolak hasrat yang semakin membabi buta.
Ares memegang kepalanya dengan frustrasi. Tubuhnya semakin panas dan berpeluh. Sial!
Ia belum pernah merasakan hasrat segila itu! Rasanya ia ingin kembali ke apartemen Anya. Detik ini juga!
“Gue bohong,” ucap Bella tiba-tiba.
Ares menatap Bella dengan bingung.
Bella melanjutkan, “Gue lagi nggak haid. Gue sengaja bohongin lo biar bisa ngrepotin lo.”
Entah Ares harus lega atau marah. Ia ingin marah karena dikerjai oleh Bella. Tapi di sisi lain, ia lega karena….
Ugh!
Ares tidak ingin membayangkan ia bergumul dengan Bella. Tapi hormonnya sudah meronta-ronta dengan brutal. Akhirnya ia kembali menarik Bella ke dalam pelukannya.
“Jangan tampar gue lagi,” pinta Ares berbisik.
“Tergan—”
Cuppp!
Bibir merona Bella dibungkam sempurna oleh bibir Ares. Ia bisa merasakan daging tak bertulang Ares meliuk-liuk dalam rongga mulutnya. Rasanya tulang belulang Bella melemah. Semakin agresif Ares, semakin ia kesulitan bernapas.
Oh, gila! Ternyata Ares seliar itu!